☰
✕

InfraNexia bidik konektivitas Data Center hingga 800G pada 2030

JAKARTA (IndoTelko) - PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia), operating company PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, memperkuat infrastruktur konektivitas untuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan artificial intelligence (AI) di Indonesia. Pengembangan mencakup peningkatan kapasitas jaringan, perluasan layanan data center interconnect (DCI), serta penguatan keandalan konektivitas.

Direktur Planning InfraNexia, Ronny Arnaz, mengatakan perkembangan AI membutuhkan jaringan yang mampu menghubungkan pusat data, penyedia layanan, dan pengguna secara andal. Infrastruktur tersebut menjadi fondasi untuk mendukung pertukaran dan pemrosesan data dalam volume besar dengan cepat.

Dalam sesi panel Bali Tech Week 2026 pada 22 Oktober 2026, Ronny menjelaskan bahwa InfraNexia terus meningkatkan kapasitas dan jangkauan jaringan guna mengimbangi pertumbuhan kebutuhan pelanggan.

Saat ini, InfraNexia telah menghubungkan kawasan Hyperscale Data Center (HDC) di Cikarang dan Batam ke jaringan backbone nasional. Infrastruktur di Cikarang mencakup 76 kilometer jaringan dark fiber, sedangkan di Batam tersedia 96 kilometer jaringan fiber untuk mendukung konektivitas pusat data.

Layanan DCI tersebut didukung konektivitas berlatensi rendah di bawah dua milidetik untuk mempercepat pertukaran data antarpusat data.

Tingkatkan Kapasitas dan Keandalan Jaringan

Untuk mengantisipasi peningkatan trafik, InfraNexia memprioritaskan penambahan kapasitas pada 14 jalur data center dengan trafik tertinggi sepanjang 2026.

Perusahaan juga menargetkan pengembangan teknologi DCI berkapasitas hingga 800G per panjang gelombang pada 2030. Perluasan jaringan direncanakan menjangkau rute BatamBintan pada 2027 dan Kalimantan pada 2028.

Selain peningkatan kapasitas, InfraNexia memperkuat keandalan jaringan melalui penyediaan jalur alternatif dengan rute darat dan laut yang berbeda. Strategi ini ditujukan untuk mengurangi risiko gangguan yang berdampak pada beberapa jalur sekaligus serta memungkinkan pengalihan trafik ketika terjadi kondisi kahar atau force majeure.

InfraNexia juga menerapkan prinsip netralitas dan keterbukaan akses. Dengan pendekatan tersebut, operator telekomunikasi, penyedia layanan cloud, dan penyedia AI dapat memanfaatkan jaringan dengan ketentuan layanan yang setara.

Ronny menyatakan penguatan konektivitas diharapkan membuka peluang bagi lebih banyak mitra untuk mengembangkan layanan AI di Indonesia. Infrastruktur yang andal dan terbuka juga diharapkan memperluas pemanfaatan teknologi tersebut ke berbagai sektor industri dan wilayah.

Melalui pengembangan kapasitas, perluasan jangkauan, dan peningkatan ketahanan jaringan, InfraNexia berupaya menyiapkan fondasi konektivitas untuk mendukung kebutuhan ekosistem AI nasional yang terus berkembang. (mas)