☰
✕

JADEPUFFER jadi sinyal baru ancaman siber berbasis AI

JAKARTA (IndoTelko) - Kaspersky memperingatkan munculnya pola baru serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih. Melalui laporan terbaru Tim Riset dan Analisis Global (GReAT), perusahaan keamanan siber tersebut mengungkap aktivitas kelompok ancaman SilverFox serta kemunculan JADEPUFFER, ransomware berbasis Large Language Model (LLM) pertama yang menunjukkan kemampuan serangan secara lebih mandiri.

Menurut Kaspersky, perkembangan AI telah mengubah pola serangan siber dari operasi yang membutuhkan banyak sumber daya menjadi serangan yang dapat dilakukan dengan biaya lebih rendah dan tingkat otomatisasi lebih tinggi.

SilverFox menjadi salah satu kelompok ancaman yang mendapat perhatian karena aktif menargetkan organisasi di kawasan Asia Pasifik. Kelompok ini diketahui menggunakan berbagai metode serangan, mulai dari situs web palsu, email phishing, hingga distribusi file berbahaya melalui aplikasi pesan.

Dalam kampanye terbarunya, SilverFox menyasar perusahaan di sektor industri, konsultasi, perdagangan, dan transportasi di sejumlah negara termasuk Indonesia. Pelaku menggunakan email yang dibuat menyerupai pemberitahuan audit pajak resmi untuk mendorong korban membuka file berbahaya.

Kaspersky mencatat lebih dari 1.600 email berbahaya terdeteksi sepanjang Januari hingga Februari 2026 dalam kampanye tersebut.

Peneliti Keamanan Utama Kaspersky GReAT, Ye Jin, mengatakan SilverFox kini mulai memanfaatkan aplikasi AI palsu, termasuk versi palsu dari Claude, untuk menyusup ke sistem organisasi.

“SilverFox memanfaatkan meningkatnya penggunaan AI di perusahaan dengan mendistribusikan aplikasi palsu untuk Windows, macOS, dan Linux guna melewati pertahanan keamanan target,” ujarnya.

JADEPUFFER Ubah Pola Serangan Ransomware

Selain aktivitas SilverFox, Kaspersky juga menyoroti JADEPUFFER sebagai contoh baru ancaman siber berbasis agen AI.

Berbeda dengan serangan ransomware konvensional yang masih bergantung pada operator manusia dalam menentukan langkah berikutnya, JADEPUFFER menunjukkan kemampuan AI untuk menganalisis kondisi, menyesuaikan strategi, dan menjalankan serangan secara lebih otomatis.

Berdasarkan analisis Sysdig yang dikutip Kaspersky, agen AI dalam kasus JADEPUFFER mampu memperbaiki pendekatan serangan yang gagal dan meluncurkan percobaan baru hanya dalam waktu 31 detik.

Kemampuan tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dalam kecepatan dan otonomi serangan siber berbasis AI.

Kaspersky juga mengungkap teknik lain seperti ChatGPhish, yaitu metode yang memanfaatkan manipulasi instruksi pada sistem AI. Melalui teknik ini, pelaku menyisipkan perintah berbahaya dalam halaman web sehingga asisten AI dapat tanpa sengaja meneruskan konten atau tautan berisiko kepada pengguna.

Perusahaan Perlu Perkuat Pertahanan Berbasis AI

Kaspersky menilai perkembangan ancaman berbasis AI harus diimbangi dengan strategi pertahanan yang memanfaatkan teknologi serupa.

Beberapa langkah yang direkomendasikan meliputi penerapan threat hunting berbasis AI untuk mendeteksi ancaman lebih awal, penerapan arsitektur Zero Trust, penguatan perlindungan pada seluruh sistem digital, serta penggunaan teknologi AI untuk meningkatkan kemampuan deteksi dan respons.

Ye Jin menegaskan bahwa solusi keamanan yang dilengkapi intelijen ancaman terbaru kini menjadi kebutuhan penting bagi perusahaan.

Menurutnya, ketika pelaku serangan menggunakan AI untuk mempercepat pengambilan keputusan dan otomatisasi serangan, sektor pertahanan siber juga harus memanfaatkan AI agar mampu menghadapi ancaman yang berkembang semakin cepat. (mas)