JAKARTA (IndoTelko) - Pemerintah mendorong perubahan pendekatan dalam membangun ketahanan terhadap bencana, dari kebijakan dan program yang berjalan sendiri-sendiri menjadi aksi terpadu yang menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam pembukaan The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR), ADEXCO 2026, dan IEE Series Engineering Week 2026 di Jakarta, Rabu (9/9).
Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard mengatakan meningkatnya risiko bencana, perubahan iklim, degradasi lingkungan, kerentanan ekonomi, dan pembangunan membutuhkan koordinasi lintas sektor.
“Tantangannya adalah bagaimana membuat semuanya bekerja secara bersama-sama. Dan ini membutuhkan pergeseran mendasar dalam cara kita memandang resiliensi,” ujar Febrian.
Menurutnya, resiliensi tidak lagi cukup diposisikan sebagai agenda tambahan dalam pembangunan. Ketahanan harus menjadi bagian dari proses pembangunan sejak tahap perencanaan, investasi, pembangunan hingga pengukuran hasil.
Pengalaman penanganan gempa Yogyakarta juga menjadi pembelajaran penting. Kolaborasi masyarakat, pemerintah daerah, pemerintah pusat, komunitas, dan mitra internasional dinilai menunjukkan bahwa pemulihan bencana membutuhkan keterlibatan banyak pihak secara terpadu.
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati mengatakan GFSR ke-3 akan berfokus pada tiga agenda utama, yakni integrasi arsitektur, penyelarasan modal, dan perwujudan resiliensi berkelanjutan.
Integrasi arsitektur diarahkan untuk memperkuat kerja bersama pemerintah dan masyarakat. Sementara penyelarasan modal berupaya menghubungkan pendanaan iklim, risiko bencana, dan pembangunan agar lebih mendukung investasi pencegahan dan ketangguhan jangka panjang.
“Ini bukanlah tantangan abstrak. Ini adalah tantangan yang menentukan apakah kebijakan resiliensi benar-benar membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat,” kata Raditya.
Forum yang berlangsung pada 910 September 2026 tersebut juga menjadi ruang untuk mengevaluasi pembelajaran dua dekade terakhir dan menerjemahkannya menjadi strategi ketahanan yang dapat diterapkan di tingkat lokal.
Di sisi lain, ADEXCO 2026 mempertemukan pemerintah, industri, pengembang teknologi, akademisi, praktisi, masyarakat sipil, dan mitra internasional untuk menampilkan solusi di sepanjang siklus manajemen bencana, mulai dari kesiapsiagaan hingga pemulihan.
Tahun ini, ADEXCO diikuti 152 perusahaan dari sembilan negara. Raditya menilai peningkatan partisipasi menunjukkan semakin besarnya perhatian terhadap teknologi dan solusi kebencanaan. “Teknologi bukanlah tujuan akhir dari segalanya,” tegasnya.
ADEXCO 2026 menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series 2026bertema Sustainability for Industrial Transformation, bersama sejumlah pameran industri lainnya.
Melalui GFSR dan ADEXCO 2026, BNPB mendorong kolaborasi pemerintah dan swasta, peneliti dan praktisi, serta penggabungan pengetahuan global dengan pengalaman lokal untuk menghasilkan aksi nyata dalam menghadapi risiko dan ketidakpastian. (mas)