JAKARTA (IndoTelko) Ant International menilai kecerdasan buatan (AI) berpotensi mempercepat inklusi ekonomi dengan membuka akses yang lebih luas bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk bersaing di pasar global.
CEO Ant International, Peng Yang, menyampaikan hal tersebut dalam panel “Investing in AI for an Inclusive Digital Future” pada World Investment Forum 2026 yang diselenggarakan United Nations Trade and Development (UNCTAD).
Menurut Yang, gelombang globalisasi sebelumnya lebih banyak menguntungkan perusahaan besar. Sementara itu, UMKM masih menghadapi keterbatasan teknologi, sumber daya manusia, dan akses terhadap layanan keuangan lintas negara.
Data World Trade Organization (WTO) menunjukkan hanya 8% perusahaan kecil dan 15% perusahaan menengah yang melakukan ekspor secara langsung, dibandingkan 30% perusahaan besar. Kesenjangan adopsi AI juga terlihat dalam survei Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2025, yang mencatat penggunaan AI mencapai 52% di perusahaan besar dan 17,4% di perusahaan kecil.
Ant International mengklaim telah melayani lebih dari satu juta pedagang kecil baru dari 54 pasar dalam tiga tahun terakhir. Perusahaan juga mencatat volume transaksi lintas negara UMKM di seluruh lini bisnisnya tumbuh sekitar 50% per tahun, atau sekitar 10 kali laju pertumbuhan perdagangan global.
Ant International memproses sekitar 25 juta transaksi setiap hari melalui layanan pembayaran global, rekening internasional, pembiayaan tertanam, dan digitalisasi. Sebanyak 95% dari 150 juta merchant dalam basis pelanggan globalnya merupakan UMKM.
Untuk memperluas akses tersebut, perusahaan mengembangkan solusi berbasis AI yang mencakup pengelolaan valuta asing, pembayaran, rekening global, hingga otomatisasi operasional bisnis.
Salah satunya adalah model prediksi valuta asing Falcon TST yang diklaim memiliki tingkat akurasi prediksi secara konsisten di atas 93%. Teknologi ini dirancang membantu pelaku usaha mengelola transaksi lintas negara dan mengurangi risiko perubahan nilai tukar.
Melalui WorldFirst Autopilot, UMKM juga dapat mengoptimalkan aktivitas keuangan dan mengakses layanan mitra melalui interaksi menggunakan bahasa sehari-hari. Sementara itu, Antom Autopilot memanfaatkan AI untuk mendukung proses pembayaran, mulai dari pendaftaran merchant, integrasi sistem, analisis, pengelolaan risiko, hingga rekonsiliasi transaksi.
Pada layanan penyelesaian sengketa pembayaran, fitur SmartDispute diklaim mampu membantu merchant mencapai tingkat keberhasilan pengajuan banding sebesar 41,8%, dibandingkan 24,5% tanpa menggunakan fitur tersebut. Adapun AutoDispute membantu merchant memulihkan rata-rata 18% kerugian akibat chargeback.
Di sektor pembayaran digital, Alipay+ menghubungkan lebih dari 50 dompet digital dengan lebih dari 150 juta merchant di seluruh dunia. Platform ini juga memanfaatkan pemasaran berbasis AI untuk membantu UMKM menjangkau konsumen internasional, baik melalui kanal digital maupun toko fisik.
Ant International turut menyoroti pentingnya keamanan dan kepercayaan dalam penerapan AI, khususnya ketika agen AI mulai menangani transaksi keuangan. Perusahaan bekerja sama dengan sejumlah lembaga dan mitra industri untuk mengembangkan teknologi perlindungan privasi, penerapan AI yang bertanggung jawab, serta interoperabilitas sistem verifikasi agen AI.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Antom AgentSafePay, solusi yang memverifikasi maksud pembelian secara real time dan menyediakan perlindungan terhadap kerugian tertentu akibat kesalahan interpretasi atau serangan terhadap agen AI, sesuai ketentuan layanan.
Yang menegaskan, kolaborasi antara perusahaan teknologi, industri keuangan, regulator, dan lembaga internasional diperlukan untuk memastikan AI berkembang secara aman dan inklusif. Dengan akses teknologi yang lebih luas, UMKM diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperbesar peluang berpartisipasi dalam perdagangan global. (mas)