JAKARTA (IndoTelko) - Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM) menjadi venue pertama di Indonesia yang menerapkan Sennheiser Spectera, sistem audio wireless berbasis teknologi wideband bidirectional wireless untuk mendukung kebutuhan produksi pertunjukan berskala besar.
Sebagai salah satu ruang pertunjukan utama di kompleks seni dan budaya TIM, Teater Besar memiliki kapasitas hingga 1.200 penonton dan digunakan untuk berbagai acara, mulai dari teater, musikal, konser, hingga pertunjukan budaya.
Beragamnya jenis produksi membuat kebutuhan sistem audio terus berubah. Tim teknis harus menangani konfigurasi berbeda untuk setiap pertunjukan, termasuk pengaturan mikrofon wireless dalam jumlah besar.
Technical Audio Specialist Teater Besar, Dwi Winarno, mengatakan kebutuhan utama venue adalah sistem yang lebih sederhana, mudah dikonfigurasi, namun tetap mampu mengikuti perkembangan kebutuhan produksi.
“Yang kami cari adalah sistem yang sederhana, mudah di-setup, tidak memakan banyak ruang, dan tetap memiliki ruang untuk berkembang di masa depan,” ujar Dwi.
Sebelum menggunakan Spectera, Teater Besar mengandalkan sistem wireless konvensional yang membutuhkan satu perangkat receiver untuk setiap mikrofon. Ketika produksi menggunakan puluhan mikrofon secara bersamaan, tantangan seperti interferensi frekuensi, kebutuhan ruang peralatan, serta waktu instalasi menjadi semakin besar.
Dalam produksi dengan 40 hingga 50 mikrofon wireless, tim teknis harus menghadapi kompleksitas pengelolaan frekuensi yang dapat memicu gangguan sinyal dan menurunkan kualitas audio.
Melalui penerapan Sennheiser Spectera, proses tersebut menjadi lebih efisien. Sistem yang digunakan saat ini terdiri dari satu Spectera Base Station, dua antena DAD, 15 bodypack bidirectional, serta mikrofon headset Sennheiser HSP 4.
Dengan desain yang lebih ringkas, kebutuhan rak perangkat besar dapat dikurangi secara signifikan. Tim teknis juga memperoleh fleksibilitas lebih tinggi dalam menyiapkan produksi dengan jumlah channel wireless yang besar.
Direktur Albeta sebagai system integrator proyek, Yosafat, mengatakan arsitektur Spectera menjadi salah satu keunggulan utama dibandingkan sistem sebelumnya.
“Dulu, penggunaan 32 unit terpisah membutuhkan rak besar untuk menampung seluruh perangkat. Dengan sistem ini, satu unit ringkas dapat menangani kebutuhan tersebut,” ujarnya.
Saat ini, sekitar 70 persen produksi di Teater Besar yang membutuhkan sistem wireless telah menggunakan Spectera. Sistem tersebut telah mendukung berbagai produksi dengan konfigurasi rata-rata sekitar 15 channel wireless.
Selain menyederhanakan perangkat keras, Spectera juga membantu pengelolaan frekuensi melalui Spectera WebUI. Teknisi dapat memantau kondisi radio frequency (RF), kualitas sinyal, status perangkat, hingga kapasitas baterai secara real-time sebelum dan selama acara berlangsung.
Menurut Dwi, kemampuan memvisualisasikan kondisi RF menjadi perubahan besar dalam proses persiapan produksi.
“Sebelumnya kami tidak memiliki cara untuk melihat kondisi RF secara langsung. Kini performa RF dapat dianalisis melalui software pemantauan sebelum acara dimulai,” katanya.
Dengan sistem monitoring tersebut, tim teknis dapat memilih frekuensi yang lebih optimal dan mengurangi risiko gangguan selama pertunjukan berlangsung.
Sejak diterapkan, Teater Besar mengklaim belum mengalami gangguan teknis dalam penggunaan Spectera selama berbagai produksi. Keandalan sistem serta visibilitas kondisi perangkat membuat tim dapat lebih fokus pada kualitas pertunjukan.
Bagi Teater Besar TIM, penggunaan Sennheiser Spectera menjadi langkah modernisasi infrastruktur audio untuk menghadapi kebutuhan produksi seni pertunjukan yang semakin kompleks.
Dengan teknologi wireless yang lebih ringkas, stabil, dan mudah dikelola, venue ini berharap dapat terus mendukung berbagai pertunjukan berskala besar di Indonesia dengan standar produksi yang semakin tinggi. (mas)