☰
✕

NetApp dorong infrastruktur hybrid lebih otonom

JAKARTA (IndoTelko) NetApp memperluas kapabilitas hybrid multi-cloud dengan menghadirkan sejumlah kemampuan baru berbasis otomatisasi dan AI. Langkah ini ditujukan untuk membantu perusahaan mengelola beban kerja yang tersebar di pusat data, public cloud, hingga lingkungan yang membutuhkan kontrol kedaulatan data.

Perkembangan aplikasi enterprise dan beban kerja AI membuat infrastruktur perusahaan semakin terdistribusi. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan terhadap pengelolaan yang lebih konsisten sekaligus mampu menjaga aspek tata kelola, keamanan, efisiensi biaya, dan lokasi data.

Senior Vice President dan General Manager Platform NetApp, Sandeep Singh, mengatakan perusahaan tidak semestinya harus memilih antara kendali infrastruktur on-premise dan fleksibilitas cloud.

“Dengan kapabilitas hybrid multi-cloud baru ini, NetApp membantu perusahaan menghilangkan batas antarlingkungan, beroperasi dengan otonomi yang lebih besar, serta menempatkan efisiensi, kedaulatan, dan kontrol sebagai inti strategi data,” ujarnya.

Salah satu kemampuan baru yang diperkenalkan adalah NetApp Keystone Sovereign. Layanan ini dirancang untuk memberikan kontrol lebih besar terhadap kedaulatan dan residensi data, termasuk bagi pelanggan yang memenuhi syarat di Wilayah Ekonomi Eropa.

NetApp juga memperkenalkan Console Autonomous Operations yang memanfaatkan otomatisasi berbantuan AI untuk membantu tim IT menangani pengelolaan infrastruktur hybrid dalam skala besar. Sistem tersebut dapat membantu memprediksi masalah, mempercepat penyelesaian insiden serta mengoptimalkan kapasitas dan biaya, termasuk pada lingkungan air-gapped.

Sementara itu, NetApp Console Fleet Management memungkinkan pengelolaan berbagai aset infrastruktur dalam satu kesatuan. Fitur ini menggabungkan kemampuan fleet management, observability, dan AI melalui model yang dapat ditempatkan langsung di lingkungan pelanggan.

Kemampuan lainnya adalah NetApp Console AI ChatOps Interface. Melalui antarmuka berbasis percakapan, administrator dapat menjalankan sejumlah operasi penyimpanan secara lebih otomatis, termasuk intent-based provisioning, analitik prediktif dan remediasi.

Pendekatan tersebut tetap dilengkapi policy guardrails. Pelanggan juga dapat menggunakan large language model (LLM) milik sendiri melalui LLM gateway terbuka, dengan operasi tetap mengikuti kebijakan dan batas tata kelola yang telah ditentukan.

Di sisi ekosistem, NetApp memperluas kerja sama dengan Nutanix. Integrasi NetApp ONTAP dan Nutanix Cloud Infrastructure ditujukan untuk memberikan fleksibilitas lebih besar bagi perusahaan dalam mengelola lingkungan virtualisasi sekaligus mempertahankan investasi infrastruktur yang telah ada. Kapabilitas terintegrasi tersebut dijadwalkan tersedia secara umum pada musim gugur 2026.

Group Vice President Cloud and Datacenters Enterprise Infrastructure IDC, Dave McCarthy, menilai pendekatan hybrid multi-cloud diperlukan ketika perusahaan harus menjalankan beban kerja AI di lingkungan yang semakin tersebar.

Menurutnya, penggabungan operasi otonom, layanan data yang konsisten, efisiensi dan model konsumsi yang mempertimbangkan kedaulatan data dapat memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam menentukan lokasi terbaik untuk menjalankan beban kerja tanpa kehilangan kontrol terhadap infrastrukturnya. (mas)