JAKARTA (IndoTelko) Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan setelah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pada 29 September 2026, rupiah sempat melemah hingga sekitar Rp18.031 per dolar AS di tengah kenaikan imbal hasil obligasi AS dan harga minyak dunia.
EBC Financial Group menilai pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat dipengaruhi kombinasi sejumlah faktor eksternal dan domestik. Ada lima indikator yang dinilai perlu dicermati, yakni harga minyak, imbal hasil US Treasury, arus modal asing, kebutuhan valas dalam negeri, serta cadangan devisa dan strategi intervensi Bank Indonesia (BI).
Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, Sana Ur Rehman, mengatakan level Rp18.000 memang menjadi perhatian pasar, tetapi kondisi fundamental di balik pergerakan rupiah perlu diperhatikan secara bersamaan.
“Pertanyaan kuncinya adalah apakah indikator-indikator ini bergerak bersamaan atau mulai berlawanan arah,” ujarnya.
Harga minyak dan Selat Hormuz
Harga minyak menjadi salah satu sumber tekanan karena Indonesia masih membutuhkan impor energi. Ketika harga minyak meningkat, kebutuhan dolar untuk pembayaran impor juga dapat bertambah.
EBC menilai perkembangan harga Brent dan WTI, termasuk situasi di Selat Hormuz, menjadi indikator penting. Tekanan terhadap rupiah berpotensi lebih besar apabila harga minyak tinggi terjadi bersamaan dengan kenaikan yield obligasi AS dan keluarnya modal asing.
Yield obligasi AS
Faktor kedua berasal dari pasar keuangan Amerika Serikat. Kenaikan imbal hasil US Treasury membuat aset berbasis dolar menjadi relatif lebih menarik bagi investor global.
Federal Reserve pada September menaikkan target suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%-4%.
Karena itu, pergerakan yield US Treasury 10 tahun, indeks dolar AS serta selisih imbal hasil SBN Indonesia dengan obligasi AS menjadi indikator yang akan diperhatikan investor.
Arus modal asing
Pergerakan dana asing juga menjadi faktor penting. BI menyatakan kebijakan stabilisasi rupiah terus diperkuat, termasuk melalui insentif untuk mendorong aliran masuk modal asing. Dalam laporan September, BI mencatat investasi portofolio asing pada triwulan III hingga 21 September 2026 masih mencatat net inflows US$400 juta.
EBC juga menyoroti penggunaan instrumen swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF) dalam upaya mengelola tekanan pasar valas.
Kebutuhan dolar domestik
Dari sisi dalam negeri, permintaan dolar dari importir menjadi faktor berikutnya. Kebutuhan valas yang meningkat, terutama pada periode tertentu seperti akhir kuartal, dapat menambah tekanan terhadap rupiah.
Perkembangan ekspor-impor dan surplus neraca perdagangan karena itu menjadi indikator penting untuk melihat seberapa besar pasokan dolar dari aktivitas perdagangan mampu memenuhi kebutuhan valas domestik.
Cadangan devisa dan intervensi BI
Ketahanan eksternal Indonesia menjadi faktor terakhir. Data BI menunjukkan cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 berada di US$146,5 miliar, setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor.
BI juga mempertahankan BI-Rate 5,75% pada RDG 22-23 September 2026 dan terus mengoptimalkan instrumen moneter untuk menjaga stabilitas rupiah.
EBC menilai kelima indikator tersebut tidak dapat dilihat secara terpisah. Pergerakan harga minyak, yield AS, arus modal, kebutuhan dolar domestik serta kapasitas intervensi BI secara bersama-sama akan memberikan gambaran mengenai tekanan yang dihadapi rupiah dalam periode berikutnya.
Dengan demikian, level Rp18.000 maupun potensi pergerakan menuju Rp18.200 lebih tepat dibaca sebagai bagian dari dinamika pasar, bukan ditentukan oleh satu faktor tunggal. (mas)