☰
✕

IHSG rebound, Bitcoin melemah di tengah tekanan pasar global

JAKARTA (IndoTelko) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat pada perdagangan Selasa (20/10/2026) setelah terkoreksi tajam dalam dua sesi sebelumnya. Sementara itu, Bitcoin melemah di tengah kekhawatiran terhadap inflasi, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, dan arus keluar dana dari produk investasi berbasis kripto.

Tekanan di pasar saham Indonesia sebelumnya dipicu kekhawatiran atas rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Mengutip Reuters, IHSG anjlok 11,6% pada Jumat (16/10) dan kembali turun lebih dari 5% pada Senin (19/10).

MSCI mempertimbangkan perubahan tersebut dengan menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham dan penegakan aturan di pasar modal. Ketidakpastian ini memengaruhi sentimen investor karena perubahan klasifikasi berpotensi berdampak pada daya tarik saham Indonesia bagi investor global.

Di pasar kripto, Bitcoin terkoreksi 0,69% dalam 24 jam ke US$81.982,85. Pelemahan tersebut mencerminkan kehati-hatian investor terhadap aset berisiko di tengah tekanan ekonomi global.

CEO sekaligus Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai pergerakan kedua pasar menunjukkan bahwa volatilitas bukan hanya terjadi pada aset kripto, tetapi juga saham.

“Volatilitas tidak hanya terjadi di pasar kripto, tetapi juga di pasar saham. Pergerakan harga dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi makroekonomi dan arus modal hingga sentimen serta kepercayaan investor. Karena itu, penting untuk melihat setiap kelas aset secara objektif, memahami risikonya, dan tidak hanya berfokus pada pergerakan harga dalam jangka pendek,” ujarnya.

Sentimen MSCI dan Arus Dana ETF

Penguatan IHSG pada Selasa menjadi sinyal pemulihan setelah tekanan jual selama dua sesi sebelumnya. Namun, rebound tersebut belum menghilangkan ketidakpastian terkait evaluasi MSCI dan potensi dampaknya terhadap arus modal asing.

Sementara itu, tekanan pada Bitcoin juga terlihat dari arus dana produk spot Bitcoin exchange-traded fund (ETF) di Amerika Serikat. Berdasarkan data dalam laporan tersebut, ETF Bitcoin AS mencatat arus keluar bersih US$228,4 juta selama periode 1216 Oktober 2026. Angka itu turun sekitar 66,4% dibandingkan pekan sebelumnya, tetapi masih menunjukkan permintaan institusional yang belum sepenuhnya pulih.

Bitcoin juga menghadapi resistensi di sekitar US$83.000, sedangkan level US$80.600 menjadi salah satu area dukungan yang diperhatikan pelaku pasar. Perkembangan inflasi AS dan keputusan suku bunga Federal Reserve pada 28 Oktober turut menjadi faktor yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan aset kripto.

Menurut Yudhono, perbedaan pergerakan saham dan kripto tidak serta-merta menunjukkan keunggulan salah satu kelas aset. Pasar saham berperan dalam pembiayaan perusahaan dan pertumbuhan ekonomi, sementara aset kripto menawarkan inovasi berbasis teknologi blockchain.

Peluang Inovasi Keuangan Digital

Di tengah dinamika pasar, industri kripto dinilai berpotensi membuka peluang melalui pengembangan infrastruktur blockchain, aplikasi keuangan digital, dan tokenisasi aset dunia nyata atau real-world assets (RWA). Inovasi tersebut dapat memperluas pilihan instrumen keuangan serta menghadirkan pendekatan baru dalam akses dan pengelolaan aset.

Yudhono menilai Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat pasar modal sekaligus mengembangkan industri aset digital secara bertanggung jawab.

“Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat pasar modal sekaligus mengembangkan industri aset digital secara bertanggung jawab. Keduanya tidak harus dipertentangkan. Dengan regulasi yang jelas, tata kelola yang baik, dan perlindungan konsumen yang kuat, inovasi keuangan digital dapat menjadi bagian dari perkembangan ekosistem keuangan nasional,” katanya.

Meski menawarkan peluang, aset kripto tetap memiliki risiko tinggi, termasuk fluktuasi harga dan sensitivitas terhadap perubahan likuiditas serta kebijakan moneter global. Karena itu, pengembangan industri perlu disertai peningkatan literasi keuangan dan pemahaman investor terhadap risiko.

FLOQ menilai penguatan kepercayaan investor, tata kelola yang baik, dan pengembangan inovasi keuangan perlu berjalan beriringan. Pemahaman terhadap karakteristik aset serta diversifikasi yang sesuai dengan profil risiko menjadi aspek penting dalam membangun ekosistem investasi yang sehat dan berkelanjutan. (mas)