☰
✕

Adopsi AI dan belanja digital kian meluas di Indonesia

JAKARTA (IndoTelko) - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), media sosial, dan layanan belanja digital semakin mengubah perilaku masyarakat Indonesia. Laporan Digital 2027: Indonesia yang dirilis We Are Social bersama Meltwater mencatat jumlah pengguna internet di Tanah Air mencapai 231 juta orang atau setara 80,2% dari total populasi.

Laporan yang diterbitkan pada 5 November 2026 tersebut memotret perubahan pola masyarakat dalam menggunakan internet, media sosial, dan teknologi digital untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Jumlah identitas pengguna media sosial di Indonesia tercatat mencapai 240 juta atau sekitar 83,2% dari populasi. Sementara itu, pengguna internet berusia 16 tahun ke atas mengakses rata-rata 7,5 platform media sosial setiap bulan. Capaian tersebut menempatkan Indonesia pada posisi kedelapan tertinggi dalam laporan.

WhatsApp masih mendominasi penggunaan aplikasi komunikasi di Indonesia. Sebanyak 92,7% pengguna internet menggunakan platform tersebut dengan rata-rata waktu akses mencapai 1 jam 55 menit per hari. Durasi tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan negara lain dalam laporan.

Instagram dan TikTok juga menjadi platform yang banyak digunakan masyarakat. Selain untuk berkomunikasi dan menikmati konten, media sosial turut menjadi sarana pencarian informasi produk dan perusahaan. Sebanyak 60% pengguna internet mengandalkan jejaring sosial untuk mencari informasi mengenai merek.

Adopsi AI Semakin Meluas

Pemanfaatan AI juga menunjukkan penetrasi yang tinggi. Laporan Digital 2027 mencatat 94,9% pengguna internet berusia 16 tahun ke atas di Indonesia telah menggunakan perangkat AI dalam satu bulan terakhir. Angka tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat keempat tertinggi.

Penggunaan AI turut merambah aktivitas kreatif. Sebanyak 43,7% pengguna AI memanfaatkan teknologi tersebut untuk membuat atau menyempurnakan gambar dan video. Sementara itu, ChatGPT dan Google Gemini masing-masing digunakan oleh hampir separuh pengguna internet Indonesia.

Meski adopsi AI tergolong tinggi, tingkat kenyamanan masyarakat dalam menggunakan teknologi tersebut masih berkembang. Sebanyak 47,2% pengguna internet meyakini AI memberikan manfaat bagi masyarakat. Persentase ini menjadi yang tertinggi di antara negara-negara yang disurvei.

Namun, tingkat kenyamanan menggunakan AI secara langsung baru mencapai 28,3%, masih di bawah rata-rata global. Temuan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara optimisme masyarakat terhadap manfaat AI dan kesiapan mereka menggunakannya.

Belanja Online dan BNPL Menonjol

Aktivitas digital masyarakat juga semakin terhubung dengan sektor perdagangan dan hiburan. Sebanyak 95,6% pengguna internet di Indonesia bermain video game, menempatkan Indonesia pada posisi kedua setelah Filipina.

Di sektor perdagangan, 73,1% pengguna internet menyatakan lebih memilih berbelanja secara online dibandingkan mengunjungi toko fisik. Persentase tersebut menjadi yang tertinggi kedua dalam laporan.

Penggunaan layanan buy now, pay later (BNPL) juga menonjol. Sebanyak 34,7% pengguna internet memanfaatkan layanan pembayaran tersebut setiap minggu, atau lebih dari dua kali lipat rata-rata global.

Perilaku konsumen dalam mencari informasi sebelum bertransaksi turut menjadi karakteristik pasar digital Indonesia. Lebih dari dua pertiga pengguna internet melakukan riset online mengenai merek dan produk sebelum membeli. Sebanyak 28,2% bahkan menjadikan AI sebagai sumber utama untuk melakukan riset merek.

Namun, tingginya aktivitas digital belum tentu memudahkan perusahaan menjangkau konsumen melalui komunikasi pemasaran. Laporan tersebut mencatat 39,4% pengguna internet Indonesia menggunakan ad blocker, tertinggi di antara negara-negara yang disurvei. Di sisi lain, hanya 13,2% responden merasa terwakili oleh iklan yang mereka lihat.

APAC Vice President of Enterprise Sales Meltwater Mimrah Mahmood mengatakan masyarakat Indonesia semakin aktif memanfaatkan teknologi digital, tetapi tetap selektif dalam menerima informasi.

Menurutnya, kepercayaan terhadap informasi dan relevansi komunikasi menjadi faktor penting dalam membangun hubungan antara merek dan konsumen.

Managing Director We Are Social Indonesia Yudhi Hastiardi menilai perubahan perilaku pencarian informasi membuat perusahaan perlu memperhatikan bagaimana merek mereka ditampilkan di berbagai sumber, termasuk platform AI.

Ia mengatakan kredibilitas informasi dan percakapan publik mengenai suatu merek semakin berperan dalam membentuk persepsi konsumen, selain pesan yang disampaikan langsung oleh perusahaan.

Laporan Digital 2027: Indonesia menunjukkan perkembangan ekosistem digital tidak hanya ditandai oleh peningkatan jumlah pengguna internet, tetapi juga perubahan cara masyarakat berkomunikasi, mencari informasi, menikmati hiburan, berbelanja, dan melakukan pembayaran.

Bagi pelaku bisnis, perubahan tersebut membuka peluang untuk mengembangkan strategi digital yang lebih relevan dan kredibel. Perusahaan juga perlu memperkuat kepercayaan konsumen di tengah semakin beragamnya kanal informasi dan perubahan perilaku masyarakat. (mas)