JAKARTA (IndoTelko) Industri gim Indonesia berpotensi menghasilkan nilai tambah ekonomi hingga US$3,3 miliar atau sekitar Rp59 triliun pada 2030, dengan dukungan terhadap 476.600 lapangan kerja jika pertumbuhannya dipercepat. Namun, realisasi potensi tersebut bergantung pada kemampuan Indonesia memperkuat pengembang lokal, memperluas pembiayaan, dan meningkatkan kontribusi produksi gim terhadap nilai ekonomi industri.
Proyeksi tersebut tertuang dalam white paper berjudul The Video Game Industry: Unlocking the Next Level of Economic and Social Development in Southeast Asia, yang disusun Access Partnership bersama Tencent dan dipaparkan dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta.
Studi tersebut menganalisis rantai nilai industri gim di lima negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Analisis mencakup pengembangan dan penerbitan gim, perangkat keras dan periferal, ritel, hingga esports.
Secara regional, industri gim Asia Tenggara diproyeksikan menghasilkan nilai tambah US$12,2 miliar atau sekitar Rp219,6 triliun pada 2030 serta mendukung sekitar 1,01 juta lapangan kerja. Nilai tersebut berpotensi meningkat jika pemerintah dan pelaku industri memperkuat kebijakan pendukung serta menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Pengembang Lokal
Di Indonesia, industri gim diperkirakan mencatat pendapatan US$1,3 miliar atau sekitar Rp23,4 triliun pada 2025. Kontribusi ekonominya mencapai US$1,8 miliar atau Rp32,4 triliun, dengan dukungan sekitar 257.400 lapangan kerja.
Namun, struktur industri menunjukkan bahwa sebagian besar nilai ekonomi masih berasal dari perangkat keras dan periferal yang menyumbang 47%. Esports berkontribusi 24%, ritel 22%, sedangkan pengembangan dan penerbitan gim hanya mencakup 7%.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa peluang Indonesia tidak hanya terletak pada pertumbuhan pasar gim, tetapi juga pada peningkatan kapasitas untuk memproduksi dan menerbitkan gim sendiri. Penguatan pengembang lokal dan kekayaan intelektual (intellectual property/IP) dinilai penting agar lebih banyak nilai ekonomi dapat dihasilkan di dalam negeri.
Dalam skenario pertumbuhan moderat, nilai tambah industri gim Indonesia diproyeksikan mencapai US$2,8 miliar pada 2030 dengan dukungan sekitar 416.600 lapangan kerja. Jika pertumbuhan dapat dipercepat, nilainya berpotensi meningkat menjadi US$3,3 miliar dengan dukungan terhadap 476.600 lapangan kerja.
Untuk mencapai skenario tersebut, laporan mengidentifikasi tiga prioritas kebijakan. Pertama, memperluas akses pembiayaan bagi studio gim lokal melalui hibah pembuatan prototipe, pendanaan pendamping, dan pinjaman berbunga ringan.
Kedua, menyederhanakan proses pendaftaran, penilaian, dan pembiayaan IP agar pengembang dapat mengomersialkan karya serta mempertahankan lebih banyak nilai ekonomi. Ketiga, memperkuat pengembangan talenta melalui kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri, program penempatan kerja, dan dukungan penjajakan bisnis internasional.
Director of Global Public Affairs (APAC) Tencent, Monrawee Ampolpittayanant, mengatakan Indonesia memiliki peluang untuk mengubah besarnya pasar domestik menjadi ekosistem produksi dan kreativitas yang lebih kuat.
Menurutnya, pengembang lokal membutuhkan dukungan agar mampu menciptakan IP orisinal, membangun bisnis berkelanjutan, dan menjangkau audiens global.
Laporan tersebut menekankan bahwa pertumbuhan industri gim tidak cukup mengandalkan peningkatan permintaan. Akses pembiayaan, ketersediaan talenta, perlindungan pengguna, dan kebijakan yang mendorong inovasi serta investasi juga diperlukan untuk memperkuat daya saing industri.
Dengan memperbesar kontribusi pengembangan dan penerbitan gim lokal, Indonesia berpeluang meningkatkan nilai ekonomi yang dipertahankan di dalam negeri sekaligus memperkuat posisinya dalam rantai nilai industri gim global. (mas)