☰
✕

Literasi asuransi masih tertinggal

JAKARTA (IndoTelko) Tingkat inklusi keuangan Indonesia mencapai 93,61% pada 2026, tetapi indeks literasi keuangan baru menyentuh 69,57%. Kesenjangan ini menunjukkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan belum sepenuhnya diikuti pemahaman yang memadai mengenai manfaat dan risiko produk keuangan.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis OJK, LPS, dan BPS mencatat kesenjangan serupa di sektor perasuransian. Indeks inklusi asuransi mencapai 29,55%, sedangkan indeks literasinya berada di level 42,84%.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pemahaman masyarakat mengenai asuransi belum sepenuhnya tercermin dalam kepemilikan produk perlindungan. Padahal, proteksi menjadi salah satu instrumen perencanaan keuangan untuk mengantisipasi risiko yang dapat mengganggu stabilitas finansial keluarga.

Kesenjangan antara pengetahuan dan kepemilikan produk juga terlihat pada generasi muda. Survei literasi keuangan IFG Progress terhadap responden berusia 1825 tahun, yang mayoritas merupakan mahasiswa, menunjukkan 96% responden mengetahui produk tabungan dan 94% telah memilikinya.

Namun, pemahaman terhadap asuransi masih lebih rendah. Hanya 34,5% responden yang mengetahui produk asuransi, sementara tingkat kepemilikannya tercatat sebesar 9%.

Corporate Secretary IFG Life Gatot Haryadi menilai, peningkatan inklusi keuangan tidak cukup hanya dengan memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan. Pemahaman mengenai manfaat produk dan kemampuan menentukan perlindungan yang sesuai juga perlu diperkuat.

Menurutnya, literasi asuransi perlu mencakup pemahaman tentang fungsi proteksi dalam menjaga ketahanan finansial. Risiko penyakit, kecelakaan, kehilangan penghasilan, hingga meninggal dunia dapat mengganggu kondisi keuangan keluarga apabila tidak dipersiapkan dengan baik.

“Proteksi bukan pengganti tabungan atau investasi. Perannya adalah membantu menghadapi dampak finansial saat risiko terjadi, sehingga masyarakat tidak harus menguras tabungan, menjual aset, atau mengorbankan tujuan hidup yang direncanakan,” ujar Gatot.

IFG Life mendorong peningkatan literasi keuangan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perlindungan pada berbagai tahap kehidupan. Perusahaan juga berupaya menyediakan solusi proteksi sesuai kebutuhan masyarakat, termasuk perlindungan terhadap penyakit kritis dan perencanaan pensiun.

Perlindungan tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat mengantisipasi risiko kesehatan sekaligus mempersiapkan kondisi finansial pada masa mendatang.

IFG Life menilai, pemahaman mengenai proteksi sejak dini dapat membantu masyarakat menyusun perencanaan keuangan yang lebih menyeluruh. Upaya ini menjadi penting agar masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap produk keuangan, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk mengelola risiko, menjaga kesejahteraan keluarga, dan mencapai tujuan finansial jangka panjang. (mas)