☰
✕

Serangan Siber RI tembus 257 juta kasus

JAKARTA (IndoTelko) - Ancaman siber di Indonesia semakin meningkat dengan pola serangan yang lebih agresif dan otomatis. Laporan Ancaman Digital Indonesia Semester I 2026 dari AwanPintar.id® mencatat sebanyak 257.976.333 serangan siber terjadi sepanjang Januari hingga Juni 2026.

Jumlah tersebut meningkat sekitar 93,33% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 133.439.209 serangan. Artinya, ruang digital Indonesia menghadapi rata-rata sekitar 16 serangan setiap detik.

Founder AwanPintar.id®, Yudhi Kukuh, mengatakan peningkatan ancaman tersebut tidak terlepas dari semakin luasnya permukaan serangan (attack surface) akibat percepatan transformasi digital di berbagai sektor.

“Pemanfaatan layanan cloud, AI, dan meningkatnya transaksi online membuat ekosistem digital semakin luas. Organisasi perlu menerapkan keamanan berbasis risiko dengan memperkuat deteksi dini, pengelolaan kerentanan, dan kesiapan menghadapi insiden,” ujar Yudhi.

Peretas Mulai Memburu Akses Administrator

Dalam laporan tersebut, serangan yang bertujuan memperoleh hak akses administrator menjadi ancaman paling dominan pada Semester I 2026.

Kategori Attempted Administrator Privilege Gain meningkat signifikan dari 2,76% pada periode yang sama tahun lalu menjadi 43,65%. Tren ini menunjukkan pelaku serangan tidak hanya melakukan pemantauan, tetapi mulai berupaya mengambil alih kendali sistem.

Aksi tersebut berpotensi menjadi pintu masuk bagi serangan lanjutan seperti ransomware, pencurian data, hingga gangguan terhadap infrastruktur digital.

Sementara itu, kategori Generic Protocol Command Decode masih menjadi salah satu ancaman terbesar dengan kontribusi 27,22%, meski mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Perubahan ini menunjukkan pelaku serangan mulai mengalihkan strategi ke metode yang lebih terarah dan berdampak besar.

Pencurian Data Jadi Sasaran Utama

AwanPintar.id® juga mencatat peningkatan upaya pencurian informasi penting. Serangan kategori Attempted Information Leak naik dari 4,66% menjadi 13,97% dibanding Semester I 2025.

Data yang menjadi sasaran meliputi informasi akun, data pelanggan, informasi pembayaran, hingga data sensitif lainnya. Pelaku memanfaatkan berbagai metode seperti eksploitasi celah keamanan, phishing, malware pencuri informasi, serta penggunaan kredensial yang berhasil dicuri.

Teknik brute force juga masih banyak digunakan untuk membobol akun dengan memanfaatkan kata sandi lemah melalui sistem otomatis.

Serangan dari Berbagai Negara Meningkat

Dari sisi sumber serangan, Tiongkok menjadi negara dengan kontribusi terbesar terhadap serangan siber ke Indonesia dengan peningkatan dari 12,87% menjadi 21,94%. Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan kenaikan dari 9,07% menjadi 10,83%.

Selain serangan internasional, aktivitas dari dalam negeri juga mengalami peningkatan. Banyuwangi dan Tangerang tercatat muncul sebagai sumber serangan baru dengan peningkatan signifikan.

Laporan tersebut juga menemukan pencurian kredensial menjadi salah satu metode utama untuk mendapatkan akses ilegal. Salah satu teknik yang banyak ditemukan adalah instalasi DoublePulsar Backdoor yang mencapai 99,28%.

Di sisi lain, ancaman malware dan spam menunjukkan pola yang berubah sepanjang semester pertama 2026. Aktivitas sempat menurun pada awal periode, namun kembali meningkat menjelang pertengahan tahun.

AwanPintar.id® mengingatkan organisasi untuk terus memperbarui strategi keamanan, terutama dalam menghadapi eksploitasi kerentanan baru. Sepanjang paruh pertama 2026, jumlah kerentanan Common Vulnerabilities and Exposures (CVE) juga meningkat tajam, termasuk ancaman pada perangkat lunak open source.

Dengan semakin kompleksnya lanskap digital, penguatan keamanan siber dinilai menjadi kebutuhan penting bagi pemerintah, pelaku usaha, maupun pengguna layanan digital di Indonesia. (mas)