☰
✕

The Telkom Hub jadi kawasan Net Zero, Telkom perluas energi bersih

JAKARTA (IndoTelko) PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) memperkuat strategi dekarbonisasi untuk mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060). Salah satu capaian terbaru ditunjukkan melalui The Telkom Hub yang telah mencapai net zero untuk emisi Cakupan 1 dan Cakupan 2.

Pencapaian tersebut didukung pemanfaatan energi terbarukan, efisiensi energi, elektrifikasi, serta instrumen berbasis pasar seperti Renewable Energy Certificate (REC) dan Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE GRK).

REC dan SPE GRK tersebut diserahkan oleh PT Energy Management Indonesia (Persero) (EMI), perusahaan yang bergerak di bidang konsultansi energi terbarukan, efisiensi energi, dan layanan dekarbonisasi.

VP Sustainability Telkom, Gunawan Wasisto Ciptaning Andri, mengatakan pencapaian The Telkom Hub menjadi salah satu tahapan penting dalam penerapan Rencana Transisi Iklim TelkomGroup.

“Pencapaian The Telkom Hub sebagai kawasan net zero untuk emisi Cakupan 1 dan 2 menjadi salah satu milestone penting yang menunjukkan bahwa upaya dekarbonisasi dapat diterapkan secara nyata di tingkat operasional,” ujarnya.

TelkomGroup melalui Rencana Transisi Iklim yang diluncurkan pada 2025 menetapkan pengurangan emisi Scope 1 dan Scope 2 secara bertahap, yakni 20% pada 2030, 40% pada 2040, 70% pada 2050, hingga mencapai 100% pada 2060.

Untuk mencapai target tersebut, TelkomGroup mengandalkan enam key decarbonization levers, antara lain efisiensi energi, elektrifikasi, pemanfaatan energi terbarukan, dan instrumen berbasis pasar.

Energi Terbarukan dan REC

Di kawasan The Telkom Hub, pemanfaatan energi terbarukan telah dilakukan melalui berbagai inisiatif. Berdasarkan Sustainability Report Telkom 2025, terdapat 77 unit Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS) yang telah beroperasi di kawasan tersebut.

Penggunaan energi surya itu diproyeksikan menghemat konsumsi listrik Telkom Landmark Tower hingga 20.235,6 kWh per tahun.

Telkom juga memanfaatkan REC untuk mendukung pengelolaan emisi Scope 2 berbasis market-based. Sebanyak 45.407 REC dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) telah dibeli Telkom bersama operating company PT Telkom Data Ekosistem (NeutraDC).

Penggunaan REC tersebut berpotensi menurunkan emisi hingga 42.425,7 ton COâ‚‚e, sekaligus mendukung keterlacakan atribut energi terbarukan dalam pengelolaan emisi listrik.

Direktur Utama PT Telkom Landmark Tower, Suratman, mengatakan pengelola The Telkom Hub terus melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan efisiensi energi.

“Saat ini kami juga sedang menerapkan modul teknologi Building Management System. Beberapa asesmen energi telah kami lakukan, termasuk pada aspek teknikal dan perangkat, serta optimalisasi penggunaan energi yang ada,” katanya.

Selain itu, Telkom menyebut 66 lokasi Point of Presence (PoP) telah menggunakan energi terbarukan dengan porsi mencapai 21%. Langkah tersebut menjadi bagian dari program GoZero% Sustainability Action by Telkom Indonesia, khususnya pilar Save Our Planet.

Direktur Utama EMI, Henri Firdaus, mengatakan optimalisasi energi menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan energi. Menurutnya, efisiensi tidak hanya berkaitan dengan pengurangan konsumsi, tetapi juga memastikan energi yang tersedia digunakan secara lebih efektif dan berkelanjutan.

“Ke depan, kami berharap dapat terus menjadi sustainable partner bagi Telkom, termasuk dalam mendukung upaya pengelolaan dan offset emisi dari berbagai kegiatan dengan cakupan Scope 1 hingga Scope 3,” ujarnya.

Telkom selanjutnya akan mengintegrasikan prinsip dekarbonisasi dalam operasional melalui Rencana Transisi Iklim dan berbagai program terukur untuk mencapai target NZE 2060, sekaligus meningkatkan efisiensi dan kesiapan perusahaan menghadapi perubahan dalam sistem energi. (mas)