☰
✕

Vertiv petakan empat model infrastruktur untuk implementasi AI

JAKARTA (IndoTelko) - Vertiv memperkenalkan panduan baru untuk membantu perusahaan menentukan infrastruktur fisik yang sesuai dengan kebutuhan implementasi artificial intelligence (AI), mulai dari tahap pengembangan hingga operasional produksi.

Panduan bertajuk Designing Infrastructure for Enterprise AI Guide ini dikembangkan bersama STL Partners dengan dukungan riset dan kolaborasi Vertiv serta Deloitte Center for Integrated Research. Kerangka tersebut membantu perusahaan mencocokkan karakteristik beban kerja AI dengan lokasi dan model infrastruktur yang tepat.

Vertiv menilai kesiapan infrastruktur menjadi faktor penting dalam memperluas penggunaan AI. Ketersediaan daya, sistem pendinginan, konektivitas, serta kapasitas operasional dapat menentukan apakah suatu beban kerja dapat dijalankan di fasilitas yang sudah tersedia atau memerlukan lingkungan berbeda.

Panduan ini menawarkan empat tahapan perencanaan, yakni menetapkan tujuan bisnis dan beban kerja AI, mengevaluasi kebutuhan performa dan operasional, menentukan lokasi implementasi, serta memilih model infrastruktur fisik yang sesuai.

Riset tersebut mengelompokkan kebutuhan AI perusahaan ke dalam enam arketipe beban kerja. Setiap arketipe kemudian dapat dipetakan ke empat model infrastruktur, yaitu Edge AI Cluster, Small AI Cluster, Large AI Cluster, dan High-Density AI Cluster.

Pendekatan ini memungkinkan perusahaan memilih berbagai lingkungan implementasi, seperti public cloud, colocation, infrastruktur milik sendiri, hybrid, hingga edge. Beban kerja yang masih dalam tahap eksplorasi dapat memanfaatkan cloud, sedangkan kebutuhan yang menuntut respons cepat, kontrol lebih tinggi, atau kedekatan dengan sumber data dapat memerlukan infrastruktur edge maupun lingkungan terkontrol.

CEO Vertiv, Giordano Albertazzi, mengatakan keberhasilan implementasi AI tidak hanya ditentukan oleh model dan kemampuan komputasi, tetapi juga kesiapan daya, pendinginan, konektivitas, serta lingkungan operasional. Perencanaan berdasarkan karakteristik beban kerja dinilai dapat membantu perusahaan mengenali keterbatasan infrastruktur sejak awal.

Senada, Nicholas Merizzi, Principal dan Silicon2Service U.S. Lead di Deloitte Consulting LLP, menekankan perlunya mempertimbangkan nilai bisnis, tata kelola, kepemilikan operasional, dan infrastruktur secara bersamaan ketika AI beralih ke tahap produksi.

Panduan tersebut juga membantu perusahaan menilai kesiapan fasilitas, termasuk kapasitas daya dan pendinginan, konektivitas, dukungan operasional, serta ruang untuk ekspansi. Evaluasi sejak tahap perencanaan diharapkan dapat mengurangi risiko hambatan ketika implementasi AI diperluas.

Dokumen lengkap Designing Infrastructure for Enterprise AI Guide mencakup enam arketipe beban kerja, empat model infrastruktur fisik, serta roadmap empat fase untuk merencanakan dan mengembangkan infrastruktur AI perusahaan. Panduan dapat diakses melalui situs resmi Vertiv. (mas)