JAKARTA (IndoTelko) Persoalan kesehatan mental mulai memiliki dampak yang lebih luas terhadap produktivitas dan ketahanan ekonomi. Kondisi tersebut mendorong perlunya pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penanganan ketika gangguan telah terjadi, tetapi juga pada pencegahan dan akses dukungan sejak dini.
Zurich Insurance Group melalui laporan The Value of Mental Health yang diterbitkan April 2026 menempatkan kesehatan mental sebagai isu yang berkaitan erat dengan kualitas hidup, produktivitas dan sistem perlindungan masyarakat.
Laporan tersebut menganalisis kondisi di Australia, Chile, Jerman, Malaysia, Uni Emirat Arab dan Inggris dari tiga aspek, yakni people, productivity, dan protection systems.
Dari sisi produktivitas, gangguan kesehatan mental berpotensi menyebabkan kehilangan produktivitas hingga sekitar 5% dari PDB di sejumlah negara yang dikaji. Dampak terbesar disebut bukan semata-mata berasal dari absensi karena sakit, melainkan berkurangnya partisipasi masyarakat dalam angkatan kerja.
Secara individu, gangguan kesehatan mental juga dikaitkan dengan hilangnya sekitar 60-67 hari hidup sehat per tahun. Sementara secara agregat, kerugian terhadap kesejahteraan atau wellbeing loss di enam negara yang diteliti diperkirakan mencapai sekitar US$1 triliun setiap tahun.
Di Indonesia, isu tersebut juga menjadi perhatian. Data Kementerian Kesehatan RI yang dikutip Zurich mencatat sekitar 28 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental.
Country Manager dan Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara, mengatakan persoalan kesehatan mental perlu dilihat sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh.
“Berbagai temuan ini menunjukkan bahwa kesehatan mental memiliki dimensi yang lebih luas daripada persoalan kesehatan semata, termasuk terhadap produktivitas, kualitas hidup, dan ketahanan ekonomi,” ujar Edhi.
Menurut dia, sistem perlindungan juga memiliki peran untuk membantu masyarakat mengenali risiko, memperoleh informasi dan mendapatkan dukungan yang sesuai sejak awal.
Di Indonesia, Zurich memasukkan aspek wellbeing dalam proposisi asuransi kesehatan melalui empat pilar, yakni kesehatan fisik, mental, sosial dan finansial. Program tersebut diwujudkan melalui sejumlah kegiatan seperti seminar, pemeriksaan kesehatan, konsultasi, olahraga, kegiatan sukarela hingga literasi keuangan.
Upaya tersebut turut diwujudkan melalui kegiatan Fun Run 5K yang digelar Zurich pada 27 September 2026. Lebih dari 200 karyawan dan anggota komunitas mengikuti kegiatan tersebut dalam rangka memperingati 35 tahun perjalanan Zurich di Indonesia.
Selain aktivitas olahraga, peserta mendapatkan perlindungan kecelakaan diri gratis, pemeriksaan kesehatan dan edukasi mengenai gaya hidup sehat.
“Menjaga wellbeing secara menyeluruh tidak hanya membantu seseorang hidup lebih sehat, tetapi juga mendukung produktivitas, ketahanan finansial, serta kesiapan menghadapi berbagai risiko kehidupan,” pungkas Edhi. (mas)