JAKARTA (IndoTelko) - Indonesia mulai memasuki fase masyarakat menua, namun kesiapan menghadapi masa pensiun dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan. Riset DBS Foundation menunjukkan tingginya akses masyarakat terhadap layanan keuangan belum sepenuhnya diikuti kepemilikan tabungan maupun dana pensiun.
Dalam riset bertajuk “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?”, DBS Foundation mencatat populasi lansia Indonesia telah mencapai 12% pada 2025 dan diproyeksikan menembus 20% pada 2045.
Di sisi lain, Indonesia masih menikmati bonus demografi. Sekitar 69% penduduk berada dalam kelompok usia produktif 1565 tahun pada 2025. Namun, proporsi tersebut diperkirakan terus menyusut seiring turunnya tingkat kelahiran dan meningkatnya harapan hidup.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika mengatakan persoalan masyarakat menua perlu dipersiapkan sejak seseorang masih berada dalam usia produktif.
“Ageing society merupakan isu penting bagi kami karena memiliki implikasi bagi seluruh generasi. Di DBS Foundation, kami percaya persiapan menghadapi populasi menua perlu dipersiapkan sejak usia produktif,” ujar Mona.
Akses Keuangan Belum Berujung Dana Pensiun
Salah satu temuan riset menunjukkan inklusi keuangan pada kelompok usia 1850 tahun telah mencapai 93,595,1%, sementara tingkat literasi keuangan berada di kisaran 72,174,1%.
Namun, kepemilikan tabungan atau dana pensiun masih berada di angka 5,37%. Sementara itu, pemahaman mengenai pentingnya dana pensiun baru mencapai 27,79%.
Layanan keuangan juga masih didominasi sektor perbankan dengan porsi 65,5%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa memiliki akses terhadap produk keuangan belum otomatis berarti masyarakat telah memiliki perencanaan finansial untuk masa pensiun.
DBS Foundation menilai diperlukan skema pensiun yang lebih fleksibel untuk pekerja sektor informal dan wiraswasta agar cakupan perlindungan pensiun dapat diperluas.
Tekanan tersebut semakin besar karena 55,32% lansia masih bekerja, dengan 84,75% di antaranya berada di sektor informal. Pada tingkat nasional, sekitar 59,42% tenaga kerja juga bekerja di sektor informal, yang umumnya memiliki pendapatan lebih rendah dan tidak menentu serta akses terbatas terhadap tunjangan ketenagakerjaan.
Riset juga mencatat 82,96% rumah tangga lansia masih bergantung pada penghasilan anggota keluarga yang bekerja, sedangkan kurang dari 1% mengandalkan tabungan dan investasi sebagai sumber kehidupan ekonomi.
Beban Berpotensi Bergeser ke Generasi Produktif
Perubahan struktur keluarga turut menjadi tantangan. Tingkat fertilitas total turun dari 3,11 anak per perempuan pada awal 1990-an menjadi 2,13 pada 2024, dan diproyeksikan mencapai 1,97 pada 2045.
Jumlah pernikahan juga turun dari 2,01 juta pada 2018 menjadi 1,48 juta pada 2025. Keluarga yang semakin kecil berpotensi membuat jumlah anggota usia produktif yang dapat berbagi tanggung jawab finansial dan perawatan orang tua semakin terbatas.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK RI Woro Srihastuti Sulistyaningrum mengatakan kesiapan menghadapi masa tua perlu dibangun sepanjang siklus kehidupan.
“Kita perlu memastikan bahwa setiap tahapan kehidupan mendapat perhatian yang tepat, mulai dari masa awal kehidupan, pendidikan, usia produktif, hingga memasuki usia lanjut,” ujar Woro.
Menurutnya, pendekatan tersebut diperlukan agar peningkatan kualitas sumber daya manusia berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat di setiap fase kehidupan.
Kesiapan Pensiun Tak Hanya Soal Uang
DBS Foundation menilai persiapan menghadapi populasi menua tidak dapat hanya bertumpu pada kebiasaan menabung. Pendidikan, kesehatan, keterampilan, pekerjaan layak, perlindungan sosial, hingga akses terhadap skema pensiun turut menentukan tingkat kemandirian seseorang di masa depan.
Artist, Entrepreneur and Founder of Cinta Laura Foundation Cinta Laura Kiehl menilai persiapan masa depan juga perlu dimulai sejak usia produktif melalui pendidikan, pengembangan kapasitas, gaya hidup sehat, dan literasi finansial.
Sebagai bagian dari kampanye “Pensiun Gak Susah”, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation juga menghadirkan Retirement Goal Calculator. Fitur tersebut membantu pengguna memperkirakan kebutuhan finansial berdasarkan target usia pensiun, pengeluaran, gaya hidup, inflasi, serta asumsi imbal hasil investasi.
DBS Foundation juga mendorong keterlibatan dunia usaha dan Businesses for Impact dalam menghadirkan solusi untuk kebutuhan masyarakat menua, termasuk layanan kesehatan dan perawatan, keamanan finansial, pembelajaran sepanjang hayat, serta keterhubungan sosial.
Sejak 2015, DBS Foundation telah menyalurkan lebih dari SGD26 juta dalam bentuk hibah kepada lebih dari 180 social enterprises dan Businesses for Impact di Asia. Di Indonesia, lebih dari SGD4 jutatelah dialokasikan kepada 25 penerima dari kategori tersebut.
Melalui program Impact Beyond Award (IBA) yang diluncurkan pada 2024, DBS Foundation juga telah mendukung empat social enterprise di Asia dengan total hibah SGD3 juta untuk pengembangan solusi terkait masyarakat menua, mulai dari pelatihan caregiver, teknologi untuk meningkatkan kemandirian lansia, hingga ekosistem perawatan lansia terintegrasi. (mas)