☰
✕

AI Agent mulai masuk produksi pengembangan software

JAKARTA (IndoTelko) — Penggunaan artificial intelligence (AI) di kalangan pengembang perangkat lunak Indonesia terus meningkat, tetapi perluasan penggunaan AI agent mulai memunculkan perhatian terhadap biaya, integrasi, tata kelola, dan pengawasan manusia.

Temuan tersebut tercatat dalam AI Developer Report 2026 yang dirilis Agoda bersama Macramé Consulting. Studi tersebut menghimpun masukan dari komunitas developer di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam, dan India.

Laporan menunjukkan pola penggunaan AI mulai bergeser dari sekadar asisten untuk menyelesaikan tugas tertentu menjadi bagian dari berbagai tahapan siklus pengembangan perangkat lunak. Perubahan tersebut antara lain terlihat dari penggunaan AI agent yang mampu menjalankan pekerjaan secara lebih otonom.

Produktivitas menjadi salah satu manfaat yang paling dirasakan developer. Sebanyak 55% responden mengaku dapat menghemat setidaknya tujuh jam kerja per minggu melalui AI, meningkat dari 18% pada 2025.

Kualitas kode yang dihasilkan AI juga dinilai semakin baik. Sebanyak 62% responden menyatakan kode yang dihasilkan AI sering atau hampir selalu dapat digunakan tanpa perubahan besar.

Pemanfaatan AI kini meluas dari pembuatan kode ke aktivitas lain, seperti code review, perancangan arsitektur, debugging, pembelajaran, dan dokumentasi.

Meski penggunaan AI meningkat, pengembang belum sepenuhnya menyerahkan pengambilan keputusan kepada sistem tersebut. Sebanyak 86% responden masih selalu atau hampir selalu melakukan peninjauan maupun validasi terhadap hasil yang diberikan AI.

AI Agent
Penggunaan AI agent juga mulai masuk ke lingkungan perusahaan. Sebanyak 53% responden menyatakan AI agent telah digunakan dalam alur kerja produksi tertentu atau secara luas di organisasi mereka.

Namun, kesiapan menuju penggunaan AI agent yang sepenuhnya otonom masih terbatas. Hanya 38% responden yang menyebut codebase mereka sebagian besar atau sepenuhnya siap mendukung penggunaan AI agent secara otonom.

Biaya menjadi salah satu hambatan utama adopsi AI. Sebanyak 28% responden menempatkan biaya sebagai kendala terbesar, disusul kompleksitas integrasi sebesar 24% dan kurangnya tata kelola sebesar 19%.

Laporan tersebut mencatat biaya AI tidak hanya berasal dari penggunaan model. Perusahaan juga perlu memperhitungkan sumber daya untuk merancang, mengintegrasikan, mengawasi, dan memvalidasi sistem sebelum digunakan dalam lingkungan produksi.

Sekitar empat dari lima responden juga mengaku bekerja dengan berbagai pembatasan penggunaan AI, seperti kuota token, batas pemakaian, dan pembatasan anggaran.

Tingkat otonomi AI mulai meningkat pada pekerjaan dengan risiko relatif rendah dan mudah dibatalkan, seperti dokumentasi. Namun, ketika hasil AI akan diterapkan ke lingkungan produksi, pengawasan manusia tetap menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan.

Sebanyak 79% responden menyatakan persetujuan manusia tetap diperlukan sebelum hasil AI diterapkan ke lingkungan produksi.

CTO Agoda Idan Zalzberg mengatakan peningkatan kemampuan AI membawa perubahan sekaligus tanggung jawab baru bagi organisasi.

“Kecerdasan buatan membentuk ulang cara para pengembang di Asia Tenggara dan India dalam membangun, belajar, dan berkolaborasi. Sesuatu yang awalnya digunakan untuk mempercepat tugas-tugas individual kini berkembang menjadi perubahan yang lebih luas dalam cara perangkat lunak dibangun,” ujarnya.

Menurut Zalzberg, tantangan penggunaan AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan model, tetapi juga pengendalian biaya, perlindungan sistem, dan pemeliharaan penilaian manusia dalam keputusan penting.

Kompetensi Developer
Perubahan pola kerja tersebut turut memengaruhi kompetensi yang dibutuhkan pengembang. Laporan mengidentifikasi arsitektur dan desain sistem, literasi AI, serta kemampuan melakukan orkestrasi agent sebagai sejumlah keterampilan yang semakin penting.

Namun, persepsi terhadap prospek karier belum merata di seluruh jenjang pengembang. Sebanyak 49% pengembang pemula mengaku kurang yakin terhadap prospek karier mereka di masa depan, dibandingkan 16,7% responden yang berada pada posisi CTO dan VP Engineering.

Agoda menyatakan studi tersebut menjadi bagian dari upayanya mendukung talenta teknologi lokal sekaligus berbagi wawasan mengenai penerapan AI yang bertanggung jawab.

Sebagai perusahaan teknologi perjalanan digital, Agoda juga mengembangkan platform yang menawarkan lebih dari 6 juta properti, lebih dari 130.000 rute penerbangan, serta lebih dari 300.000 aktivitas yang dapat dikombinasikan dalam satu pemesanan. (mas)