JAKARTA (IndoTelko) - Xiaomi Corporation mencatat kinerja positif pada kuartal II 2026 dengan membukukan pendapatan sebesar RMB 108,9 miliar atau sekitar Rp287,24 triliun. Angka tersebut meningkat 9,9 persen dibandingkan kuartal sebelumnya dan kembali menembus level pendapatan di atas RMB 100 miliar.
Di tengah tekanan industri akibat kenaikan biaya komponen utama, khususnya memori, serta persaingan pasar yang semakin ketat, Xiaomi mampu menjaga profitabilitas dengan mencatat laba bersih yang disesuaikan sebesar RMB 6,2 miliar atau sekitar Rp16,35 triliun.
Pertumbuhan Xiaomi ditopang oleh strategi ekosistem “Human × Car × Home” yang mengintegrasikan bisnis smartphone, perangkat AIoT, layanan internet, kendaraan listrik pintar, hingga teknologi kecerdasan buatan.
Segmen smartphone dan AIoT masih menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan mencapai RMB 84 miliar atau sekitar Rp221,59 triliun. Bisnis smartphone menyumbang RMB 42,1 miliar dengan pengiriman global mencapai 31,2 juta unit.
Berdasarkan laporan Omdia, pengiriman smartphone Xiaomi berhasil mempertahankan posisi tiga besar dunia selama 24 kuartal berturut-turut. Xiaomi juga masuk lima besar di 67 negara dan wilayah, serta berada di posisi dua pasar Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Timur Tengah.
Strategi peningkatan kelas produk premium turut memberikan dampak positif. Harga jual rata-rata smartphone Xiaomi naik 25,9 persen secara tahunan menjadi RMB 1.351 atau sekitar Rp3,56 juta, mencatatkan rekor tertinggi bagi perusahaan.
Selain smartphone, bisnis kendaraan listrik pintar (smart EV) menjadi salah satu pendorong pertumbuhan utama Xiaomi. Segmen kendaraan listrik, AI, dan bisnis baru mencatat pendapatan RMB 24,9 miliar atau sekitar Rp65,68 triliun, meningkat 17,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pengiriman kendaraan listrik Xiaomi mencapai 104.199 unit dalam satu kuartal, naik 28,2 persen secara tahunan. Model Xiaomi SU7 Series bahkan menjadi kendaraan listrik sedan dengan harga di atas RMB 200.000 terlaris di China pada semester pertama 2026.
Xiaomi juga memperluas portofolio kendaraan listrik dengan memperkenalkan seri SUV extended-range melalui Xiaomi SkyNomad Series. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperbesar penetrasi di pasar kendaraan pintar.
Di sisi ekosistem perangkat pintar, bisnis IoT dan gaya hidup mencatat pendapatan RMB 31,3 miliar atau sekitar Rp82,57 triliun. Jumlah perangkat yang terkoneksi dalam platform AIoT Xiaomi mencapai 1,16 miliar unit hingga akhir Juni 2026.
Pertumbuhan juga terlihat pada layanan internet Xiaomi yang menghasilkan pendapatan RMB 9 miliar atau sekitar Rp23,74 triliun. Jumlah pengguna aktif bulanan (MAU) global mencapai 766,5 juta pengguna, mencatat rekor baru perusahaan.
Untuk memperkuat inovasi teknologi, Xiaomi meningkatkan investasi penelitian dan pengembangan (R&D) dengan belanja mencapai RMB 9,2 miliar atau sekitar Rp24,27 triliun pada kuartal II 2026.
Investasi tersebut diarahkan pada pengembangan AI, sistem operasi HyperOS, serta teknologi robotik. Xiaomi juga terus memperluas kemampuan ekosistem digitalnya melalui integrasi perangkat, kendaraan, dan layanan berbasis kecerdasan buatan.
Dengan kombinasi bisnis smartphone, AIoT, kendaraan listrik, dan teknologi AI, Xiaomi menargetkan pertumbuhan jangka panjang sebagai perusahaan teknologi yang tidak hanya bermain di perangkat elektronik, tetapi juga membangun ekosistem pintar global. (mas)