☰
✕

IBM dan Red Hat resmi luncurkan Lightwell

JAKARTA (IndoTelko) - IBM dan Red Hat resmi mengomersialkan Lightwell, platform yang dirancang untuk mempercepat remediasi kerentanan pada software open source menggunakan otomatisasi dan Artificial Intelligence (AI).

Peluncuran ini menghadirkan dua solusi, yakni Lightwell Network yang telah tersedia secara umum dan Lightwell Clearinghouse Premier yang memasuki tahap ketersediaan terbatas.

Lightwell Network menyediakan akses ke katalog lebih dari 6.500 dependency pada application layer yang telah diremediasi, ditandatangani secara digital, dan tersertifikasi untuk berbagai ekosistem software, termasuk Java dan Python.

Sementara Clearinghouse Premier dirancang sebagai perantara tepercaya bagi organisasi untuk melakukan koordinasi ancaman sektoral dan patching selama periode embargo. Pada tahap awal, layanan ini ditujukan bagi industri jasa keuangan sebelum diperluas ke sektor infrastruktur kritikal lainnya.

President and CEO Red Hat, Matt Hicks, mengatakan Lightwell menjadi bagian dari perubahan pendekatan dalam mengamankan software enterprise yang semakin kompleks.

“Lightwell menandai pergeseran struktural yang fundamental dalam cara kita mengamankan seluruh software enterprise,” ujar Hicks.

Platform tersebut memanfaatkan remediation engine berbasis generative AI yang mengombinasikan model AI proprietary dan open source dengan keahlian engineer manusia. Teknologi ini digunakan untuk mengidentifikasi, memvalidasi, hingga memperbaiki kerentanan pada dependency yang tertanam dalam aplikasi.

Salah satu pendekatan yang ditawarkan adalah melakukan backport perbaikan keamanan langsung ke versi software tertentu yang masih digunakan di lingkungan produksi. Cara ini memungkinkan perusahaan memperbaiki kerentanan tanpa harus melakukan upgrade besar yang berpotensi menimbulkan breaking changes atau mengganggu operasional.

IBM dan Red Hat memperkirakan katalog paket yang telah diremediasi Lightwell dapat berkembang dari ribuan menjadi jutaan paket.

Senior Vice President, Software & Chief Commercial Officer IBM, Rob Thomas, mengatakan solusi tersebut memungkinkan perusahaan memperoleh perbaikan tersertifikasi yang dapat langsung diintegrasikan ke sistem yang sudah berjalan.

“Mewujudkan hal tersebut membutuhkan skala yang tidak dimiliki sebagian besar organisasi, didukung tim engineer kelas dunia dan sistem AI yang bekerja sepanjang waktu untuk melindungi software open source,” katanya.

Peluncuran Lightwell merupakan bagian dari komitmen investasi IBM dan Red Hat senilai US$5 miliar untuk keamanan open source yang diumumkan pada Mei 2026. Program tersebut didukung lebih dari 20.000 engineer global untuk mengembangkan kemampuan remediasi Lightwell.

IBM dan Red Hat juga menerapkan prinsip upstream-always, yakni perbaikan keamanan yang dihasilkan tetap dikembalikan ke komunitas open source untuk ditinjau dan diintegrasikan. Pendekatan ini ditujukan untuk menjaga agar perlindungan komersial tidak menciptakan fragmentasi pada proyek open source.

Menurut data yang dikutip IBM dan Red Hat, open source dapat mencakup hingga 90% basis kode enterprise. Pada 2025, ekosistem tersebut mencatat sekitar 9,8 triliun unduhan, sementara rata-rata organisasi masih menghadapi 581 kerentanan pada basis kode mereka.

Kondisi tersebut semakin kompleks karena AI juga memungkinkan pelaku serangan menemukan dan mengeksploitasi celah keamanan dengan lebih cepat. Lightwell dirancang untuk memperpendek jarak antara penemuan kerentanan dan penerapan perbaikan.

Untuk memperluas implementasinya, IBM dan Red Hat membangun ekosistem bersama sejumlah perusahaan teknologi, termasuk AWS, AMD, F5, GitLab, Intel, JFrog, Microsoft, NVIDIA, Palo Alto Networks, dan ServiceNow.

Dari sisi layanan implementasi, ekosistem Lightwell juga melibatkan IBM Consulting, Red Hat Consulting, Accenture, Atos, Cognizant, Deloitte, EY, HCLTech, Infosys, Kyndryl, LTM, NTT DATA, Tata Consultancy Services (TCS), serta Tech Mahindra.

Melalui kolaborasi tersebut, Lightwell diarahkan untuk membantu perusahaan memetakan Software Bills of Materials (SBOM), mengelola version mapping, mengintegrasikan registry, serta mengotomatisasi proses remediasi dalam pipeline pengembangan dan operasional.

Dengan pendekatan tersebut, IBM dan Red Hat menargetkan Lightwell menjadi lapisan kepercayaan baru bagi pemanfaatan open source di lingkungan enterprise, terutama ketika perusahaan semakin mengandalkan AI dan membutuhkan keamanan software dengan kecepatan yang sama. (mas)