JAKARTA (IndoTelko) — Dana kelolaan reksa dana lokal dalam denominasi dolar AS meningkat US$388 juta atau 13% secara year to date hingga pertengahan 2026, seiring meningkatnya perhatian investor terhadap diversifikasi aset lintas negara dan mata uang.
Perubahan kondisi pasar dan dinamika nilai tukar global membuat diversifikasi menjadi salah satu strategi yang dipertimbangkan investor. Diversifikasi tidak hanya dilakukan berdasarkan kelas aset, tetapi juga dapat mencakup sektor, negara, wilayah, dan mata uang.
Data Bank Indonesia menunjukkan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) Indonesia mencapai US$571,5 miliar pada kuartal II 2026. Posisi tersebut meningkat 1,9% dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar US$560,7 miliar.
Peningkatan AFLN terutama berasal dari aset investasi lainnya, investasi langsung, dan investasi portofolio. Perkembangan tersebut menunjukkan meningkatnya eksposur aset keuangan Indonesia terhadap instrumen di luar negeri.
Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia Ni Made Daryanti mengatakan perkembangan tersebut membuat diversifikasi global semakin relevan bagi investor. Namun, keputusan investasi tidak seharusnya hanya didasarkan pada pergerakan nilai tukar atau peluang keuntungan jangka pendek.
“Strategi ini perlu dipertimbangkan berdasarkan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing investor, agar keputusan investasi tidak hanya mengikuti dinamika pasar dan mengejar peluang,” ujarnya.
Diversifikasi Tidak Sekadar Tambah Aset
Diversifikasi global tidak berarti investor harus mengganti aset domestik dengan instrumen luar negeri. Strategi tersebut dapat digunakan untuk melengkapi portofolio dengan eksposur yang lebih beragam sehingga ketergantungan terhadap satu pasar, sektor, atau mata uang dapat dikurangi.
Investor juga perlu memperhitungkan dampak perubahan nilai tukar terhadap instrumen berdenominasi valuta asing. Hasil investasi dapat dipengaruhi oleh kinerja aset sekaligus pergerakan kurs, sehingga eksposur mata uang perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko.
Kebutuhan finansial yang melibatkan valuta asing juga dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan eksposur global. Kebutuhan tersebut antara lain biaya pendidikan di luar negeri, perjalanan internasional, kepemilikan aset global, atau investasi untuk tujuan jangka panjang.
Di sisi lain, investasi global tetap memiliki risiko, termasuk volatilitas pasar, perubahan nilai tukar, biaya transaksi, serta risiko yang melekat pada aset yang dipilih. Diversifikasi dapat mengurangi konsentrasi risiko, tetapi tidak menjamin keuntungan maupun menghilangkan risiko investasi.
“Ketika seseorang memiliki tujuan keuangan yang melibatkan valuta asing atau eksposur terhadap pasar global, diversifikasi dapat menjadi salah satu pendekatan yang dipertimbangkan secara terukur. Jadi, bukan sekadar mengikuti pergerakan kurs, melainkan memahami peran setiap aset dalam keseluruhan portofolio,” kata Ni Made. (mas)