☰
✕

Dorong industri hijau, SCG perkuat kolaborasi ESG di Indonesia

JAKARTA (IndoTelko) - Timbulan sampah perkotaan dunia diproyeksikan meningkat dari 2,1 miliar ton pada 2023 menjadi 3,8 miliar ton pada 2050. Menghadapi tantangan tersebut, SCG memperkuat implementasi prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) melalui inovasi industri serta kolaborasi lintas sektor di Indonesia.

Laporan Global Waste Management Outlook 2024 dari United Nations Environment Programme (UNEP) memperkirakan peningkatan timbulan sampah global tersebut. Sementara itu, laporan Global Resources Outlook 2024 menyebutkan penggunaan sumber daya alam dunia telah meningkat tiga kali lipat dalam lima dekade terakhir dan berpotensi bertambah hingga 60% pada 2060 jika pola pemanfaatannya tidak berubah.

Di Indonesia, sekitar 75% sampah nasional atau setara 105.483 ton per hari disebut belum tertangani secara memadai. Kondisi ini memperkuat urgensi pengembangan kebijakan, investasi, dan inovasi untuk mendorong efisiensi sumber daya serta pengelolaan sampah berkelanjutan.

Komitmen tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam panel bertajuk “Beyond Borders: From Global Commitment to Local Impact” pada ESG NOW Leadership Forum 2026 yang diselenggarakan Republika di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (19/10).

Forum ini menghadirkan Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno, Communication Counselor Kedutaan Besar Turki untuk Indonesia Burak Gunes, Duta Besar Singapura untuk Indonesia Kwok Fook Seng, serta Country Director SCG Indonesia Peramas Wajananawat. Diskusi membahas kebijakan iklim nasional, diplomasi iklim internasional, dan penerapan ESG oleh pelaku industri.

Peramas mengatakan, komitmen keberlanjutan global perlu diterjemahkan menjadi langkah konkret yang sesuai dengan kebutuhan setiap negara. Selama lebih dari 30 tahun beroperasi di Indonesia, SCG berupaya menggabungkan pengalaman, teknologi, dan inovasi regional untuk menjawab tantangan lokal.

“Bagi SCG, komitmen keberlanjutan global harus diwujudkan melalui langkah nyata yang relevan dengan kebutuhan setiap negara. Selama beroperasi di Indonesia selama lebih dari 30 tahun, kami memiliki kesempatan untuk menghubungkan pengalaman, teknologi, dan inovasi dari berbagai pasar dengan tantangan yang dihadapi,” ujar Peramas.

Olah Sampah Menjadi Energi Alternatif

Salah satu implementasi ESG SCG dilakukan melalui fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF) di TPSA Cimenteng, Kabupaten Sukabumi. Fasilitas yang dikembangkan anak usaha SCG, PT Semen Jawa, bersama Pemerintah Kabupaten Sukabumi tersebut mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif untuk proses produksi semen.

Sejak beroperasi pada 2025, fasilitas ini telah mengolah lebih dari 91.000 ton sampah. Inisiatif tersebut menghubungkan kebutuhan pengelolaan sampah daerah dengan kebutuhan energi industri.

PT Semen Jawa juga menggunakan Alternative Fuel and Alternative Raw Materials (AF/AR) untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar dan bahan baku konvensional. Penerapannya telah mencapai substitusi 35% energi panas dari bahan bakar alternatif dan penggunaan 9,4% bahan baku alternatif berdasarkan berat. Langkah ini diklaim berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 50 kg COâ‚‚ per ton semen.

Perusahaan menargetkan peningkatan substitusi bahan bakar alternatif hingga 70% pada 2030.

Di sektor material konstruksi, SCG mengembangkan SCG Cement Bezt Eco-Friendly Cement yang telah memperoleh sertifikasi Green Label Gold dari Green Product Council Indonesia (GPCI).

Sementara itu, KIA Ceramics, perusahaan di bidang keramik yang berada dalam kelompok usaha SCG, memanfaatkan kembali 8090% limbah internal produksi keramik dan mengganti 1015% mineral mentah dengan material daur ulang.

Libatkan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah

SCG juga mendorong kolaborasi pemerintah, industri, dan masyarakat melalui pendekatan Public-Private-People Partnership (PPPP). Salah satunya diwujudkan melalui program SCG Mentari atau Menjaga Lingkungan Tetap Lestari di Kabupaten Sukabumi.

Program ini mengajak masyarakat memilah sampah dari rumah agar dapat dimanfaatkan kembali. SCG menyebut inisiatif tersebut telah melibatkan 1.600 warga dan mengumpulkan lebih dari 54.000 kilogram sampah. Sampah yang terkumpul selanjutnya dikirim ke PT Semen Jawa untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.

Pada tingkat regional, SCG turut memperkuat pertukaran pengetahuan melalui ASEAN ESG Symposium 2026 yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, dan organisasi internasional, termasuk World Business Council for Sustainable Development (WBCSD). Kolaborasi ini diarahkan untuk mengembangkan solusi keberlanjutan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing negara sekaligus memperluas penerapan ekonomi sirkular.

Atas upayanya dalam pengelolaan limbah berkelanjutan, SCG menerima penghargaan kategori Waste Management Innovation dalam ESG NOW Awards 2026 yang diselenggarakan Republika sebagai bagian dari ESG NOW Movement 2026 bertema “Inspiring Impact”.

Peramas menyampaikan apresiasi kepada para mitra yang terlibat dalam pengembangan solusi pengelolaan sampah. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat menjadi faktor penting untuk memperluas dampak keberlanjutan.

SCG menyatakan akan terus mengembangkan teknologi dan kemitraan untuk memperkuat ekonomi sirkular, sejalan dengan strategi bisnis Inclusive Green Growth serta target perusahaan mencapai Net Zero pada 2050. (mas)