☰
✕

Sekjen Kemnaker: AI percepat audit, auditor tetap pegang kendali

JAKARTA (IndoTelko) Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dinilai dapat mempercepat proses audit internal dengan membantu auditor mengolah data dalam jumlah besar dan mengidentifikasi indikasi risiko lebih awal. Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan auditor melalui proses validasi dan penilaian profesional.

Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Cris Kuntadi mengatakan organisasi saat ini menghasilkan data dalam jumlah besar dari berbagai aktivitas, mulai dari pembayaran, pengadaan, aset, perjalanan dinas hingga layanan digital.

Menurutnya, teknologi AI dan analisis data memungkinkan auditor menyaring jutaan baris data untuk menemukan pola yang tidak lazim secara lebih cepat.

“AI mempercepat analisis, data memperkuat assurance, sedangkan governance memastikan teknologi tetap berada dalam koridor akuntabilitas,” ujar Cris dalam Seminar Nasional Internal Audit 2026 di Yogyakarta, Selasa (29/9).

AI juga memungkinkan auditor memperluas cakupan pemeriksaan karena dapat membantu mengidentifikasi transaksi duplikat, nilai transaksi ekstrem, pola pembayaran berulang maupun aktivitas pengadaan yang tidak biasa.

Namun, Cris menegaskan temuan atau sinyal yang dihasilkan AI tidak dapat langsung dianggap sebagai kesalahan maupun pelanggaran. Auditor tetap harus memeriksa bukti, memahami konteks, serta memastikan kualitas data dan validitas analisis.

“AI memberikan sinyal risiko; auditor melakukan validasi, memeriksa bukti, memahami konteks, menggunakan professional judgment, dan mengambil kesimpulan. AI membantu kita menentukan di mana harus melihat, tetapi auditor yang menentukan apa maknanya,” katanya.

Karena itu, transformasi internal audit perlu dibarengi peningkatan kompetensi auditor. Kemampuan yang dibutuhkan tidak hanya mencakup metodologi audit, tetapi juga literasi dan analisis data, AI, keamanan siber, critical thinking, komunikasi, serta professional judgment.

Auditor juga dituntut memahami tata kelola penggunaan AI agar pemanfaatan teknologi tetap dapat dipertanggungjawabkan.

“AI bukan semata-mata soal teknologi. Yang ingin kita lihat adalah bagaimana AI mengubah lingkungan organisasi, mengubah profil risiko, dan pada akhirnya menuntut perubahan pada peran, fungsi, serta kompetensi auditor internal,” jelas Cris.

Meski teknologi terus berkembang, Cris menilai prinsip dasar profesi auditor tetap tidak berubah. Integritas, objektivitas, kompetensi, skeptisisme profesional, dan akuntabilitas harus tetap menjadi landasan dalam menjalankan fungsi pengawasan.

“Teknologi akan terus berubah. Metode audit akan terus berkembang. Tetapi integritas, objektivitas, kompetensi, skeptisisme profesional, dan akuntabilitas harus tetap menjadi pegangan kita,” pungkasnya. (mas)