☰
✕

ASEAN perlu tambah kapasitas energi terbarukan 26 GW per tahun

JAKARTA (IndoTelko) - ASEAN Centre for Energy (ACE) meluncurkan 9th ASEAN Energy Outlook(AEO9), laporan yang menekankan pentingnya efisiensi energi, integrasi jaringan listrik, dan investasi terkoordinasi untuk memperkuat ketahanan energi kawasan hingga 2060.

Laporan yang diluncurkan di Manila pada 8 Oktober 2026 tersebut memperkirakan konsumsi energi final ASEAN dalam skenario dasar (Baseline Scenario/BAS) meningkat dari sekitar 485 juta ton setara minyak pada 2025 menjadi 2.047 juta ton pada 2060.

Pertumbuhan itu didorong oleh aktivitas industri, transportasi barang, kebutuhan pendinginan rumah tangga, urbanisasi, dan perkembangan layanan digital. Pada saat yang sama, meningkatnya ketergantungan terhadap impor minyak berpotensi membuat kawasan lebih rentan terhadap gangguan pasokan dan perubahan harga energi global.

AEO9 membandingkan tiga skenario transisi energi, yakni BAS, AMS Target Scenario (ATS), dan ASEAN Coordinated Transition Scenario (ACTS). Ketiganya merupakan gambaran alternatif berdasarkan tingkat penerapan kebijakan, pencapaian target, penggunaan teknologi, investasi, dan kerja sama regional, bukan prediksi pasti.

Dalam skenario ATS, konsumsi energi final ASEAN pada 2060 diperkirakan mencapai 1.482 juta ton setara minyak. Angka itu dapat ditekan lebih jauh menjadi 1.073 juta ton melalui ACTS, yang mengandalkan percepatan efisiensi energi, elektrifikasi, dan peralihan bahan bakar.

Direktur Eksekutif ACE, Dato’ Ir. Ts. Razib Dawood, mengatakan ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan atau mengimpor energi, tetapi juga oleh efisiensi penggunaan dan keterhubungan sistem energi antarnegara.

Menurutnya, koordinasi regional diperlukan untuk menjaga agar pasokan energi tetap terjangkau, andal, dan mampu menghadapi berbagai gangguan seiring meningkatnya permintaan.

Integrasi jaringan listrik dan energi terbarukan

Dalam skenario ACTS, porsi listrik dalam konsumsi energi final ASEAN diperkirakan mencapai 57,2% pada 2060, dibandingkan 22,6% dalam skenario dasar. Perubahan ini membutuhkan peningkatan efisiensi, elektrifikasi sektor industri dan transportasi, serta penggantian teknologi yang lebih hemat energi.

Di sisi pasokan, ASEAN juga perlu mempercepat pengembangan energi terbarukan. Untuk mencapai target energi terbarukan sebesar 45% dari total kapasitas pembangkit terpasang pada 2030, kawasan diperkirakan perlu menambah kapasitas sekitar 26 gigawatt (GW) setiap tahun.

Tantangannya, potensi energi terbarukan dan pusat permintaan tersebar tidak merata di antara negara anggota. Karena itu, pengembangan pembangkit perlu diikuti penguatan jaringan listrik domestik, penyimpanan energi, dan fleksibilitas sistem.

AEO9 menempatkan ASEAN Power Grid dan perdagangan listrik lintas batas sebagai bagian penting dari integrasi tersebut. Interkoneksi regional berpotensi membantu negara anggota memanfaatkan sumber energi yang saling melengkapi, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, dan memperkuat keandalan pasokan.

Namun, realisasi manfaatnya membutuhkan perencanaan bersama, keselarasan standar teknis, serta aturan pasar yang mendukung perdagangan listrik lintas negara.

Investasi transisi energi mencapai US$14,1 triliun

AEO9 memperkirakan skenario ACTS membutuhkan investasi kumulatif sekitar US$14,1 triliun hingga 2060, atau rata-rata sekitar US$405 miliar per tahun.

Kebutuhan pembiayaan tersebut tidak hanya mencakup pembangunan pembangkit energi terbarukan, tetapi juga perluasan jaringan listrik, elektrifikasi industri dan transportasi, serta pembaruan teknologi di bangunan komersial dan rumah tangga.

ACE menilai pembiayaan dalam skala tersebut perlu didukung proyek yang layak didanai, perencanaan energi terintegrasi, akses jaringan yang transparan, serta pembagian risiko yang jelas. Proyek infrastruktur lintas batas juga membutuhkan kesepakatan antarnegara mengenai pembagian biaya dan skema pembiayaan.

Razib menegaskan, keberhasilan transisi energi akan sangat ditentukan oleh pelaksanaan proyek dan kepastian kebijakan.

AEO9 dikembangkan ACE bersama para ahli nasional negara anggota ASEAN dan Regional Energy Policy and Planning Sub-Sector Network. Laporan ini menggabungkan analisis permintaan dan pasokan energi dengan pemodelan sektor ketenagalistrikan hingga 2060.

Penyusunannya didukung sejumlah mitra internasional, termasuk Pemerintah Inggris, Australia, dan Norwegia, serta lembaga seperti Columbia Center on Sustainable Investment, Bank Dunia, dan Stockholm Environment Institute. (mas)