☰
✕

Wamenaker ajak anak muda manfaatkan AI

JAKARTA (IndoTelko) - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mendorong generasi muda tidak melihat kecerdasan buatan (AI) sebagai ancaman terhadap pekerjaan, tetapi memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat daya saing di tengah perubahan dunia kerja.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor mengatakan perkembangan AI, otomatisasi, dan teknologi digital telah mengubah pola kerja di berbagai sektor. Kondisi tersebut menuntut generasi muda untuk terus meningkatkan kompetensi sekaligus memiliki kemampuan beradaptasi.

“Jangan takut pada AI, tapi jangan sampai tertinggal oleh AI. Jadikan teknologi sebagai alat pengganda produktivitas kalian,” kata Afriansyah saat memberikan kuliah umum di Universitas Batanghari, Jambi, Sabtu (12/9).

Menurutnya, ijazah bukan lagi satu-satunya modal memasuki dunia kerja. Kompetensi, karakter, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar menjadi faktor penting menghadapi perubahan kebutuhan industri.

Tantangan tersebut semakin besar karena Indonesia memiliki jumlah angkatan kerja yang mencapai 154,91 juta orang berdasarkan data BPS Februari 2026. Pada periode yang sama, tingkat pengangguran tercatat 4,68%, sementara 19,44% pemuda berusia 1524 tahun masuk kategori NEET atau tidak bekerja, tidak menempuh pendidikan, maupun mengikuti pelatihan.

Afriansyah juga mendorong anak muda mengubah pola pikir dari sekadar pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja. Menurutnya, penguasaan teknologi dapat menjadi modal untuk menghasilkan solusi sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.

Untuk memperkuat kesiapan tenaga kerja muda, Kemnaker menjalankan sejumlah program pengembangan kompetensi, di antaranya Pelatihan Vokasi Nasional (PVN), Program Magang Nasional (MagangHub), Talent and Innovation Hub (TIH) Pembinaan Talenta Vokasi Indonesia, serta pelatihan melalui Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP).

Kemnaker juga menilai perguruan tinggi perlu semakin dekat dengan kebutuhan industri. Kampus tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan akademik, tetapi juga perlu memperkuat karakter, kompetensi, kemampuan beradaptasi, dan kewirausahaan.

Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas, dan media dinilai penting untuk membangun ekosistem ketenagakerjaan yang mampu mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan teknologi.

Langkah tersebut sejalan dengan arah RPJMN 20252029 dalam membangun sumber daya manusia yang adaptif dan memiliki daya saing global.

Dengan perkembangan AI yang semakin cepat, generasi muda Indonesia didorong tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menjadikannya alat untuk meningkatkan produktivitas, menciptakan peluang kerja, dan mengambil peran lebih besar dalam pembangunan ekonomi nasional. (mas)