JAKARTA (IndoTelko) Bitcoin (BTC) memasuki Oktober 2026 dengan sejumlah faktor yang berpotensi memicu pergerakan harga lebih volatil. Meski secara historis Oktober kerap menjadi bulan positif bagi aset kripto tersebut, kondisi pasar saat ini menunjukkan sejumlah tantangan masih membayangi.
Data historis menunjukkan Bitcoin mencatat kenaikan dalam 10 dari 15 periode Oktober terakhir dengan median return sekitar 11,2%. Namun, pola tersebut belum menjadi jaminan kinerja serupa akan kembali terjadi pada Oktober tahun ini.
Salah satu perhatian pasar datang dari arus dana ke spot Bitcoin ETF yang mulai melambat. Data internal FLOQ mencatat produk tersebut mencatat inflow selama tujuh sesi berturut-turut sejak 17 September dengan total sekitar US$2,98 miliar.
Namun, inflow pada 25 September hanya mencapai US$134,47 juta, turun cukup jauh dibandingkan rekor harian US$998,95 juta pada 21 September.
Dari sisi teknikal, Bitcoin kini berada di area yang menentukan arah pergerakan berikutnya. Level US$84.433 menjadi area yang perlu direbut kembali untuk membuka peluang menuju resistance lebih tinggi, sementara US$87.360 menjadi salah satu resistance penting.
Di sisi lain, level US$80.811 menjadi batas yang perlu diperhatikan. Jika ditembus secara berkelanjutan, Bitcoin berpotensi mengalami koreksi menuju kisaran US$74.957.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan Oktober dapat menjadi periode penting untuk menguji apakah momentum kenaikan pada September masih mampu dipertahankan.
“Bitcoin berada di fase yang cukup krusial. Secara historis, Oktober memang sering menjadi periode positif, tetapi kondisi pasar saat ini menunjukkan investor perlu melihat konfirmasi dari arus dana ETF, likuiditas, dan respons harga terhadap level resistance utama,” ujar Yudho.
Menurut dia, selama area support sekitar US$82.900-US$83.000 mampu dipertahankan, Bitcoin masih memiliki ruang menuju US$88.600-US$92.200. Sebaliknya, pelemahan di bawah zona tersebut dapat meningkatkan risiko koreksi.
Data Ekonomi AS Jadi Perhatian
Pergerakan Bitcoin pada awal Oktober juga akan dipengaruhi sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat. Data PCE, klaim pengangguran awal dan laporan pekerjaan AS menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Pada 28 September, Bitcoin berada di sekitar US$83.000 dengan US$85.000 menjadi resistance dan US$80.000 sebagai support utama. Sementara itu, yield Treasury AS 10 tahun berada di sekitar 5,15%.
Yudho mengatakan data ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan dapat meningkatkan ekspektasi pelonggaran moneter dan memberikan ruang bagi aset berisiko. Sebaliknya, data yang kuat berpotensi menjaga tekanan dari yield obligasi dan dolar AS.
Faktor lain yang perlu dicermati adalah besarnya posisi leverage. Data FLOQ menunjukkan posisi long Bitcoin dalam peta likuidasi 30 hari mencapai sekitar US$4,35 miliar hingga area US$74.179, jauh di atas posisi short sekitar US$1,65 miliar.
Struktur tersebut membuat pasar rentan terhadap likuidasi berantai apabila terjadi penurunan harga secara tajam.
Meski demikian, tekanan jual dari pemegang Bitcoin jangka panjang belum menunjukkan dominasi. Indikator Hodler Net Position Change kembali berada di zona positif sejak 31 Agustus dan meningkat dari 16.415 BTC pada 25 September menjadi 23.172 BTC pada 27 September.
Yudho menilai kombinasi arus dana institusional, kondisi makroekonomi dan struktur leverage akan menentukan karakter pergerakan Bitcoin sepanjang Oktober.
“Jika arus ETF kembali menguat dan Bitcoin mampu melewati resistance utama dengan volume yang sehat, momentum kenaikan dapat memperoleh konfirmasi. Sebaliknya, inflow yang melemah bersamaan dengan tekanan yield dan leverage yang meningkat perlu diwaspadai karena dapat memperbesar risiko koreksi,” pungkasnya. (mas)