☰
✕

28% konsumen eCommerce Indonesia masuk kategori cerdas

JAKARTA (IndoTelko) Perilaku konsumen eCommerce Indonesia mulai memasuki fase baru. Bukan hanya mengejar harga murah, konsumen semakin mempertimbangkan nilai, keamanan, keaslian produk hingga kemampuan memanfaatkan teknologi sebelum berbelanja.

Temuan tersebut terungkap dalam 2026 ECommerce Savvy Shopper Report: Southeast Asia yang disusun Lazada bersama perusahaan eCommerce intelligence, Cube. Survei terhadap 6.000 konsumen online di enam negara Asia Tenggara menunjukkan 28% konsumen online Indonesia masuk kategori Konsumen Cerdas (Savvy Shoppers).

Kelompok tersebut tercatat memiliki pengeluaran eCommerce bulanan 19% lebih tinggi dibandingkan Konsumen Biasa. Jika dikalkulasikan terhadap skala pasar Indonesia, perbedaan pengeluaran tersebut diperkirakan mencapai Rp65 triliun atau US$3,6 miliar pada 2026.

CEO Lazada Indonesia, Carlos Otermin Barrera, mengatakan perubahan perilaku konsumen menjadi bagian penting dari fase perkembangan eCommerce berikutnya.

“Konsumen Cerdas menjadi gambaran masa depan eCommerce di mana para konsumen berinteraksi lebih dekat dengan platform, membelanjakan uang dengan yakin, serta mampu menakar aspek seperti nilai belanja, rasa percaya, perlindungan konsumen, dan teknologi,” ujarnya.

Laporan tersebut mengukur kecerdasan konsumen melalui empat aspek, yaitu kemampuan memverifikasi produk dan penjual, mengoptimalkan nilai belanja, membangun rasa yakin dan aman, serta kecakapan digital dalam memanfaatkan informasi, social commerce dan teknologi seperti AI.

Indonesia menempati posisi kedua di Asia Tenggara dalam proporsi Konsumen Cerdas, di bawah Filipina yang mencapai 36%. Selain 28% Konsumen Cerdas, terdapat 19% konsumen Indonesia yang hanya terpaut satu dimensi untuk masuk kategori tersebut. Artinya, hampir separuh konsumen online Indonesia berada dalam kelompok Savvy maupun near-Savvy.

Menariknya, perilaku Konsumen Cerdas tidak semata-mata berorientasi pada harga termurah. Sebanyak 34% di antaranya bersedia membayar lebih untuk mendapatkan diskon yang lebih besar, sementara 30% rela meluangkan waktu untuk membandingkan penawaran.

Faktor perlindungan juga menjadi perhatian. Sebanyak 49% Konsumen Cerdas bersedia membayar lebih untuk mendapatkan perlindungan belanja, dibandingkan 27% Konsumen Biasa. Sebanyak 39% juga bersedia memilih pengiriman lebih lama jika memberikan nilai yang lebih baik.

Dari sisi generasi, Gen Z menunjukkan pola belanja yang semakin aktif dalam mengoptimalkan nilai. Sebanyak 65% konsumen Gen Z memanfaatkan bundling dan promo dalam keranjang belanja, lebih tinggi dibandingkan Gen X yang berada di angka 37%.

Co-Founder Cube, Simon Torring, mengatakan kecerdasan konsumen tidak dapat dilihat hanya dari sensitivitas terhadap harga.

“Belanja cerdas juga berkaitan dengan perilaku yang lebih terarah, mengambil keputusan berdasarkan informasi, dan merasa percaya diri dalam memanfaatkan ekosistem eCommerce,” katanya.

Temuan tersebut membuka peluang bagi platform, brand, dan seller untuk meningkatkan kualitas informasi produk, perlindungan transaksi, jaminan keaslian serta fitur digital yang membantu konsumen mengambil keputusan dengan lebih yakin. (mas)