☰
✕

CTI Group dorong siswa SMK kuasai AI

JAKARTA (IndoTelko) - Kecerdasan artifisial (AI) mulai menjadi kompetensi yang dibutuhkan sejak bangku pendidikan vokasi. Hal ini terlihat dalam program DIGIForward 2026 yang mempertemukan siswa dan guru SMK di Jawa Tengah untuk mengembangkan solusi digital bagi persoalan layanan publik.

Program yang digelar PT Computrade Technology International (CTI Group) tersebut menggunakan pendekatan design thinking dan cognitive automation berbasis AI. Peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi langsung mengembangkan prototype melalui rangkaian innovation sprint selama dua hari satu malam.

DIGIForward menjadi salah satu upaya menjembatani kebutuhan industri teknologi dengan kompetensi pendidikan vokasi. Peserta dilatih mulai dari mengidentifikasi persoalan, memahami kebutuhan pengguna, merancang solusi, memilih teknologi hingga mempresentasikan hasil pengembangan.

CEO CTI Group, Rachmat Gunawan, mengatakan perkembangan AI membuat kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting bagi talenta vokasi.

“Program ini tidak hanya memperkenalkan teknologi, tetapi juga membantu mempersiapkan talenta vokasi agar lebih adaptif dan relevan dengan kebutuhan dunia industri yang terus berkembang,” ujarnya.

DIGIForward 2026 melibatkan 15 sekolah pada tahap awal. Setiap tim beranggotakan empat siswa dengan pembagian tugas sebagai Team Leader, dua Developer, serta Quality Assurancedan Pitcher.

Setelah mengikuti online onboarding dan upskilling training, peserta mengembangkan proposal berdasarkan studi kasus yang ditemukan di lingkungan mereka. Dari proses tersebut dipilih 10 tim untuk mengikuti Innovation Sprint.

Pada tahap ini, peserta mendapat pendampingan langsung dari AI Solution Engineer CTI. Mereka mengeksplorasi teknologi yang digunakan di industri dan menerapkannya untuk membangun prototype. Kompetisi kemudian ditutup dengan final pitching di hadapan dewan juri.

Hasilnya, XSATA Swift dari SMK Negeri Tengaran keluar sebagai juara pertama melalui Xsata Career, platform bimbingan karier berbasis AI.

Platform tersebut dirancang untuk membantu siswa memperoleh konsultasi karier yang lebih personal, informasi industri, serta rekomendasi yang disesuaikan dengan minat, potensi, dan jurusan.

Tim XSATA Swift mengembangkan solusi tersebut dari persoalan yang mereka temukan, yakni masih banyak siswa yang mengalami kebingungan menentukan jurusan dan pilihan karier, sementara kapasitas layanan bimbingan konseling di sekolah terbatas.

“Awalnya kami melihat masih banyak siswa yang bingung memilih jurusan dan karier karena keterbatasan guru BK. Dari situ, kami mencoba membuat solusi yang bisa memberikan panduan yang lebih personal,” kata Keisya dan Devin dari XSATA Swift.

Posisi kedua diraih Sikat Stemba dari SMK Negeri 7 Semarang dengan WadulKan. Solusi berbasis AI tersebut mengubah laporan warga menjadi rancangan surat pengaduan secara otomatis untuk membantu mempercepat proses administrasi di tingkat kelurahan.

Sementara SKANIDA dari SMK Negeri 2 Semarang menempati posisi ketiga melalui Gizka Gizi Kita. Platform ini memanfaatkan AI untuk mengenali kandungan gizi makanan berdasarkan foto sehingga pengguna dapat memperoleh informasi gizi dengan lebih praktis.

Bagi CTI Group, tiga solusi tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran AI di tingkat SMK dapat diarahkan pada persoalan yang konkret. Peserta tidak hanya belajar menggunakan tools, tetapi juga dituntut memahami masalah, kebutuhan pengguna dan potensi implementasi teknologinya.

DIGIForward 2026 melibatkan 10 sekolah, 10 guru, dan 40 siswa pada tahap Innovation Sprint. Program ini sebelumnya telah digelar di Jawa Timur pada 2025 dan kini diperluas ke Jawa Tengah sebagai bagian dari upaya CTI Group memperkuat kesiapan talenta vokasi menghadapi kebutuhan industri digital. (mas)