☰
✕

Bitcoin kembali ditolak US$87.000, ada potensi ke US$93.000?

JAKARTA (IndoTelko) - Bitcoin (BTC) kembali menghadapi tekanan setelah gagal menembus dan bertahan di atas level US$87.000. Pada Selasa (6/10/2026), harga BTC berada di sekitar US$85.513 atau turun 1,10% dalam 24 jam terakhir.

Penolakan di area US$87.000 membuat level tersebut kembali menjadi resistance utama yang diperhatikan pelaku pasar. Di sisi lain, aktivitas di pasar derivatif dan likuidasi posisi leverage turut meningkatkan volatilitas pergerakan Bitcoin.

CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis menilai Bitcoin masih berada dalam fase konsolidasi. Menurutnya, kegagalan menembus US$87.000 belum cukup untuk mengubah struktur pasar menjadi bearish.

“Bitcoin masih berada dalam fase konsolidasi setelah beberapa kali menghadapi penolakan di area US$87.000. Level ini menjadi resistance penting karena pasar belum mendapatkan konfirmasi bahwa momentum kenaikan sudah kembali kuat,” ujar Yudho.

US$84.500 Jadi Support Penting

Dari sisi teknikal, area US$84.500 menjadi level penting untuk menentukan arah pergerakan BTC dalam jangka pendek. Level tersebut berada di sekitar retracement Fibonacci 38,2%.

Selama Bitcoin mampu bertahan di atas area tersebut, peluang untuk kembali menguji US$87.000 masih terbuka. Sebaliknya, jika BTC menembus ke bawah US$84.500, tekanan jual berpotensi membawa harga menuju area US$82.600, dengan zona US$82.000US$83.000 menjadi area downside berikutnya yang perlu diperhatikan.

“US$84.500 menjadi level yang cukup penting untuk melihat apakah koreksi ini hanya bersifat jangka pendek atau mulai berkembang menjadi tekanan jual yang lebih besar,” kata Yudho.

Di sisi atas, pasar akan menunggu apakah Bitcoin mampu mengubah US$87.000 dari resistance menjadi support. Jika terjadi breakout yang valid dan BTC mampu bertahan di atas kisaran US$87.000US$87.400, peluang menuju area US$90.000US$93.000 kembali terbuka.

Namun, Yudho menegaskan skenario tersebut tetap membutuhkan konfirmasi dari pergerakan harga dan volume, sehingga belum dapat dianggap sebagai kepastian arah harga.

“Kalau tekanan jual di area US$87.000 berhasil diserap dan Bitcoin mencatatkan breakout yang valid, US$90.000 hingga US$93.000 bisa menjadi area berikutnya yang diperhatikan. Namun, ini tetap merupakan skenario, bukan kepastian harga,” ujarnya.

Selain faktor teknikal, kondisi makroekonomi global juga menjadi perhatian. Pergerakan Treasury yields dan ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve dapat memengaruhi sentimen investor terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.

Yudho menilai penurunan yield dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga dapat memberikan ruang bagi aset kripto untuk menguat, terutama jika didukung permintaan spot yang solid.

Fed Minutes Jadi Katalis

Pasar selanjutnya akan mencermati publikasi Fed Minutes pada 7 Oktober 2026. Dokumen tersebut dinilai dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan berpotensi memengaruhi pergerakan yield maupun sentimen terhadap aset berisiko.

“Kalau komunikasinya cenderung memberikan ruang untuk kebijakan yang lebih longgar dan yield ikut turun, sentimen terhadap Bitcoin bisa membaik. Sebaliknya, jika risiko inflasi kembali meningkat dan yield naik, tekanan terhadap aset berisiko bisa muncul lagi,” kata Yudho.

Dengan kondisi saat ini, area US$84.500 dan US$87.000 menjadi dua level utama yang perlu diperhatikan. Breakout di atas resistance atau breakdown di bawah support akan menjadi sinyal yang lebih jelas mengenai arah Bitcoin selanjutnya. (mas)