JAKARTA (IndoTelko) Konsumen Indonesia menunjukkan tingkat keterbukaan yang tinggi terhadap penggunaan agentic AI. Survei terbaru Ping Identity menemukan 61% konsumen Indonesia bersedia membiarkan AI mengambil keputusan secara mandiri atas nama mereka, hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata global sebesar 31%.
Temuan tersebut berasal dari 2026 Consumer Survey yang dilakukan terhadap 11.000 konsumen di 12 negara, termasuk 500 responden di Indonesia.
Tingkat pemahaman terhadap agentic AI juga relatif tinggi. Sebanyak 74% responden Indonesia mengaku sangat atau cukup mengenal teknologi AI yang dapat menjalankan tugas secara mandiri, dibandingkan 40% secara global.
Kesediaan memberikan kewenangan kepada AI juga terlihat dari akses terhadap data. Sebanyak 62% konsumen Indonesia kemungkinan memberikan agen AI akses baca ke akun email utama mereka jika dapat menghemat waktu hingga lima jam per minggu. Angka tersebut jauh di atas rata-rata global sebesar 33%.
Namun, keterbukaan tersebut berjalan beriringan dengan kekhawatiran terhadap identitas dan pengawasan. Sebanyak 86% responden khawatir AI yang bertindak atas nama mereka dapat memberikan gambaran yang keliru mengenai kepribadian atau nilai-nilai mereka.
Sementara itu, 74% lebih mengkhawatirkan kebutuhan untuk terus memeriksa pekerjaan agen AI dibandingkan risiko AI melakukan kesalahan.
Dari sisi pengalaman, kecepatan dan akurasi masih menjadi prioritas utama. Sebanyak 62% responden Indonesia mengutamakan hasil yang cepat dan akurat, terlepas dari apakah penggunaan AI diungkapkan atau tidak.
Meski demikian, konsumen tetap membutuhkan indikator untuk membangun kepercayaan. Sebanyak 51% responden menilai pencantuman sumber membuat layanan AI lebih kredibel, 49% menginginkan jaminan bahwa data pribadi tidak digunakan untuk melatih model AI publik, dan 37% menghargai bukti bahwa mereka berinteraksi dengan layanan resmi suatu merek.
Aspek privasi dan keamanan identitas juga menjadi perhatian. Sebanyak 49% konsumen khawatir AI dapat mengganggu privasi pribadi, sementara masing-masing 48% mencemaskan peningkatan risiko keamanan siber terhadap data pribadi serta kemungkinan AI meniru identitas mereka, merek, atau pihak lain secara keliru.
Dukungan terhadap regulasi juga sangat kuat. Sebanyak 92% responden Indonesia menilai regulasi pemerintah untuk melindungi data identitas dalam penggunaan aplikasi AI merupakan hal penting.
Vice President Consumer Segment Strategy Ping Identity, Darryl Jones, mengatakan konsumen memang terbuka terhadap AI yang memiliki kewenangan lebih besar, tetapi tetap ingin menentukan batas tindakan teknologi tersebut.
“Semakin besar tanggung jawab yang kita berikan kepada AI, semakin penting untuk memperjelas apa yang dapat dilakukannya, apa yang dapat diaksesnya, dan siapa yang tetap memegang kendali,” ujarnya.
Senior Vice President and General Manager APJ Ping Identity, Akkasha Sultan, menambahkan organisasi perlu menyeimbangkan performa AI dengan perlindungan identitas dan data pribadi.
Menurutnya, izin yang jelas, identitas yang dapat diverifikasi, serta akuntabilitas diperlukan agar konsumen dapat mempercayai AI sekaligus memastikan manusia tetap memegang kendali.
Survei dilakukan Talker Research atas penugasan Ping Identity dengan metode double opt-in. Penelitian melibatkan 11.000 konsumen dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Australia, Singapura, India, Indonesia, Belanda, Swedia, Spanyol dan Italia. (mas)