☰
✕

Ancaman Malware AI meningkat, talenta siber jadi kunci

JAKARTA (IndoTelko) - Kaspersky menggelar Academic Partners Summit 2026 di Jakarta dengan mempertemukan akademisi, praktisi keamanan siber, dan pembuat kebijakan untuk membahas perkembangan kecerdasan buatan (AI), risiko keamanan digital, serta kebutuhan talenta siber di masa depan.

Mengusung tema “AI, Security, and Society: What’s Next for Our Digital Future?”, forum tersebut membahas bagaimana AI dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab sekaligus menjadi tantangan baru dalam menjaga ketahanan ekosistem digital.

Kaspersky menilai percepatan transformasi digital di Indonesia membuka peluang besar bagi inovasi, namun juga meningkatkan risiko serangan siber yang membutuhkan pendekatan keamanan lebih kuat.

Talenta Manusia Tetap Jadi Faktor Utama

Kaspersky menekankan bahwa meskipun kemampuan AI dalam membantu pertahanan maupun serangan siber terus berkembang, peran manusia tetap menjadi elemen penting dalam pengambilan keputusan, pemikiran kritis, dan aspek etika.

Head of Cybersecurity Education & Academic Affairs Kaspersky, Evgeniya Russkikh, mengatakan kebutuhan industri tidak hanya membutuhkan tenaga ahli dengan kemampuan teknis, tetapi juga individu yang mampu memahami dampak teknologi terhadap masyarakat.

“Ketika AI semakin mampu menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital, nilai penilaian manusia menjadi semakin penting. Masa depan keamanan siber membutuhkan pemikiran kritis dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab,” ujar Evgeniya.

Dalam forum tersebut disebutkan bahwa kawasan Asia-Pasifik masih menghadapi tantangan besar dalam ketersediaan talenta keamanan siber. Keterbatasan tenaga pengajar, materi pelatihan lokal, dan jalur masuk bagi talenta baru menjadi beberapa hambatan yang perlu diatasi melalui kolaborasi antara industri, akademisi, dan pemerintah.

Ancaman Malware Berbasis AI Semakin Berkembang

Selain membahas talenta, Kaspersky juga mengungkap perkembangan penggunaan AI oleh pelaku kejahatan siber.

Teknologi AI kini dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas berbahaya, mulai dari pembuatan phishing yang lebih canggih, deepfake, pengembangan malware, hingga otomatisasi operasi serangan digital.

Menurut Kaspersky, penggunaan AI dalam aktivitas siber ofensif mengalami perkembangan pesat. Jika sebelumnya AI hanya digunakan sebagai alat bantu pencarian informasi, kini teknologi tersebut mulai mendukung proses pembuatan kode, pengintaian sistem, hingga pengembangan malware yang semakin kompleks.

Peneliti Keamanan Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky, Ahmad Fareed Fauzi Mohamad Radzi, mengatakan AI telah mengubah kecepatan dan skala operasi kejahatan siber.

“AI tidak hanya membantu penyerang menulis kode lebih cepat, tetapi juga mendukung pengintaian, penelitian kerentanan, pengujian, dan berbagai tahapan operasi ofensif lainnya,” kata Ahmad.

Kolaborasi Jadi Kunci Keamanan Digital

Melalui Academic Partners Summit 2026, Kaspersky mendorong penguatan kerja sama lintas sektor untuk membangun ekosistem digital yang lebih aman.

Direktur Direktorat Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada, Prof. Ridi Ferdiana, menilai kemampuan AI Indonesia perlu dibangun tidak hanya melalui teknologi, tetapi juga melalui penguatan talenta, tata kelola, dan budaya kolaborasi.

Menurutnya, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta kolaborasi antara manusia dan AI menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan teknologi.

Kaspersky menilai pengembangan pendidikan keamanan siber dan peningkatan kompetensi tenaga kerja akan menjadi fondasi utama agar transformasi digital Indonesia berjalan aman, inklusif, dan berkelanjutan.

Dengan semakin luasnya pemanfaatan AI, perusahaan keamanan siber tersebut menegaskan pentingnya keseimbangan antara inovasi teknologi, perlindungan digital, dan kesiapan sumber daya manusia. (mas)