JAKARTA (IndoTelko) - Thales memperluas infrastruktur keamanan digital di Indonesia dengan meluncurkan Point of Presence (PoP) kedua di Jakarta. Ekspansi ini dilakukan untuk mengantisipasi pertumbuhan layanan digital dan peningkatan trafik yang berkaitan dengan penggunaan kecerdasan buatan (AI).
Melalui infrastruktur Imperva Application Security, Thales menyediakan kapasitas tambahan dan redundansi untuk membantu organisasi menjaga ketersediaan aplikasi serta antarmuka pemrograman aplikasi (Application Programming Interface/API).
Perusahaan menyebut Indonesia menjadi satu-satunya pasar di Asia Tenggara yang memiliki dua PoP Imperva Application Security. Ekspansi tersebut antara lain didorong oleh tingginya kebutuhan sektor keuangan terhadap perlindungan aplikasi digital.
Menurut Thales, lebih dari separuh bank terkemuka di Indonesia menggunakan Imperva Application Security untuk melindungi aplikasi penting bagi operasional bisnis mereka.
PoP kedua ini beroperasi melalui penyedia pusat data yang berbeda dari fasilitas pertama yang diluncurkan pada 2019. Pemisahan lokasi tersebut dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada satu fasilitas sekaligus memperkuat kemampuan pengalihan layanan ketika terjadi gangguan.
Kedua PoP tersebut juga menyediakan kapasitas tambahan untuk menangani pertumbuhan trafik domestik. Dengan tetap mengandalkan infrastruktur di dalam negeri, layanan ini turut mendukung upaya penguatan kedaulatan digital Indonesia.
Antisipasi Peningkatan Trafik Berbasis AI
Perluasan infrastruktur dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap layanan digital yang aman dan andal. Pada Juli 2026, Kementerian PPN/Bappenas meluncurkan Roadmap Infrastruktur Digital Indonesia 20262030 yang mengusung pengembangan ekosistem digital yang aman, tangguh, dan berdaulat.
Di sisi lain, perkembangan AI turut mengubah pola trafik internet. Agen AI dan sistem otomatis kini semakin banyak berinteraksi langsung dengan aplikasi dan API. Kondisi tersebut membuat organisasi perlu membedakan aktivitas otomatis yang sah dari bot yang digunakan untuk menjalankan serangan.
Dalam Thales Bad Bot Report 2026, perusahaan menyebut bot menyumbang lebih dari 53% dari keseluruhan trafik web pada 2025. Sementara itu, serangan bot berbasis AI dilaporkan meningkat hingga 12,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Regional Director Singapore, Indonesia & Malaysia Thales, Fei Wen Ho, mengatakan perkembangan AI dan otomatisasi membuat infrastruktur yang mendukung layanan digital perlu terus diperkuat.
Menurutnya, PoP kedua di Jakarta menambah kapasitas dan ketahanan bagi organisasi yang semakin mengandalkan layanan online. Infrastruktur tersebut juga dirancang untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu fasilitas pusat data.
Sediakan Proteksi Aplikasi dan API
PoP baru Thales menyediakan akses ke sejumlah kapabilitas Imperva Application Security, meliputi Web Application Firewall (WAF), Advanced Bot Protection, keamanan API, perlindungan Distributed Denial of Service (DDoS), serta layanan distribusi konten.
Rangkaian teknologi tersebut ditujukan untuk membantu organisasi melindungi aplikasi dan API, mengendalikan aktivitas bot berbahaya, serta menjaga ketersediaan layanan digital.
Infrastruktur yang diperluas ini menyasar berbagai sektor, termasuk jasa keuangan, perdagangan elektronik, telekomunikasi, dan pemerintahan. Sektor-sektor tersebut semakin bergantung pada aplikasi digital untuk menjalankan transaksi, memberikan layanan pelanggan, dan mendukung pelayanan publik.
Direktur Teknologi Informasi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Saladin D. Effendi, mengatakan penguatan keamanan menjadi bagian penting dari pengembangan perbankan digital.
Ia menegaskan bahwa BRI terus meningkatkan kemampuan teknologi dan keamanan untuk menjaga layanan tetap aman, andal, serta tangguh. Kolaborasi dengan mitra teknologi seperti Thales menjadi bagian dari upaya menghadapi kompleksitas ancaman siber dan mempertahankan kepercayaan nasabah.
Dengan penambahan PoP kedua di Jakarta, Thales menyatakan jaringan Imperva Application Security kini memiliki 17 PoP di kawasan Asia Pasifik dan Jepang serta 61 PoP secara global. Infrastruktur tersebut diharapkan memperkuat perlindungan aplikasi dan API yang menopang aktivitas ekonomi digital Indonesia. (mas)