☰
✕

Fynd andalkan AI untuk produksi konten ritel tanpa pemotretan baru

JAKARTA (IndoTelko) - Optik Melawai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dari Fynd Studio untuk memproduksi video pemasaran produk tanpa harus melakukan pemotretan fisik baru untuk setiap kampanye. Solusi tersebut kini tersedia di Indonesia untuk membantu peritel menghasilkan konten yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan platform media sosial.

Fynd, perusahaan teknologi ritel berbasis AI yang didukung Reliance Retail Ventures Limited, menghadirkan Fynd Studio dengan layanan produksi video dari awal hingga akhir serta dukungan lokalisasi Bahasa Indonesia.

Optik Melawai, jaringan ritel optik yang memiliki lebih dari 480 toko di Indonesia, menggunakan teknologi ini untuk memperluas penyajian koleksi kacamatanya melalui video berbasis AI. Dengan portofolio lebih dari 30 merek kacamata premium, perusahaan membutuhkan konten yang dapat memperlihatkan desain bingkai sekaligus tampilan produk saat dikenakan.

Melalui Fynd Studio, foto produk yang telah dimiliki Optik Melawai diolah menjadi video dengan model virtual hasil AI yang mengenakan kacamata tersebut. Konten ini disiapkan untuk kebutuhan pemasaran di TikTok dan Instagram Reels, tanpa harus menggelar pemotretan baru untuk setiap rangkaian produk.

Chief Business Officer Global Fynd, Ronak Modi, mengatakan video pendek semakin berperan dalam membantu konsumen menemukan produk. Kondisi tersebut mendorong brand untuk menyediakan konten secara konsisten, termasuk untuk kategori produk yang membutuhkan ketepatan visual.

Menurutnya, produk kacamata memiliki tantangan tersendiri dalam produksi video berbasis AI karena bentuk bingkai, lensa, dan logo harus tetap ditampilkan secara akurat.

Dengan Fynd Studio, Optik Melawai dapat memanfaatkan foto produk yang tersedia untuk menghasilkan konten berbahasa Indonesia, dengan proses persetujuan akhir tetap dilakukan oleh tim internal perusahaan.

Adopsi teknologi ini berlangsung di tengah pertumbuhan perdagangan berbasis video atau video commerce di Indonesia. Laporan e-Conomy SEA 2025 yang dipublikasikan Google mencatat volume transaksi video commerce di Indonesia mencapai 2,6 miliar. Jumlah penjual dan toko daring juga meningkat 75% secara tahunan menjadi 800.000.

Google turut melaporkan lebih dari 40 juta pengguna yang masuk ke akun mereka di Indonesia melakukan pencarian terkait belanja di YouTube. Waktu tonton konten belanja di platform tersebut meningkat lebih dari 400% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut mendorong peritel untuk menyediakan konten pemasaran secara berkelanjutan, terutama ketika menghadapi peluncuran produk baru, pergantian koleksi musiman, dan perubahan format media sosial. Produksi video konvensional yang melibatkan model, studio, penataan gaya, serta penyuntingan dinilai membutuhkan koordinasi dan biaya tambahan jika harus dilakukan berulang kali untuk katalog besar.

Head of Digital Marketing Optik Melawai, Jhan David, mengatakan penggunaan AI menjadi bagian dari transformasi digital perusahaan, khususnya dalam pemasaran melalui kanal media sosial.

Ia menilai Fynd membantu mewujudkan video pemasaran yang sesuai dengan identitas merek dan kebutuhan perusahaan. Kolaborasi tersebut juga melengkapi upaya Optik Melawai membangun pengalaman ritel yang terhubung melalui jaringan toko dan situs e-commerce, yang diklaim dikunjungi sekitar 10.000 pengunjung per hari.

Kehadiran Fynd Studio di Indonesia menyusul peluncuran komersial GlamAR, solusi Fynd untuk fitur virtual try-on berbasis AI, termasuk simulasi pemakaian kacamata. Teknologi tersebut dapat diintegrasikan ke situs web, aplikasi, maupun layar di toko milik merek.

Melalui kedua solusi tersebut, Fynd memperluas dukungannya bagi peritel di Indonesia dalam mengembangkan pengalaman belanja digital dan memproduksi konten pemasaran yang lebih mudah disesuaikan dengan kebutuhan produk serta platform. (mas)