JAKARTA (IndoTelko) - Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu tujuan utama investasi di Asia Tenggara hingga 2027, di tengah perubahan rantai pasok global dan ketidakpastian geopolitik.
Bank DBS Indonesia melihat tren China+1 dan Taiwan+1, hilirisasi, serta pertumbuhan sektor manufaktur strategis membuka ruang lebih besar bagi Indonesia untuk menarik investasi asing, khususnya di sektor kendaraan listrik, energi, infrastruktur, teknologi, elektronik, dan semikonduktor.
Pandangan tersebut mengemuka dalam forum The Indonesia Equation: Risks, Returns and the Road to 2027 yang digelar Bank DBS Indonesia. Forum tersebut mempertemukan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, DBS Group Research, serta sejumlah perusahaan multinasional untuk membahas prospek investasi Indonesia di tengah perubahan ekonomi global.
Senior Economist DBS Group Research, Radhika Rao, mengatakan perubahan menuju ekonomi global yang semakin multipolar menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan baru.
“Keunggulan Indonesia ke depan tidak hanya terletak pada sumber daya alam dan ukuran pasar, tetapi juga pada kemampuannya menarik investasi berbasis teknologi, memperkuat rantai nilai domestik, mengembangkan ekonomi digital, serta menjaga stabilitas kebijakan dan makroekonomi,” ujar Radhika.
Menurut DBS Group Research, relokasi rantai pasok global melalui strategi China+1 dan Taiwan+1 dapat meningkatkan peran Indonesia dalam jaringan manufaktur Asia. Agenda hilirisasi juga membuka peluang investasi pada energi, infrastruktur, manufaktur strategis, hingga ekosistem kendaraan listrik.
Indonesia juga memiliki kombinasi pasar domestik yang besar, sumber daya, tenaga kerja, serta ekosistem industri yang terus berkembang. Namun, daya tarik tersebut perlu diperkuat dengan infrastruktur, kepastian regulasi, kualitas sumber daya manusia, serta kemudahan berusaha.
Deputi Bidang Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Riyatno, mengatakan realisasi investasi Indonesia masih menunjukkan tren positif.
“Di tengah dinamika global dan persaingan yang semakin intensif, potensi investasi di Indonesia masih sangat besar dengan resiliensi ekonomi yang cukup baik,” katanya.
Menurut Riyatno, pemerintah terus memperbaiki iklim investasi melalui layanan end-to-end, mulai dari peta jalan sektor investasi dan reformasi regulasi hingga penyederhanaan proses perizinan melalui OSS Versi 2.
Dari sisi perusahaan multinasional, DBS melihat terdapat tiga pilihan strategi yang semakin relevan menjelang 2027, yakni expand, deepen, atau reassess. Perusahaan dapat memperluas bisnis, memperdalam eksposur di Indonesia, atau meninjau kembali strategi berdasarkan kondisi sektor dan tingkat risiko.
Faktor seperti suku bunga global, nilai tukar rupiah, regulasi, kondisi geopolitik, biaya pendanaan, dan efisiensi operasional menjadi pertimbangan penting dalam menentukan langkah tersebut.
Head of Large & Multinational Corporates, Institutional Banking Group, Bank DBS Indonesia, Natalia Ratulangi, mengatakan kebutuhan perusahaan multinasional kini semakin kompleks dan tidak lagi sebatas pembiayaan.
“Diperlukan mitra perbankan yang juga bisa memberikan insight tajam untuk menavigasi tren pasar lokal, baik secara global maupun sektoral,” ujar Natalia.
Menurutnya, konektivitas DBS di Asia, platform digital banking, serta keahlian sektoral menjadi modal untuk menyediakan solusi perbankan bagi perusahaan multinasional yang beroperasi lintas negara.
Bank DBS Indonesia menyatakan akan terus mendukung penguatan ekosistem investasi asing melalui solusi perbankan dan konektivitas regional. Kapabilitas tersebut diperkuat sejumlah penghargaan internasional pada 2026, antara lain World’s Best Corporate Bank 2026 dan Best Bank for Sustainable Finance 2026 dari Global Finance.
Dengan perubahan rantai pasok global yang terus berlangsung, DBS menilai Indonesia memiliki momentum untuk meningkatkan daya tarik investasi. Tantangannya adalah memastikan peluang tersebut diterjemahkan menjadi investasi produktif yang memperkuat industri, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai nilai global. (mas)