☰
✕

Pertamina kembangkan 310 desa energi berdikari

JAKARTA (IndoTelko) - PT Pertamina (Persero) telah mengembangkan 310 desa melalui program Desa Energi Berdikari (DEB) dengan mengintegrasikan pemanfaatan energi terbarukan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sebanyak 24 desa lainnya masih dalam proses pengembangan.

Program yang berjalan sejak 2018 tersebut merupakan bagian dari inisiatif Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina. Pengembangannya disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayah, mulai dari sektor pangan, pesisir, hingga pariwisata.

Salah satu penerapan program terlihat di Desa Tumpak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Bersama masyarakat, Burhanudin mendorong penghijauan kembali kawasan hutan lindung yang sempat mengalami kerusakan pada 2018. Kini, sekitar 30 ribu pohon telah tumbuh di kawasan tersebut.

Upaya pelestarian lingkungan itu sekaligus membuka peluang ekonomi melalui peternakan, ekowisata, serta pengolahan produk turunan kelapa, seperti cocopeat, virgin coconut oil (VCO), dan briket.

Berbagai kegiatan tersebut melibatkan sekitar 60 tenaga kerja dan menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp60 juta per tahun. Aktivitas masyarakat juga didukung pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp.

Penerapan energi terbarukan juga membawa perubahan di Dusun Bondan, Cilacap, Jawa Tengah. Sebelum 2017, wilayah tersebut belum memiliki akses listrik. Warga bahkan harus menempuh perjalanan sekitar 7 kilometer menggunakan perahu untuk memperoleh air bersih.

Kondisi tersebut berubah setelah pembangkit listrik tenaga hibrida (PLTH) hadir di wilayah itu. Selain memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga, energi yang dihasilkan digunakan untuk mengoperasikan aerator tambak dan teknologi desalinasi yang mengolah air payau menjadi air bersih.

Masyarakat juga memperoleh pelatihan pengolahan hasil tambak. Sementara itu, keberlanjutan operasional pembangkit didukung koperasi desa melalui iuran Rp25 ribu per keluarga setiap bulan.

Penggerak masyarakat Dusun Bondan Jamaludin mengatakan program tersebut telah memberikan manfaat nyata bagi warga. Dusun Bondan bahkan menjadi lokasi pembelajaran bagi mahasiswa Politeknik Negeri Cilacap.

Target 732 Desa pada 2030

VP CSR & SMEPP Management Pertamina Rudi Ariffianto menjelaskan DEB dikembangkan melalui tiga kategori, yakni Ketahanan Pangan, Pesisir Modern, dan Wisata Energi. Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap melalui klasifikasi DEB Putih, Hijau, Biru, hingga Siap Mandiri.

Dari 310 desa yang telah dikembangkan, sekitar 60% berada di luar Pulau Jawa. Pertamina menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 334 desa pada akhir 2026 dan mencapai 732 desa pada 2030.

Teknologi energi yang digunakan mencakup tenaga surya, biogas, mikrohidro, biodiesel, hingga pembangkit hibrida. Secara keseluruhan, fasilitas tersebut menghasilkan kapasitas listrik sebesar 1,595 juta Wp dan produksi biogas mencapai 973 ribu meter kubik.

Dampak ekonomi program juga terlihat pada sektor pangan dan perikanan. DEB menghasilkan lebih dari 21 ribu ton beras dan 5 ribu ton komoditas nonberas dari lahan seluas sekitar 2.000 hektare. Sementara itu, DEB Pesisir Modern berkontribusi terhadap produksi ikan tangkap sebanyak 390 ton per tahun.

Secara keseluruhan, nilai ekonomi kerakyatan yang dihasilkan mencapai lebih dari Rp26 miliar per tahun dengan jumlah penerima manfaat lebih dari 283 ribu orang.

Sejumlah desa juga mengembangkan potensi wisata sebagai sumber pendapatan. Ekowisata DEB Uma Palak di Denpasar menghasilkan sekitar Rp540 juta per tahun, sedangkan Kampung Kepiting di Cilacap mencatat pendapatan Rp601 juta per tahun.

Untuk menjaga keberlanjutan operasional teknologi, Pertamina memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola fasilitas energi terbarukan. Hingga kini, sebanyak 223 penggerak masyarakat atau local hero telah memperoleh sertifikasi sebagai operator energi baru terbarukan (EBT).

Dampak program juga terlihat pada peningkatan produktivitas pertanian di Desa Keliki, Ubud. Frekuensi panen padi yang sebelumnya hanya sekali dalam setahun meningkat menjadi tiga kali. Sementara itu, hasil panen disebut naik dari 34 ton menjadi 7 ton per hektare.

Di sisi lain, DEB Watumite di Ende berperan menjaga ketersediaan listrik dan akses internet ketika terjadi bencana.

Dari aspek lingkungan, program DEB diklaim berkontribusi terhadap pengurangan emisi lebih dari 1,1 juta ton CO2 ekuivalen serta pengelolaan 145 ribu ton sampah per tahun.

Pengembangan program turut melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak. Bersama 13 perguruan tinggi, Pertamina telah menghadirkan 40 jenis teknologi tepat guna yang diterapkan di 134 desa.

Melalui DEB, Pertamina berupaya menjadikan energi terbarukan sebagai penggerak ekonomi masyarakat pedesaan. Selain memperluas akses energi, program ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, membuka peluang usaha, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.(wn)