☰
✕

NUS dorong Indonesia siapkan SDM siap AI

JAKARTA (IndoTelko) - Pengembangan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia dinilai tidak hanya bergantung pada kemampuan mengadopsi teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam memanfaatkan AI untuk menciptakan produktivitas dan nilai ekonomi.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Dr. Tan Hong Ming, Assistant Dean (Digital Operations) NUS Business School, dalam diskusi bersama media di Jakarta. Menurutnya, keunggulan Indonesia dalam era AI tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah tenaga kerja, melainkan kemampuan masyarakat dalam mengoptimalkan teknologi.

“Teknologi AI sudah tersedia. Tantangan berikutnya adalah bagaimana SDM mampu menciptakan nilai tambah melalui teknologi tersebut,” ujar Dr. Tan.

Menurutnya, AI seharusnya tidak hanya digunakan untuk menggantikan pekerjaan manual atau mengurangi biaya operasional, tetapi juga membantu manusia mengambil keputusan lebih baik, menyelesaikan persoalan kompleks, dan menciptakan inovasi baru.

Human Dividend Jadi Faktor Utama

Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan ekosistem AI. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, ekonomi digital yang terus berkembang, serta sekitar 65 juta UMKM yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional, Indonesia memiliki peluang besar dalam penerapan AI di berbagai sektor.

Namun, tantangan masih muncul dalam memperluas pemanfaatan AI, terutama bagi perusahaan kecil dan menengah. Keterbatasan talenta digital, kesiapan infrastruktur, serta perbedaan tingkat pemahaman terhadap teknologi menjadi sejumlah hambatan yang perlu diselesaikan.

Dr. Tan menyebut terdapat tiga langkah penting untuk membangun SDM yang siap menghadapi era AI. Pertama, meningkatkan literasi AI agar pekerja memahami penggunaan teknologi secara efektif. Kedua, mendorong pemimpin bisnis untuk merancang ulang pola kerja dengan memanfaatkan AI. Ketiga, membangun budaya pembelajaran berkelanjutan.

UMKM Berpotensi Jadi Penggerak AI

Dekan NUS Business School, Profesor Teo Chung Piaw, menilai adopsi AI dan pengembangan SDM harus berjalan secara bersamaan. Menurutnya, setiap penerapan AI dalam perusahaan perlu disertai strategi pengembangan kemampuan tenaga kerja.

“Perusahaan tidak boleh memisahkan transformasi AI dengan pengembangan SDM. Keduanya harus bergerak bersama,” kata Prof. Teo.

Ia juga melihat UMKM Indonesia memiliki peluang besar dalam pemanfaatan AI. Fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi membuat sektor usaha kecil berpotensi memanfaatkan AI untuk memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi tanpa membutuhkan biaya besar.

Kolaborasi Jadi Kunci Percepatan AI

NUS Business School menilai keberhasilan transformasi AI Indonesia membutuhkan kerja sama antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri. Teknologi AI diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas bisnis, tetapi juga membantu menyelesaikan berbagai tantangan nasional seperti kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan, inklusi keuangan, dan pelayanan publik.

Menurut Prof. Teo, institusi pendidikan bisnis memiliki peran dalam mencetak pemimpin yang mampu mengintegrasikan AI ke dalam strategi organisasi serta menerjemahkan inovasi teknologi menjadi dampak ekonomi dan sosial.

NUS Business School juga mendorong Indonesia untuk membangun pendekatan AI yang sesuai dengan kebutuhan domestik, bukan hanya mengikuti pola negara lain. Menurut Dr. Tan, keunggulan jangka panjang tidak akan ditentukan oleh teknologi paling canggih, melainkan oleh kemampuan manusia dalam memanfaatkan teknologi tersebut.

“Peluang AI terbesar bagi Indonesia adalah memperkuat human dividend melalui investasi berkelanjutan pada keterampilan, kepemimpinan, dan kapasitas institusi,” tutup Dr. Tan. (mas)