☰
✕

Inflasi AS jadi penentu, Bitcoin berisiko turun ke US$80.000

JAKARTA (IndoTelko) - Harga Bitcoin (BTC) berpotensi mengalami volatilitas tinggi menjelang pengumuman data inflasi Amerika Serikat (AS) pada 14 Oktober 2026. Berdasarkan analisis FLOQ, Bitcoin berisiko turun di bawah US$80.000 jika inflasi melampaui ekspektasi pasar. Sebaliknya, harga berpeluang pulih menuju US$86.000 apabila tekanan inflasi menunjukkan tanda-tanda mereda.

Bitcoin sebelumnya kembali diperdagangkan di atas US$83.000 setelah sempat tertekan oleh aksi ambil untung, kenaikan harga minyak, serta meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Namun, pemulihan tersebut masih dibayangi ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan data inflasi menjadi salah satu indikator penting yang dapat memengaruhi sentimen investor terhadap aset kripto. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat, mendorong penguatan dolar AS, dan meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko.

“Jika inflasi lebih tinggi daripada perkiraan, pasar bisa kembali mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi ini berpotensi menekan Bitcoin melalui penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah,” kata Yudhono.

Selain data Consumer Price Index (CPI), investor juga akan mencermati rilis Producer Price Index (PPI) pada 15 Oktober serta pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, pada 16 Oktober. Rangkaian agenda tersebut berpotensi membentuk ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga AS.

Arus Dana ETF Jadi Indikator

Di luar data ekonomi, arus dana pada produk spot Bitcoin exchange-traded fund (ETF) di AS juga menjadi perhatian. Menurut Yudhono, pemulihan harga Bitcoin akan lebih kuat apabila didukung peningkatan arus dana masuk ETF, yang dapat mencerminkan menguatnya permintaan investor institusional.

“Pemulihan harga Bitcoin tidak hanya bergantung pada sentimen pasar, tetapi juga pada dukungan permintaan yang nyata. Jika arus dana masuk ETF kembali menguat, hal ini berpotensi mendukung pemulihan harga,” ujarnya.

Pergerakan harga minyak dan perkembangan geopolitik turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi prospek inflasi, imbal hasil obligasi, serta minat investor terhadap aset berisiko.

Jika inflasi AS lebih tinggi dari ekspektasi dan arus dana ETF masih tertekan, Bitcoin berpotensi kembali menguji level US$80.000. Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah disertai peningkatan permintaan institusional dapat membuka peluang kenaikan menuju US$86.000.

Yudhono mengingatkan investor agar tidak hanya terpaku pada target harga, tetapi juga memperhatikan pengelolaan risiko. Langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain menyesuaikan ukuran posisi, menetapkan batas kerugian, dan berhati-hati dalam menggunakan leverage yang dapat memperbesar potensi keuntungan maupun kerugian.

Untuk prospek hingga akhir 2026, Yudhono memperkirakan Bitcoin berpotensi bergerak dalam rentang US$75.000US$100.000, dengan asumsi tidak terjadi guncangan besar terhadap perekonomian global.

“Jika melihat kondisi pasar saat ini, Bitcoin berpotensi bergerak dalam rentang US$75.000US$100.000 hingga akhir 2026, dengan asumsi tidak ada guncangan besar pada ekonomi global,” tutupnya.

FLOQ menegaskan bahwa level harga tersebut merupakan skenario analisis, bukan kepastian pergerakan pasar. Investor tetap perlu mempertimbangkan volatilitas dan risiko kerugian sebelum mengambil keputusan transaksi aset kripto. (mas)