☰
✕

Skor pertahanan siber Indonesia capai 72, Cisco soroti kendala operasional

JAKARTA (IndoTelko) - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mengubah lanskap keamanan siber sekaligus meningkatkan tuntutan terhadap kecepatan respons organisasi. Laporan terbaru Cisco menyoroti bahwa pertahanan siber yang efektif tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga membutuhkan koordinasi lintas tim, akses data yang memadai, dan proses pengambilan keputusan yang cepat.

Melalui Relentless Defense Report, Cisco mengkaji kesiapan praktisi keamanan dalam menghadapi ancaman yang semakin kompleks di era AI. Penilaian mencakup cakupan perlindungan, kecepatan mendeteksi dan merespons ancaman, kemampuan pemulihan, serta hambatan operasional yang dihadapi organisasi.

Dalam laporan tersebut, organisasi di Indonesia mencatat skor rata-rata pertahanan siber sebesar 72 dari 100. Sebanyak 29% organisasi masuk kategori Relentless Defenders, yakni kelompok dengan kinerja pertahanan siber terbaik menurut klasifikasi Cisco. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 8%.

Meski demikian, Cisco mengingatkan bahwa pencapaian tersebut perlu dipertahankan seiring meningkatnya kecepatan dan kompleksitas ancaman berbasis AI.

“Di era pasca-Mythos, kecepatan pertahanan didorong oleh kelincahan operasional, bukan hanya teknologi,” kata Managing Director Cisco Indonesia, Cin Cin Go.

Menurutnya, organisasi perlu mengintegrasikan keamanan ke dalam operasional bisnis, tidak sekadar menjadikannya sebagai pemenuhan kepatuhan. Koordinasi yang lebih baik juga diperlukan agar pihak yang tepat dapat mengambil keputusan pada waktu yang tepat.

Koordinasi dan Akses Data Masih Menjadi Kendala

Cisco mengidentifikasi hambatan operasional sebagai salah satu faktor yang mengurangi efektivitas pertahanan siber. Masalah tersebut tidak hanya berada di ranah tim keamanan, tetapi juga melibatkan divisi teknologi informasi (TI), pengadaan, hingga jajaran eksekutif.

Di Indonesia, hanya 63% organisasi yang menyatakan tim keamanan, jaringan, dan TI telah bekerja sebagai satu kesatuan dengan visibilitas serta perangkat yang sama.

Tantangan juga muncul dalam komunikasi dengan manajemen. Sebanyak 43% responden mengungkapkan bahwa metrik yang mereka gunakan terlalu teknis untuk meyakinkan jajaran eksekutif. Sementara itu, 29% kesulitan menerjemahkan metrik bisnis menjadi informasi yang dapat memengaruhi keputusan, dan 26% belum memiliki metode konsisten untuk mengukur kinerja keamanan.

Persoalan akses data turut menghambat respons terhadap ancaman. Sebanyak 38% organisasi di Indonesia menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengumpulkan dan menghubungkan data dari berbagai sistem dibandingkan menangani ancaman secara langsung. Selain itu, 46% responden mengaku kehilangan wawasan penting karena data tidak dapat mereka akses.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri ketika organisasi mulai menerapkan agen AI otonom yang mampu menjalankan tugas dalam waktu singkat. Tanpa pembagian kewenangan yang jelas dan data yang terintegrasi, penerapan teknologi tersebut berpotensi menambah kompleksitas operasional.

AI Mempercepat Deteksi, tetapi Risiko Membatasi Adopsi

Laporan Cisco menunjukkan bahwa hampir seluruh praktisi keamanan di Indonesia melaporkan peningkatan kemampuan deteksi dan respons sedikitnya 25% setelah memanfaatkan AI. Lebih dari sepertiga responden juga menyatakan teknologi tersebut secara signifikan mengurangi beban operasional.

Lebih dari separuh organisasi telah menerapkan kemampuan keamanan berbasis AI secara ekstensif. Penggunaan paling tinggi berada pada keamanan data dan privasi, sedangkan penerapan pada pengelolaan identitas dan akses (Identity and Access Management) tercatat paling rendah.

Meski manfaatnya dirasakan, adopsi agen AI untuk operasional keamanan belum merata. Sekitar 40% organisasi belum menerapkannya secara ekstensif, antara lain karena kekhawatiran mengenai kebocoran data, kompromi sistem, dan risiko yang berkaitan dengan pihak ketiga.

Di sisi lain, lebih dari 80% organisasi menyatakan yakin mampu mendeteksi dan merespons agen AI yang diambil alih atau disusupi pihak tidak berwenang.

Praktik Organisasi dengan Pertahanan Terbaik

Secara global, kelompok Relentless Defenders menunjukkan kinerja lebih baik dalam koordinasi, pengendalian agen AI, dan pemanfaatan teknologi untuk mempercepat respons.

Sebanyak 83% organisasi dalam kelompok tersebut bekerja sebagai satu tim keamanan yang terkoordinasi dengan visibilitas dan perangkat yang sama di bidang keamanan, jaringan, dan infrastruktur. Angka ini jauh di atas 37% pada kelompok organisasi lainnya.

Dalam pengendalian agen AI dan identitas nonmanusia, 86% Relentless Defenders telah menerapkan kontrol secara konsisten, dibandingkan 37% organisasi lain. Sebanyak 77% juga sangat yakin dapat mendeteksi dan menangani agen AI yang telah disusupi, sedangkan pada kelompok lainnya angkanya mencapai 51%.

Dari sisi kecepatan, 25% organisasi dalam kelompok tersebut melaporkan bahwa AI meningkatkan kecepatan deteksi ancaman lebih dari dua kali lipat. Pada kelompok lainnya, proporsinya hanya 7%.

Cisco juga menemukan bahwa di antara organisasi yang meningkatkan anggaran keamanan, kelompok Relentless Defenders hampir dua kali lebih mungkin mengalami penurunan insiden keamanan, yakni 71% dibandingkan 39%.

Temuan tersebut menegaskan bahwa efektivitas pertahanan siber tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya investasi teknologi. Koordinasi lintas fungsi, tata kelola AI, integrasi data, serta kemampuan mengambil tindakan dengan cepat menjadi faktor penting dalam menghadapi ancaman digital yang terus berkembang. (mas)