JAKARTA (IndoTelko) - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) mencatat 165 inovasi dalam ajang Geothermal Innovation & Competition (Geovation) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 68 Oktober 2026. Jumlah tersebut meningkat sekitar 17% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 141 inovasi.
Dalam tiga tahun terakhir, perusahaan telah mengumpulkan 449 inovasi melalui program tersebut. PGE menyebut capaian ini sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya inovasi untuk meningkatkan keandalan operasional, efisiensi, dan penciptaan nilai bisnis.
Geovation 2026 mengusung tema “Driving Pertamina’s Future Through Geothermal Leadership: Accelerating 1 GW and Unlocking PGE’s Full Geothermal Potential”. Ajang ini menjadi wadah bagi para perwira PGE untuk mengembangkan solusi yang mendukung target kapasitas terpasang 1 gigawatt (GW) pada 2028.
Kegiatan tahun ini diikuti 377 partisipan dari 64 gugus yang berasal dari berbagai wilayah operasi dan kantor pusat PGE. Sebanyak 165 inovasi yang dipamerkan terdiri dari 82 inovasi kategori Project Collaboration (PC-Prove), 71 Functional Team (FT-Prove), sembilan Replication Team (RT-Prove), dan tiga Individual Team (I-Prove).
Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, mengatakan program yang berjalan sejak 2010 tersebut terus dikembangkan untuk menghasilkan manfaat nyata bagi perusahaan.
Salah satu perubahan pada Geovation tahun ini adalah penggunaan metode penghitungan value creation yang lebih terperinci. Sebelumnya, pengukuran menggunakan satu indikator dengan hasil Rp590,8 miliar. Dalam formulasi baru, nilai inovasi dihitung melalui lima komponen, yakni revenue generation, cost reduction, revenue potential, revenue retention, dan cost avoidance.
Dengan pendekatan tersebut, PGE melaporkan total value creation dari inovasi tahun ini mencapai Rp1.505,85 miliar atau sekitar Rp1,5 triliun.
Inovasi untuk Keandalan Operasi dan Ekspansi
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menegaskan bahwa inovasi menjadi salah satu fondasi untuk menjaga keandalan operasi sekaligus meningkatkan efisiensi dalam pengembangan energi panas bumi.
Menurutnya, pengembangan inovasi juga berperan dalam mendukung ambisi PGE menjadi perusahaan energi hijau berkelas dunia. Perusahaan menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1,8 GW pada 2034, setelah membidik 1 GW pada 2028.
PGE turut mengaitkan pengembangan industri panas bumi dengan perjalanan pemanfaatan energi tersebut di Indonesia yang telah berlangsung selama satu abad, sejak pengembangan panas bumi di Kamojang, Jawa Barat.
Melalui Geovation, perusahaan berupaya menjadikan inovasi sebagai bagian dari budaya kerja, bukan sekadar kompetisi tahunan. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat kontribusi panas bumi dalam mendukung transisi energi nasional.
Sejalan dengan target ekspansi kapasitas, PGE tengah mengembangkan sejumlah proyek strategis. Proyek tersebut mencakup Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Sumatera Selatan, PLTP Hululais Unit 1 dan 2 di Bengkulu, serta PLTP Lahendong Unit 7 dan 8 berikut Binary Unit di Sulawesi Utara.
Perusahaan juga mengembangkan proyek Gunung Tiga di Lampung.
Pengembangan proyek-proyek tersebut menjadi bagian dari langkah PGE untuk meningkatkan kapasitas produksi energi panas bumi sekaligus menjaga keandalan operasi. Melalui kombinasi inovasi internal dan ekspansi proyek, perusahaan menargetkan peningkatan kontribusi energi bersih untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia. (mas)