☰
✕

GeO-Fert PGE tingkatkan produktivitas petani Kamojang

JAKARTA (IndoTelko) Pemanfaatan energi panas bumi tak hanya berhenti pada pembangkitan listrik. Di Kamojang, Kabupaten Bandung, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mengembangkan inovasi Geothermal Organic Fertilizer (GeO-Fert) yang membantu petani mengolah limbah organik sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian.

Inovasi tersebut diperlihatkan melalui kegiatan HAREPAN (Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert) yang digelar PGE Area Kamojang sepanjang September 2026 di Desa Laksana, Kecamatan Ibun.

Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang berhasil memanen sekitar 70 ton kubis varietas Granova dari lahan sekitar 1,2 hektare. Sejumlah kubis bahkan memiliki bobot hingga 6 kilogram per buah, lebih tinggi dibandingkan rata-rata kubis lokal sekitar 3 kilogram.

Panen tersebut menghasilkan nilai penjualan sekitar Rp78 juta. Penggunaan GeO-Fert juga membantu petani menghemat biaya pembelian pupuk sekitar Rp20 juta.

Panas Bumi untuk Pertanian

GeO-Fert dikembangkan dengan memanfaatkan ekses uap dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang dengan suhu sekitar 6070 derajat Celsius. Panas tersebut digunakan untuk mempercepat proses pengeringan pupuk organik.

Jika metode konvensional membutuhkan waktu hingga sekitar 14 hari, penggunaan panas bumi dapat memangkas proses pengeringan menjadi sekitar 12 jam.

Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, mengatakan pemanfaatan tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan konsep Beyond Electricity, yakni memperluas manfaat panas bumi di luar pembangkitan listrik.

“Panas bumi juga hadir untuk membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk yang bisa kembali dipakai untuk bertani. Itulah semangat Beyond Electricity yang terus kami dorong, supaya manfaat panas bumi bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.

Dalam budidaya kubis tersebut, sekitar 30 ton GeO-Fert digunakan pada lahan 1,2 hektare. Pupuk organik padat diaplikasikan sebelum penanaman, sedangkan pupuk organik cair diberikan secara berkala setiap 15 hari selama masa budidaya.

Dorong Kemandirian Petani

Ketua KTH Cikondang Kamojang, Asep Muhamad Deni, mengatakan pemanfaatan GeO-Fert memberikan manfaat tidak hanya dari sisi produktivitas, tetapi juga pengelolaan limbah.

“Manfaat dari GeO-Fert ini bukan cuma bisa memproduksi pupuk sendiri, tapi juga melihat limbah yang tadinya tidak terpakai bisa dimanfaatkan kembali untuk lahan,” katanya.

Program serupa sebelumnya diterapkan pada budidaya kentang. Pada April 2026, panen kentang GeO-Fert dari lahan sekitar 4.200 meter persegi menghasilkan 7.581 kilogram, dibandingkan sekitar 4.525 kilogram pada metode konvensional.

Biaya produksi juga tercatat turun dari sekitar Rp73,1 juta menjadi Rp49,5 juta per tahun. Selain kentang dan kubis, GeO-Fert telah dimanfaatkan untuk sejumlah komoditas lain seperti cabai, tomat, dan labu siam.

General Manager PGE Area Kamojang, Albertus Novi Purwono, mengatakan program HAREPAN menunjukkan keterhubungan antara energi panas bumi, pengelolaan limbah, dan kegiatan produktif masyarakat.

“Panen kubis ini menjadi bukti bahwa inovasi yang dikembangkan bersama masyarakat dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat nyata bagi produktivitas maupun efisiensi usaha tani,” ujarnya.

GeO-Fert menjadi bagian dari pengembangan Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah yang juga dilengkapi PLTS mandiri berkapasitas 6,6 kWp dan baterai 20 kWh.

Ekosistem tersebut mengintegrasikan energi bersih dengan pengelolaan limbah dan kegiatan ekonomi masyarakat. PGE juga mengembangkan berbagai produk masyarakat, mulai dari olahan hasil bumi, teh daun kopi, ikan asin hingga pakan ikan yang memanfaatkan teknologi pengeringan berbasis panas bumi.

Bagi PGE, pengembangan GeO-Fert menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat energi panas bumi sekaligus mendorong kemandirian masyarakat di sekitar wilayah operasi melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). (mas)