☰
✕

CTI Group soroti strategi investasi teknologi menuju 2027

JAKARTA (IndoTelko) - Ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik mendorong perusahaan untuk lebih selektif dalam mengalokasikan anggaran teknologi. Efisiensi, kebutuhan bisnis, dan potensi pengembalian investasi menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan dalam menjaga pertumbuhan menuju 2027.

Hal tersebut dibahas PT Computrade Technology International (CTI Group) dalam forum Golden Circle Club (GCC) Economic Outlook 2027 bertema “Managing Growth Through Technology Investments in a Volatile Economy” di Jakarta, 16 Oktober 2026.

Dikemas dalam format round table discussion, forum ini mempertemukan para pemimpin bisnis teknologi informasi (IT) untuk membahas prospek ekonomi serta dampaknya terhadap strategi investasi dan peluang industri teknologi.

Chief Economist PermataBank, Josua Pardede, memaparkan proyeksi ekonomi dan implikasinya terhadap keputusan investasi. Sementara itu, President Director PT Helios Informatika Nusantara, Royani Lo, membahas perubahan pola investasi pelanggan dan peluang bisnis di industri IT.

Investasi IT Tetap Berpeluang Tumbuh

Josua menilai ketidakpastian geopolitik, pergerakan nilai tukar, dan arah kebijakan moneter menjadi faktor yang perlu diperhatikan pelaku usaha dalam menyusun strategi ekspansi serta menentukan alokasi anggaran.

Meski demikian, investasi IT dinilai masih berpotensi meningkat seiring berlanjutnya kebutuhan digitalisasi di Indonesia. Perusahaan diperkirakan semakin mempertimbangkan utilisasi aset, kejelasan proyek, dan potensi pengembalian investasi sebelum mengeluarkan biaya tambahan.

“Investasi IT akan terus meningkat seiring dengan kebutuhan digitalisasi di Indonesia. Karena itu, strategi pertumbuhan perlu tetap selektif, adaptif, dan berorientasi pada profitabilitas,” ujar Josua.

Sejumlah bidang yang diperkirakan membuka peluang pertumbuhan menuju 2027 meliputi cybersecurity, data dan kecerdasan buatan (AI), komputasi awan (cloud), modernisasi aplikasi (application modernization), serta otomasi.

Namun, peluang tersebut perlu diikuti pemilihan solusi yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan setiap sektor. Manfaat teknologi juga harus dapat diukur agar investasi memberikan dampak nyata bagi bisnis.

Peluang Industri Bergantung pada Kebutuhan Pasar

Royani Lo menilai industri IT masih memiliki ruang pertumbuhan meski menghadapi tantangan ekonomi, geopolitik, dan ketersediaan komponen. Menurutnya, pelaku industri perlu lebih cermat membaca kebutuhan pasar dan mengidentifikasi sektor yang berpotensi dikembangkan.

Ia menyoroti peluang digitalisasi di sektor kesehatan melalui SatuSehat serta inisiatif pemerintah Satu Data Indonesia. Selain itu, meningkatnya minat terhadap AI juga dinilai dapat membuka peluang baru bagi industri teknologi.

“Peluang tetap ada, tetapi sebagai pelaku bisnis, kita perlu memahami kebutuhan customer dan menyediakan solusi yang sesuai,” kata Royani.

Ia menambahkan, pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan menjadi penting agar solusi yang ditawarkan tidak sekadar mengikuti tren teknologi, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan bisnis.

Royani juga menekankan pentingnya kolaborasi antara CTI Group dan mitra bisnis melalui komunikasi serta pertukaran pengetahuan. Sinergi tersebut diharapkan membantu para pelaku industri mengikuti perkembangan teknologi, memahami perubahan kebutuhan pasar, dan menemukan peluang baru.

CEO CTI Group, Rachmat Gunawan, mengatakan perusahaan akan terus mendukung mitra melalui akses terhadap teknologi, solusi, dan keahlian yang relevan.

“Di tengah dinamika ekonomi dan perubahan kebutuhan pasar, CTI Group percaya bahwa kolaborasi yang kuat dan pemahaman terhadap kebutuhan bisnis menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan,” ujarnya.

Melalui Golden Circle Club, CTI Group berharap pertukaran perspektif antara perusahaan dan mitra bisnis dapat memperkuat sinergi dalam menghadapi tantangan industri serta membangun pertumbuhan yang berkelanjutan menuju 2027. (mas)