JAKARTA (IndoTelko) - Pasar properti Jakarta menunjukkan tren pemulihan pada kuartal II 2026, terutama di sektor perkantoran, ritel, dan logistik. Perbaikan terlihat dari kenaikan okupansi, penyerapan ruang, serta meningkatnya aktivitas penyewaan di sejumlah segmen.
Head of Research JLL Indonesia James Taylor mengatakan pasar perkantoran Central Business District (CBD) Jakarta melanjutkan tren pemulihan dengan tingkat okupansi mencapai 72,8% pada kuartal II 2026.
Permintaan bersih juga tetap positif sepanjang semester pertama 2026. Tidak adanya pasokan baru di kawasan CBD dinilai turut mendukung penyerapan ruang perkantoran yang tersedia.
“Harga sewa untuk gedung Premium dan Grade A menunjukkan kenaikan moderat, sementara Grade B dan C mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah mengalami penurunan pada kuartal-kuartal sebelumnya,” ujar James.
Pasar perkantoran non-CBD juga mencatat penyerapan sekitar 23.000 meter persegi, tertinggi sejak 2019. Penyerapan tersebut terjadi setelah dua gedung baru di Jakarta Utara dan Jakarta Barat menambah sekitar 67.000 meter persegi pasokan, dengan sektor minyak dan gas menjadi salah satu pendorong utama aktivitas penyewaan.
Head of Tenant Representation JLL Indonesia Panji Aziz mengatakan sektor jasa keuangan menjadi salah satu penyumbang utama penyerapan ruang Grade A di CBD. Kawasan Sudirman dan SCBD tercatat sebagai lokasi paling aktif pada kuartal tersebut.
“Sejumlah aktivitas relokasi dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang mencari peningkatan terhadap kualitas gedung kantor yang mereka tempati,” kata Panji.
Tren penyewaan ruang kantor yang sudah dilengkapi furnitur juga berlanjut. Sejumlah pemilik gedung mempertahankan furnitur dari penyewa sebelumnya atau menawarkan ruang yang telah dilengkapi furnitur maupun kontribusi biaya fit out.
Harga sewa kantor Grade A di CBD naik 0,05% dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun, sebagian pemilik gedung memilih menjaga stabilitas okupansi dibandingkan menaikkan harga secara agresif.
Ritel dan Logistik Menguat
Di sektor ritel, permintaan bersih ruang pusat perbelanjaan Jakarta mencapai sekitar 16.500 meter persegi pada kuartal II 2026. Tidak adanya tambahan pasokan baru turut mendukung kenaikan tingkat okupansi menjadi sekitar 86%.
Aktivitas penyewaan terutama berasal dari ekspansi tenant makanan dan minuman premium, specialty beverage, serta experiential retail. Segmen luxury retail juga berkembang melalui pembukaan dan ekspansi gerai fesyen, kecantikan, parfum, dan perhiasan internasional.
Dua proyek pusat perbelanjaan baru masih dijadwalkan selesai hingga akhir 2026.
Sementara itu, sektor pergudangan modern Jabodetabek mencatat tingkat okupansi 95%. Country Head and Head of Logistics & Industrial JLL Indonesia Farazia Basarah mengatakan permintaan berasal dari operator last-mile delivery, perusahaan third-party logistics, e-commerce, manufaktur, FMCG, serta sektor perangkat listrik dan elektronik.
“Penyewa yang mencari pergudangan berskala besar menghadapi tantangan akibat ketersediaan terbatas. Masuknya merek internasional baru, terutama perusahaan Tiongkok, terus mendorong permintaan,” ujar Farazia.
Sektor data center juga menjadi salah satu sumber permintaan, terutama untuk kebutuhan komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Namun, pengembangan sektor tersebut membutuhkan dukungan infrastruktur seperti pasokan listrik, air bersih, sistem pendinginan, dan kawasan industri yang memadai.
Kondominium Masih Selektif
Di sektor kondominium, permintaan Jakarta meningkat secara moderat pada kuartal II 2026. Namun, volume transaksi masih berada di bawah tren historis.
Head of Research JLL Indonesia James Taylor mengatakan transaksi terutama didorong proyek baru dari pengembang yang telah memiliki basis pembeli. Pengguna akhir (end-user) masih mendominasi aktivitas pembelian, termasuk pada proyek yang masih dalam tahap pembangunan.
Satu proyek baru di Jakarta Selatan menambah pasokan pada kuartal tersebut dan mendorong tingkat penjualan sedikit turun menjadi 82%. Dengan dua peluncuran baru sepanjang 2026, total tambahan pasokan tahun ini menjadi yang tertinggi sejak 2020.
Pada segmen rumah tapak, Head of Growth and Head of Strategic Consulting JLL Indonesia Vivin Harsanto mengatakan pasokan Jabodetabek meningkat pada semester I 2026, sementara penyerapan tetap stabil.
Rumah dengan empat kamar tidur menjadi konfigurasi yang paling banyak terjual, dengan harga mulai Rp600 juta. Segmen Rp600 juta-Rp1,3 miliar masih mendominasi permintaan dengan pilihan unit dua hingga empat kamar tidur.
“Hunian dengan harga di bawah Rp600 juta meningkat, begitu pula hunian di atas Rp3 miliar. Sementara itu, hunian dengan harga Rp1,3-3 miliar sedikit melambat, menunjukkan pola permintaan yang beragam di berbagai tingkat harga,” ujar Vivin.
Investasi Tetap Mengarah ke Aset Produktif
Senior Director, Capital Markets JLL Indonesia Herully Suherman mengatakan Indonesia masih menjadi salah satu tujuan investasi properti bagi investor domestik maupun asing pada 2026.
Sektor logistik, industri, dan data center menjadi segmen yang paling aktif, didukung pertumbuhan ekonomi, basis manufaktur, serta arus modal domestik dan asing.
Investor juga memburu aset yang menghasilkan pendapatan dengan imbal hasil dua digit, terutama di sektor perkantoran, hotel, apartemen servis, pendidikan, dan kesehatan.
Meski demikian, likuiditas pasar masih sensitif terhadap pergerakan nilai tukar dan kondisi politik.
Di sektor perhotelan, Vice President, Investment Sales, Hotels & Hospitality Group, JLL Asia Pacific Irina Chadsey mengatakan jumlah wisatawan yang datang ke Jakarta terus meningkat sejak Januari 2026. Pertumbuhan terjadi pada wisatawan domestik maupun internasional, meskipun wisatawan domestik masih mendominasi pasar.
Secara keseluruhan, perkembangan tersebut menunjukkan pasar properti Jakarta mulai memasuki fase pemulihan dengan pertumbuhan yang berbeda di setiap segmen. Perkantoran, ritel, logistik, dan data center menjadi sektor yang relatif paling aktif, sementara kondominium dan investasi properti masih bergerak secara lebih selektif. (mas)