JAKARTA (IndoTelko) Keterbatasan pendengaran tidak menghalangi Imelda Situmorang, 36 tahun, untuk bekerja dan memperoleh penghasilan sebagai Mitra Pengemudi Grab Indonesia.
Sejak bergabung pada November 2025, Imelda memanfaatkan fleksibilitas waktu sebagai Mitra Pengemudi untuk tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai ibu. Ia memilih beroperasi di wilayah Bekasi agar tetap dekat dengan anaknya.
Sebelum menjadi pengemudi, Imelda bekerja selama tiga tahun di sebuah minimarket di Bandung. Setelah menikah, pindah ke Bekasi dan memiliki anak, ia membutuhkan pekerjaan dengan waktu yang lebih fleksibel.
Informasi mengenai pendaftaran Mitra Pengemudi Grab diperolehnya melalui Komunitas Ojol Tunarungu Indonesia (KOTRI). Dengan sepeda motor yang diberikan suaminya, yang juga merupakan Mitra Pengemudi Grab, Imelda kemudian mulai menjalani pekerjaan tersebut.
“Kalau menjadi driver atau Mitra Grab, saya bisa bebas mengatur waktu untuk bekerja. Saya sendiri biasanya bekerja di area Bekasi, supaya lebih dekat dengan anak saya yang berada di rumah,” ujar Imelda.
Sebagai Mitra Pengemudi Tuli, Imelda mengandalkan tulisan, ekspresi dan gestur untuk berkomunikasi dengan penumpang. Pada awal bergabung, ia biasanya memberi tahu pengguna melalui tulisan bahwa dirinya Tuli.
Menurut Imelda, pekerjaan tersebut sekaligus mengubah pandangannya mengenai kesempatan kerja bagi penyandang Tuli.
“Sebelumnya, saya tidak berpikir bahwa seorang Tuli bisa bekerja sebagai pengemudi ojek online. Di Grab ternyata ada ruang bagi pengemudi Tuli untuk berkarya,” katanya.
Dukungan Komunitas dan Rompi Teman Setara
Perjalanan Imelda tidak selalu berjalan mulus. Kendala komunikasi dengan pengguna maupun pengalaman mendapatkan penilaian yang kurang baik pernah dihadapinya.
Kehadiran komunitas kemudian menjadi salah satu sumber dukungan. KOTRI tidak hanya membantunya mendapatkan informasi pendaftaran, tetapi juga membantu memahami penggunaan aplikasi dan proses menerima pesanan.
Dukungan tersebut diperluas melalui kegiatan Kopdar Spesial Hari Bahasa Isyarat yang digelar Grab di Medan, Semarang dan Jakarta. Kegiatan yang diikuti 650 Mitra Pengemudi tersebut menjadi ruang bagi Mitra Tuli dan Mitra Dengar untuk saling mengenal budaya Tuli dan mempelajari komunikasi yang lebih inklusif.
Dalam rangkaian memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional pada 23 September 2026, Grab juga mendistribusikan 1.000 Rompi “Teman Setara” kepada Mitra Pengemudi Tuli.
Rompi tersebut dilengkapi panduan visual dan ilustrasi bahasa isyarat dasar yang dapat membantu komunikasi antara pengemudi dan penumpang.
“Rompi ini membantu memperlancar komunikasi karena memuat informasi visual yang dapat dilihat penumpang, misalnya untuk memberi arahan ke kiri atau kanan, serta menggunakan bahasa isyarat sederhana seperti ‘terima kasih’ dan ‘sama-sama’,” kata Imelda.
Bagi Imelda, akses terhadap pekerjaan saja belum cukup. Fleksibilitas, informasi, dukungan komunitas dan sarana komunikasi turut menentukan kemampuan Mitra Tuli untuk menjalankan pekerjaan secara mandiri.
Rangkaian kegiatan tersebut merupakan bagian dari program “Teman Setara: Satu Ekosistem, Semua Bisa Tumbuh” yang menjadi bagian dari upaya Grab memperluas aksesibilitas melalui inisiatif GrabAccess.
Sepanjang 2025, Grab menyebut telah mendukung lebih dari 6.207 Mitra disabilitas di Asia Tenggarauntuk memperoleh akses terhadap peluang ekonomi.
“Saya berharap rekan-rekan Tuli bisa terus didukung dan tetap menjaga semangatnya. Dan saling mendukung,” pungkas Imelda. (mas)