JAKARTA (IndoTelko) — Family office di Asia Pasifik meningkatkan aktivitas investasi dan menerapkan strategi lebih aktif di tengah ketidakpastian ekonomi global, dengan kecerdasan artifisial (AI) menjadi salah satu sektor utama dalam investasi langsung.
Temuan tersebut tercantum dalam Citi Wealth Global Family Office Report 2026 yang disusun Global Family Office Group Citi Wealth berdasarkan survei terhadap lebih dari 350 family office di lebih dari 40 negara. Sebanyak 22% responden survei berasal dari kawasan Asia Pasifik.
Laporan tersebut menunjukkan 26% family office di Asia Pasifik mencatat imbal hasil tahunan lebih dari 15%. Kawasan ini juga mencatat target imbal hasil yang relatif tinggi, dengan 22% responden menargetkan imbal hasil tahunan di atas 15%.
Untuk menghadapi volatilitas pasar, sebanyak 62% family office di Asia Pasifik menggunakan strategi manajemen aktif, sedangkan 49% menerapkan strategi lindung nilai. Investasi langsung juga menjadi bagian penting dari strategi, dengan tingkat partisipasi mencapai 79%.
Sebanyak 77% family office di kawasan tersebut mengandalkan tim internal sebagai sumber peluang investasi. Pola tersebut menunjukkan peran tim internal tetap penting dalam mengidentifikasi dan mengeksekusi investasi langsung.
Fokus Investasi
AI menjadi salah satu tema investasi utama bagi family office Asia Pasifik. Sebanyak 80% responden menyebut AI sebagai sektor utama dalam investasi langsung, disusul sektor kesehatan, robotika, dan perangkat lunak.
Selain menjadi sasaran investasi, AI mulai digunakan dalam pengelolaan family office. Pemanfaatannya mencakup analisis investasi, pelaporan, otomatisasi alur kerja, hingga mendukung proses pengambilan keputusan.
Namun, penggunaan AI tersebut lebih banyak diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Keputusan investasi tetap berada di tangan manusia sehingga teknologi berfungsi sebagai pendukung proses pengelolaan portofolio.
Di tengah aktivitas investasi tersebut, family office Asia Pasifik tetap menghadapi sejumlah risiko. Sebanyak 53% responden menyebut stabilitas sistem keuangan global sebagai kekhawatiran, sementara 52% mencermati volatilitas pasar.
Secara global, hampir 90% family office melaporkan kinerja portofolio positif sepanjang tahun berjalan. Ekuitas publik kembali menjadi pilihan utama untuk penambahan alokasi, sedangkan aset pasar privat tetap dipandang penting untuk pertumbuhan jangka panjang.
Makin Kompleks
Kompleksitas pengelolaan kekayaan lintas negara juga meningkat seiring semakin terhubungnya keluarga dan aset mereka secara global. Sebanyak 38% responden memperkirakan tingkat globalisasi keluarga akan meningkat dalam lima tahun mendatang.
Perubahan tersebut meningkatkan kebutuhan terhadap keahlian perpajakan, kepatuhan, penataan aset, serta perencanaan lintas batas. Family office juga perlu menyesuaikan tata kelola untuk mengelola aset dan kepentingan keluarga di berbagai yurisdiksi.
Di sisi lain, sekitar sepertiga family office memperkirakan terjadi transisi kepemimpinan dalam keluarga, family office, atau bisnis keluarga dalam lima tahun mendatang. Kondisi tersebut membuat perencanaan suksesi dan pengembangan generasi penerus menjadi bagian dari agenda pengelolaan kekayaan.
Head of Asia for Integrated Client Solutions and Global Family Office Citi Wealth Bernard Wai mengatakan family office di Asia Pasifik semakin mengembangkan struktur pengelolaan kekayaan dengan kebutuhan terhadap talenta, tata kelola, dan pola pikir investasi yang semakin kompleks.
“Family office di seluruh Asia Pasifik telah berevolusi menjadi semakin canggih, dengan kebutuhan bakat, penataan, dan tata kelola berpola pikir investasi layaknya dana kekayaan negara,” kata Bernard.
Head of Family Office Advisory Citi Wealth Alexandre Monnier mengatakan meningkatnya kompleksitas global mendorong family office membangun portofolio yang lebih tangguh sekaligus memperkuat tata kelola dan kesiapan generasi penerus. (mas)