☰
✕

DBS Foundation dorong ekonomi sirkular

JAKARTA (IndoTelko) - Bank DBS Indonesia melalui DBS Foundation mendorong pengembangan bisnis berdampak berbasis ekonomi sirkular untuk mengatasi persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Melalui DBS Foundation Grant Program, pelaku social enterprises mendapatkan dukungan berupa pendanaan, pendampingan bisnis, akses jaringan, hingga peluang kolaborasi untuk memperluas skala usaha.

Salah satu fokus program tersebut adalah pengelolaan limbah yang berkaitan dengan keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir dan agraris. DBS Foundation menilai pendekatan bisnis dapat mengubah persoalan lingkungan menjadi peluang ekonomi baru.

Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, mengatakan sektor usaha memiliki peran penting dalam menciptakan dampak positif bagi masyarakat.

“Melalui DBS Foundation Grant Program, kami ingin membantu social enterprises memperkuat bisnisnya dan memperbesar dampak bagi komunitas yang membutuhkan. Parongpong RAW Lab dan MYCL menunjukkan bagaimana inovasi lokal dapat menjawab tantangan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru,” ujar Mona.

Salah satu penerima dukungan adalah Parongpong RAW Lab yang mengembangkan ekonomi sirkular melalui pengolahan jaring ikan bekas atau ghost net di Cilincing, Jakarta, dan Muncar, Banyuwangi.

Limbah jaring ikan dikumpulkan untuk diolah menjadi material bernilai tambah sekaligus memberikan peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat pesisir.

Hingga Agustus 2026, Parongpong RAW Lab telah mengumpulkan lebih dari 4.500 kilogram ghost net dan melibatkan 179 nelayan. Perusahaan juga menjalankan program edukasi lingkungan bagi komunitas pesisir.

CEO & Founder Parongpong RAW Lab, Rendy Aditya Wachid, mengatakan dukungan DBS Foundation membantu perusahaan membangun ekosistem pengelolaan limbah dari sisi pengumpulan material hingga pengembangan produk.

Selain Parongpong RAW Lab, DBS Foundation mendukung MYCL yang mengembangkan material berkelanjutan berbasis mycelium dan rumput laut.

MYCL sebelumnya mengolah limbah pertanian menjadi material ramah lingkungan dan kini mengembangkan sejumlah produk seperti mycelium composite, mycelium leather, dan seaweed biopolymer untuk kebutuhan industri.

Hingga 2026, MYCL telah melayani pelanggan dari berbagai negara dan mengembangkan aplikasi material untuk sektor fesyen, konstruksi, serta industri teknologi.

Co-founder MYCL, Ronaldiaz Hartantyo, mengatakan dukungan DBS Foundation membantu perusahaan memperkuat inovasi sekaligus memperluas dampak kepada petani, pekerja, dan industri.

Sejak 2015, DBS Foundation telah menyalurkan lebih dari SGD21,5 juta dalam bentuk hibah kepada lebih dari 160 social enterprises di Asia. Di Indonesia, dukungan telah diberikan kepada lebih dari 20 bisnis berdampak dengan total hibah lebih dari SGD4 juta.

Head of DBS Foundation Karen Ngui mengatakan dukungan terhadap social enterprises menjadi bagian dari upaya mempercepat pertumbuhan bisnis yang membawa dampak sosial dan lingkungan.

Melalui pendanaan, pendampingan, dan pengembangan jejaring, DBS Foundation menargetkan semakin banyak solusi ekonomi sirkular dapat berkembang dan memberikan manfaat ekonomi sekaligus lingkungan bagi masyarakat. (mas)