telkomsel halo
finnet KTM

Kinerja Telkom mulai pulih di kuartal III 2018

17:16:58 | 29 Okt 2018
Kinerja Telkom mulai pulih di kuartal III 2018
Direktur Keuangan Telkom Harry M. Zen (dok)
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menunjukkan kinerja yang membaik di kuartal ketiga 2018 setelah sempat tertekan selama enam bulan belakangan karena adanya kebijakan registrasi prabayar dan mulai menurunnya kinerja legacy business (Suara dan SMS).

"Jika dilihat pertumbuhan kuartal ke kuartal (QoQ), kami mengalami pertumbuhan 8% dari sisi pendapatan. Ini diluar prediksi analis," ungkap Direktur Keuangan Telkom Harry M. Zen kala paparan kinerja di Jakarta, Senin (29/10).

Diungkapkannya, di kuartal tiga 2018, Telkom berhasil meraih pendapatan Rp34,8 triliun naik 8% dibandingkan kuartal II 2018 sebesar Rp32,2 triliun. Sementara analis dari Deutsche Bank hanya memprediksi pendapatan Telkom tumbuh 7% secara QoQ dan HSBC hanya di 2,3%.

Secara QoQ, di kuartal tiga 2018 Telkom meraih laba bersih Rp5,5 triliun turun 2,9% dibandingkan kuartal kedua 2018 sebesar Rp5,5 triliun.

Di kuartal III 2018, segmen bisnis mobile Telkomsel berhasil meraih pendapatan Rp23 triliun atau tumbuh 10,1% QoQ dibandingkan kuartal II 2018.

"Kalau dibandingkan dengan operator global, kami ini masih bagus kinerjanya di kuartal III 2018. Kenapa saya bilang bandingkan dengan peer di global, karena yang seperti Telkom dengan full lisensi dan bermain bisnis di semua lini tak ada di Indonesia. Anda harus lihat kondisi pemain di luar negeri yang memang tengah menghadapi masalah sama di era data ini," ulasnya.

Dari data yang dipaparkannya, terlihat Telkom untuk Earning Before Interest Depreciation Amortization (EBITDA) growth untuk kuartal kedua bagi operator di Asia masih positif. Telkom secara rata-rata EBITDA Growth masih tumbuh 4,8% jika dilihat dari kuartal I 2009 hingga kuartal kedua 2018. Bandingkan dengan Singapore Telecom yang hanya mengalami EBITDA Growth 2,2% di periode itu.

Telkom pun di Asia menunjukkan kinerja yang baik disisi kapitalisasi pasar dengan berada di peringkat ke-11 dengan US$24,5 miliar, EV/EBITDA Ratio di lima besar (7.1), dan P/E ratio nomor 4 (19.7 kali).  sangat baik pada kuartal III dengan pendapatan tumbuh 8,8% QoQ dibanding kuartal II 2018. Pendapatan yang naik signifikan ini sebagai hasil dari upaya monetisasi layanan data dan pengendalian biaya yang berjalan dengan baik. Sebagai hasilnya, EBITDA dan Net Income tumbuh cukup tinggi masing-masing sebesar 35,5% dan 86,7% QoQ dibanding kuartal II tahun ini.

Year On Year
Adapun jika merujuk ke laporan keuangan yang dipublikasikan Telkom ke Bursa Efek Indonesia (BEI), secara tahunan (Year on Year/YoY), Telkom mencetak laba bersih hingga sembilan bulan pertama 2018 sebesar Rp 14,23 triliun atau turun dari periode yang sama 2017 sebesar Rp 17,92 triliun.

Pendapatan Telkom hingga sembilan bulan pertama 2018 sebesar Rp99,2 triliun hanya naik 2,27% menjadi Rp 99,2 triliun dari periode sama tahun lalu Rp97 triliun.

"Kami tetap optimistis untuk akhir tahun ini Telkom Group akan tumbuh diantara 5-9%, sementara Telkomsel akan di atas rata-rata industri," katanya.

Direktur Keuangan Telkomsel Heri Supriadi menyatakan bisnis legacy masih menjadi tantangan bagi Telkomsel kedepannya di era data.

"Idealnya legacy business itu bagi pemain seperti Telkomsel tersisa menyumbang 36%, sekarang masih sekitar 44%. Kami prediksi hingga tahun depan masih akan turun 20%. Setelah itu baru tinggal sepertiganya. Kita akan offset penurunan ini dengan harga tarif data yang rasional, bermain di pasar enterprise, dan lainnya," ulasnya.

Harry menambahkan, untuk bisnis Digital Telkom semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan di sembilan bulan pertama tahun ini dengan capaian pertumbuhan sebesar 21,2%  dibanding periode yang sama tahun lalu, dengan mencatatkan kontribusi dominan sebesar 51,88% dari total pendapatan Perseroan.  

Kinerja segmen bisnis Fixed Line Telkom juga terus mengalami penguatan. Pada Sembilan bulan pertama di tahun 2018, pendapatan dari layanan IndiHome tercatat sebanyak Rp9 triliun atau meningkat 57,7% dari tahun lalu.

Kontribusi ini diraih berkat peningkatan produktivitas tenaga sales dan teknisi, diversifikasi produk yang menarik dan konten-konten berkualitas, serta sistem IT yang semakin andal. Average Revenue Per User (ARPU) IndiHome juga meningkat dari Rp251 ribu pada kuartal II 2018 menjadi Rp 258 ribu pada kuartal III 2018.

Selama sembilan bulan pertama 2018, pelanggan IndiHome bertambah 1,7 juta, sehingga total pelanggan hingga akhir September 2018 mencapai 4,7 juta atau meningkat 101,2% dibandingkan tahun lalu, di mana 52% di antaranya merupakan pelanggan layanan Triple Play.

Sementara itu, untuk segmen bisnis Enterprise, dalam sembilan bulan pertama ini terdapat peningkatan pendapatan sebesar 18,9% YoY.

Pertumbuhan di segmen ini diproyeksikan terus menguat seiring dengan tren digitalisasi bisnis di berbagai perusahaan-perusahaan di Indonesia. Telkom berada di posisi yang strategis dalam mendukung tren digitalisasi tersebut, karena kami memiliki jaringan konektivitas, data centers, hingga menyediakan beragam platform dan solusi berbasis teknologi digital yang terintegrasi.

Di sisi lain, segmen bisnis Wholesale and International juga mengalami peningkatan 32,6% dari periode yang sama di tahun 2017. Segmen ini ditargetkan terus tumbuh hingga akhir tahun 2018, didukung oleh infrastuktur terutama backbone, baik domestik dan internasional.

Sampai dengan akhir tahun 2018, Telkom mengalokasikan capital expenditure (capex) sekitar 25% dari total pendapatan Perseroan. Alokasi belanja modal terbanyak digunakan untuk mendukung bisnis broadband.

“Telkom terus fokus memperkuat infrastruktur untuk meningkatkan kualitas layanan yang mendukung excellent customer experience. Dengan jaringan infrastruktur yang kuat dan andal, diharapkan Perseroan dapat menciptakan sustainable competitive growth dalam jangka panjang,” tutup Harry M. Zen.(ad)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
More Stories
telkom sigma