☰
✕

Asia berpeluang unggul dalam penerapan AI di sektor ekonomi riil

JAKARTA (IndoTelko) - Persaingan dalam industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) diperkirakan bergeser dari pengembangan teknologi yang semakin canggih menuju kemampuan menghasilkan dampak bisnis dan sosial yang terukur.

DBS Group Research, dalam laporan terbaru bertajuk Intentional AI: Connecting Intelligence, Capital and Outcomes, menilai bahwa semakin luasnya akses terhadap kemampuan AI akan membuat kecerdasan semata kian sulit menjadi sumber keunggulan kompetitif. Ke depan, perusahaan akan lebih ditentukan oleh kemampuannya memilih persoalan yang tepat untuk diselesaikan dan menerjemahkan teknologi menjadi hasil nyata.

Laporan tersebut menyebutkan, fase berikutnya dari ekonomi AI tidak hanya ditentukan oleh pihak yang mampu menghasilkan kecerdasan terbesar, tetapi juga oleh pihak yang paling efektif memanfaatkannya untuk menjawab kebutuhan dunia nyata.

Bagi Asia, perubahan ini membuka peluang pertumbuhan di sejumlah sektor strategis, terutama penanganan populasi menua, ketahanan iklim, layanan kesehatan, dan inklusi keuangan. Berbagai tantangan tersebut dinilai dapat menjadi pendorong inovasi, investasi, serta pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Di Indonesia, peluang penerapan AI berorientasi hasil dinilai relevan untuk memperluas akses layanan keuangan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta masyarakat yang belum terlayani secara optimal oleh sektor keuangan formal. Teknologi ini juga berpotensi mendukung upaya meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap risiko iklim.

Dengan meningkatnya adopsi layanan digital dan bertambahnya populasi lanjut usia secara bertahap, Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan AI dalam menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat sektor ekonomi.

Asia Unggul dalam Penerapan AI di Sektor Riil

DBS Group Research menilai keunggulan AI pada masa mendatang akan semakin bergantung pada kemampuan mengidentifikasi masalah yang penting, kemudian menyelaraskan teknologi, modal, tata kelola, dan pelaksanaan untuk menyelesaikannya.

Laporan tersebut mencatat Asia menyumbang 74% dari total instalasi robot industri global pada 2024. Angka itu jauh di atas Eropa sebesar 16% dan kawasan Amerika sebesar 9%.

Data tersebut menggambarkan posisi Asia dalam penerapan teknologi yang terhubung langsung dengan aktivitas ekonomi, termasuk manufaktur dan sistem fisik. Ketika AI berkembang dari teknologi yang berfungsi memprediksi menjadi sistem yang dapat melakukan tindakan, kemampuan implementasi dinilai semakin penting.

Namun, aliran investasi AI masih terkonsentrasi di kawasan tertentu. Perusahaan AI menghimpun sekitar US$270 miliar pendanaan modal ventura pada 2025, dengan hampir 80% mengalir ke Amerika Utara dan 5,7% ke Asia.

Menurut DBS Group Research, kondisi tersebut memperlihatkan peluang bagi Asia untuk memperkuat penciptaan nilai melalui penerapan AI, terutama pada sektor yang menghadapi tantangan besar dan membutuhkan solusi praktis.

Ketahanan Iklim dan Inklusi Keuangan Jadi Peluang

Ketahanan iklim dan inklusi keuangan menjadi dua bidang yang berpotensi menciptakan pasar pertumbuhan bagi penerapan AI di Asia.

Dalam penanganan risiko iklim, misalnya, kemampuan AI menghasilkan prakiraan cuaca yang lebih akurat akan memberikan nilai lebih besar apabila dapat diterjemahkan menjadi langkah mitigasi dan peningkatan kesiapsiagaan. Sementara itu, di sektor keuangan, AI berpotensi memperluas akses layanan sekaligus membantu masyarakat mengambil keputusan ekonomi yang lebih baik.

Laporan tersebut juga menempatkan penuaan populasi dan akses layanan kesehatan sebagai tantangan yang dapat membuka peluang inovasi bagi perusahaan maupun investor. Keberhasilan penerapan teknologi akan ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan perubahan yang dapat diukur, bukan semata-mata kecanggihan model yang digunakan.

Sementara itu, Singapura dinilai berpeluang memperkuat posisinya sebagai pusat integrasi tepercaya bagi ekosistem AI Asia. Keunggulan negara tersebut bukan terutama terletak pada persaingan dalam skala teknologi, melainkan pada kemampuannya menghubungkan inovasi, manufaktur, penerapan teknologi, keuangan, penjaminan, dan tata kelola.

DBS Group Research menilai Singapura dapat berperan dalam mendorong inovasi Asia agar lebih tepercaya, kompatibel lintas sistem (interoperable), serta menarik bagi investasi lintas negara.

Secara keseluruhan, laporan ini menekankan bahwa ketika kemampuan AI semakin mudah diakses, keunggulan kompetitif akan semakin ditentukan oleh ketepatan memilih masalah, kualitas penerapan, dan kemampuan mengubah kecerdasan menjadi manfaat yang nyata bagi bisnis dan masyarakat. (mas)