☰
✕

Pasar masuk kuartal IV, DBS soroti peluang dan risiko

JAKARTA (IndoTelko) Pasar keuangan global memasuki kuartal IV 2026 dengan sejumlah tantangan, mulai dari tingginya harga energi, kenaikan imbal hasil obligasi hingga ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter.

Meski demikian, DBS Chief Investment Office (CIO) menilai aset berisiko masih menunjukkan ketahanan. Kinerja laba perusahaan yang solid dan berlanjutnya investasi kecerdasan buatan (AI) menjadi sejumlah faktor yang menopang aktivitas ekonomi.

Dalam laporan investasi untuk kuartal IV 2026, DBS melihat kondisi pasar kini menuntut investor lebih selektif. Perhatian tidak lagi hanya tertuju pada pertumbuhan pendapatan, tetapi juga kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas, mengelola utang, serta menjaga valuasi.

Pergerakan pasar saham juga mulai meluas. Jika sebelumnya teknologi menjadi motor utama, kini sektor keuangan, energi, dan kesehatan mulai menunjukkan momentum. Perubahan tersebut dinilai berkaitan dengan semakin luasnya pemanfaatan AI di berbagai sektor ekonomi.

DBS tetap melihat AI sebagai tema investasi jangka panjang. Namun, perhatian mulai bergeser dari perusahaan penyedia infrastruktur AI menuju perusahaan yang mampu memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan produktivitas, margin, dan pertumbuhan pendapatan.

Di pasar obligasi, kenaikan imbal hasil menjadi perhatian karena pemerintah dan perusahaan teknologi besar sama-sama membutuhkan pendanaan dalam jumlah besar. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya pendanaan dan mempertahankan volatilitas pasar obligasi.

DBS melihat peluang pada obligasi dengan durasi 57 tahun serta penerbit berperingkat BBB/BB yang memiliki arus kas kuat, tingkat utang terkendali, dan kemampuan melakukan deleveraging. Instrumen seperti TIPS dan agency mortgage-backed securities (MBS) juga dinilai dapat menjadi bagian dari strategi menghadapi tekanan inflasi.

Diversifikasi Jadi Fokus

DBS juga menempatkan aset alternatif sebagai bagian penting dalam membangun portofolio yang lebih tahan terhadap perubahan kondisi pasar. Emas mendapat dukungan dari pembelian bank sentral, permintaan dari Asia, serta kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal.

Sementara itu, pada aset privat dan hedge fund, peluang dinilai terdapat pada transaksi pasar sekunder, co-investment, pembiayaan senior beragunan, pembiayaan berbasis aset, serta infrastruktur dengan pendapatan berbasis kontrak.

Untuk saham, DBS melihat penguatan pasar berpotensi berlanjut secara bertahap seiring solidnya kinerja laba perusahaan. Namun, investor perlu mencermati tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi serta besarnya kebutuhan belanja modal perusahaan teknologi.

Dari sisi geografis, DBS mempertahankan perhatian pada pasar saham Asia di luar Jepang serta saham Amerika Serikat untuk horizon 12 bulan.

Secara keseluruhan, DBS menilai strategi menghadapi kuartal IV 2026 perlu mengedepankan keseimbangan portofolio dan seleksi aset. Investor tidak hanya dituntut melihat arah pasar secara luas, tetapi juga kemampuan masing-masing aset menghasilkan nilai di tengah perubahan lingkungan ekonomi dan kebijakan. (mas)