☰
✕

Physical AI jadi fase baru perkembangan AI

JAKARTA (IndoTelko) — Kecerdasan buatan (AI) mulai memasuki fase baru dengan kemampuan berinteraksi langsung dengan dunia fisik, setelah sebelumnya berkembang melalui sistem yang berfokus pada pemrosesan dan produksi informasi.

Corporate Vice President, APJ Embedded Business AMD Steven Fong mengatakan perkembangan tersebut menandai pergeseran dari AI yang membantu manusia mengolah informasi menuju sistem yang mampu merasakan lingkungan, mengambil keputusan, dan melakukan tindakan secara real-time.

Menurut Fong, gelombang awal AI ditandai oleh large language model (LLM), asisten AI, dan copilot yang digunakan untuk pencarian informasi, pembuatan konten, peringkasan, hingga pengambilan keputusan.

Perkembangan berikutnya mengarah pada physical AI, termasuk robot yang bekerja bersama manusia, kendaraan otonom, sistem medis, dan infrastruktur pintar.

“Physical AI telah membentuk kembali berbagai industri, dan AMD percaya bahwa inilah transisi yang akan menentukan dekade AI berikutnya. Ini merupakan peralihan dari sistem yang tahu menjadi sistem yang melakukan,” ujar Steven.

Tantangan
Peralihan AI ke dunia fisik membawa kebutuhan komputasi yang berbeda dibandingkan sistem AI berbasis cloud. Sistem seperti chatbot masih dapat mentoleransi tingkat keterlambatan tertentu, sedangkan robot di lantai produksi, kendaraan otonom, dan perangkat medis membutuhkan respons cepat dan konsisten.

Karena itu, physical AI membutuhkan kemampuan seperti respons real-time, perilaku deterministik, functional safety, efisiensi daya dan termal, serta kemampuan beroperasi ketika konektivitas terbatas.

Steven menjelaskan sistem physical AI tidak hanya membutuhkan model AI yang semakin pintar. Sistem tersebut harus mengintegrasikan seluruh proses, mulai dari sensor dan persepsi, inferensi, perencanaan, kontrol, hingga tindakan fisik.

Kondisi tersebut membuat pengembangan physical AI menjadi persoalan rekayasa sistem yang tidak hanya bergantung pada pengembangan model AI.

Komputasi Heterogen
AMD menilai tidak ada satu jenis prosesor yang dapat menangani seluruh kebutuhan physical AI secara optimal. Sistem membutuhkan pendekatan komputasi heterogen agar setiap komponen dapat menjalankan fungsi sesuai karakteristik bebannya.

Dalam pendekatan tersebut, CPU dan GPU berkinerja tinggi dapat menangani penalaran, persepsi, dan beban kerja AI. Sementara itu, Adaptive SoC dan NPU dapat menangani pemrosesan berlatensi rendah dengan konsumsi daya yang lebih efisien.

FPGA juga dapat digunakan untuk menangani kontrol sensor dan aktuator yang membutuhkan presisi serta perilaku deterministik.

Dengan demikian, sistem physical AI dapat menggabungkan CPU, GPU, NPU, Adaptive SoC, dan FPGA dalam satu rangkaian sensor-to-action dengan fungsi yang berbeda.

Fong mengatakan pendekatan tersebut sejalan dengan strategi AMD yang mengembangkan portofolio komputasi heterogen untuk berbagai sektor, termasuk otomotif, otomasi industri, telekomunikasi, kesehatan, dan kedirgantaraan.

AMD juga memperluas ekosistem melalui AMD Robotics Partner Network dan AMD Kria AI Solutions untuk membantu pengembang membawa solusi dari tahap prototipe menuju produksi.

Relevan
Fong menilai perkembangan physical AI relevan bagi negara dengan basis manufaktur seperti Indonesia yang menghadapi perubahan struktur demografi dan kebutuhan peningkatan produktivitas industri.

Menurutnya, Indonesia menghadapi tantangan berupa populasi yang menua dan persaingan tenaga kerja yang dapat mendorong pemanfaatan otomasi, robotika, serta infrastruktur cerdas.

“Bagi perekonomian seperti ini, physical AI bukan sekadar tren teknologi. Teknologi ini menjadi alat penting untuk menjaga produktivitas jangka panjang, daya saing industri, dan ketahanan ekonomi,” ujarnya.

Pemanfaatan physical AI tidak secara otomatis menyelesaikan seluruh tantangan industri. Namun, kemampuan sistem cerdas untuk merasakan lingkungan, mengambil keputusan, dan bertindak secara aman membuka peluang perubahan dalam operasional industri.

Perkembangan AI berikutnya dengan demikian tidak hanya ditentukan oleh kemampuan sistem memahami informasi, tetapi juga kemampuan menerjemahkan kecerdasan tersebut menjadi tindakan di dunia nyata. (mas)