Media sosial belakangan ini ramai membahas kampanye XLSMART melalui iklan tematik “balapan” layanan 5G yang menggambarkan aksi menyalip posisi puncak. Pesannya, XLSMART sedang merayakan keberhasilannya merebut sejumlah predikat bergengsi dalam Ookla Speedtest Awards paruh pertama 2026.
Pada semester I 2026 menurut Ookla, jaringan XL meraih empat penghargaan sekaligus, yakni Best Mobile Network in Indonesia, Best 5G Network in Indonesia, Fastest 5G in Indonesia, dan Best 5G Video Experience in Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan berdasarkan jutaan pengujian pengguna Speedtest di Indonesia. Untuk kategori Best Mobile Network, XL mencatat skor 71,74, sedangkan Best 5G Network mencapai 72,12.
Metodologi Ookla menunjukkan penilaian yang lebih luas. Best Mobile Network dan Best 5G Network menggunakan Connectivity Score yang terdiri atas 50 persen skor kecepatan, 25 persen pengalaman video, dan 25 persen pengalaman menjelajah web. Sementara Fastest 5G memang lebih menitikberatkan pada kecepatan, dengan komposisi 70 persen download, 20 persen upload, dan 10 persen latency loading. Best 5G Video Experience juga mengukur waktu mulai video, kelancaran pemutaran, dan kualitas resolusi.
Dalam industri telekomunikasi, penghargaan eksternal adalah aset komunikasi yang sangat berharga. Ia memberikan sesuatu yang selama ini sulit diperoleh melalui iklan biasa alias third-party validation.
Bagi seorang challenger seperti XLSMART, validasi semacam ini bahkan lebih penting. Perusahaan hasil merger XL Axiata dan Smartfren sedang membangun identitas baru sekaligus mencoba mengubah persepsi pasar. Jika sebelumnya kompetisi lebih sering dibaca sebagai pertarungan tiga operator besar dengan Telkomsel sebagai market leader, kemenangan di Ookla memberikan XLSMART kesempatan untuk mengatakan bahwa peta persaingan telah berubah.
Tidak mengherankan jika award tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa yang jauh lebih sederhana dan mudah dicerna publik, piala kemenangan. Secara komunikasi merek, strateginya cerdas. Angka teknis diubah menjadi cerita. Skor Connectivity Score diterjemahkan menjadi posisi di podium. Dan penghargaan yang sebenarnya memiliki metodologi kompleks diubah menjadi satu pesan sederhana, kami mampu menyalip.
Namun, di sinilah comparative advertising selalu memiliki dua sisi.
Ketika sebuah merek mengatakan dirinya “terbaik”, publik secara otomatis menaikkan standar ekspektasi. Semakin tinggi klaim, semakin besar pula jarak antara janji komunikasi dan pengalaman nyata yang akan diperiksa konsumen.
Jika kita membongkar lapisan iklannya, persaingan 5G saat ini sebenarnya jauh lebih serius daripada sekadar adu kreativitas di media sosial. Di belakangnya ada perang spektrum, pembangunan BTS, integrasi jaringan, investasi, kapasitas, dan strategi monetisasi.
XLSMART misalnya, memang sedang melakukan ekspansi 5G yang agresif. Hingga akhir Juni 2026, perusahaan memiliki sekitar 14.890 BTS 5G dan 193.977 BTS 4G. Layanan 5G telah menjangkau 52 kota, dengan cakupan populasi sekitar 23 persen. Ekspansi tersebut juga semakin diarahkan ke luar Jawa, termasuk Balikpapan dan Banjarmasin.
Angka ini menjelaskan mengapa narasi “balapan” terasa relevan. XLSMART bukan hanya membawa pulang trofi Ookla, tetapi juga sedang mempercepat pembangunan jaringan 5G secara agresif.
Indosat juga telah membangun basis 5G yang signifikan. Berdasarkan laporan perusahaan untuk 2025, Indosat memiliki 6.872 BTS 5G pada akhir tahun tersebut. Sementara Telkomsel tercatat memiliki 4.913 BTS 5G pada akhir 2025. Angka-angka ini harus dibaca dengan memperhatikan perbedaan periode pelaporan, tetapi tetap memberikan gambaran mengenai agresivitas ekspansi masing-masing operator.
Hal lebih menarik adalah perubahan peta spektrum setelah lelang 700 MHz dan 2,6 GHz pada Juli 2026.
Telkomsel tetap menjadi pemilik spektrum terbesar dengan total 265 MHz, setelah memperoleh tambahan 20 MHz pada 700 MHz dan 80 MHz pada 2,6 GHz. XLSMART kini berada di posisi kedua dengan 232 MHz setelah memperoleh tambahan 30 MHz di 700 MHz dan 50 MHz di 2,6 GHz. Indosat berada di posisi ketiga dengan 215 MHz.
Di sini terdapat perbedaan strategi yang menarik.
XLSMART mendapatkan tambahan terbesar di pita 700 MHz. Frekuensi rendah ini memiliki karakteristik propagasi yang lebih baik untuk memperluas jangkauan. Sementara Telkomsel mendapatkan blok terbesar di 2,6 GHz, yang memberikan amunisi besar untuk kapasitas jaringan.
Dengan demikian, perang 5G tidak sesederhana siapa memiliki lebih banyak spektrum. Pertanyaannya adalah bagaimana spektrum tersebut diubah menjadi pengalaman pelanggan.
Reliability
Ookla memberikan validasi terhadap performa jaringan berdasarkan pengalaman yang terukur. Dan XLSMART berhak menggunakan validasi tersebut untuk memperkuat posisinya. Tetapi pengalaman jaringan seorang konsumen tidak pernah hanya terdiri dari satu angka.
Koneksi yang cepat tetap harus tersedia ketika konsumen berpindah lokasi. Ia harus tetap bekerja ketika pengguna masuk ke gedung, berada di area padat, melewati jam sibuk, atau berpindah dari satu sel ke sel lainnya.
Ada perbedaan antara peak performance dan consistent performance.
Ada perbedaan antara memenangkan pengujian jaringan secara agregat dan menjadi jaringan yang paling dipercaya seseorang untuk bekerja, melakukan video call, menonton streaming, bermain gim, melakukan transaksi digital, atau sekadar membuka peta ketika sedang berada di perjalanan.
Inilah tantangan terbesar dalam menerjemahkan sebuah award menjadi klaim pemasaran.
Bukan karena award tersebut tidak valid. Justru karena valid, ekspektasi publik terhadapnya menjadi semakin tinggi.
Jika XLSMART mengatakan bahwa mereka adalah jaringan terbaik berdasarkan validasi independen, maka pekerjaan berikutnya adalah memastikan konsumen merasakan konsistensi kualitas tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Award menjadi pintu masuk, tetapi pengalaman pelangganlah yang menentukan apakah klaim tersebut bertahan.
Menariknya, Telkomsel tidak terlihat membalas kampanye tersebut dengan perang iklan yang sama frontalnya. Ini (mungkin) bukan berarti Telkomsel tidak memiliki amunisi.
Sebaliknya, posisi Telkomsel membuat strategi komunikasinya bisa berbeda. Tambahan 80 MHz pada pita 2,6 GHz memperkuat kapasitas jaringan, sementara basis infrastruktur dan pelanggan yang besar membuat kebutuhan Telkomsel juga berbeda dengan challenger.
Telkomsel tidak harus memenangkan setiap percakapan di media sosial. Ia harus memastikan jaringan yang digunakan oleh basis pelanggan yang sangat besar tetap mampu menangani kepadatan trafik dan memberikan pengalaman yang konsisten.
Karena itu, jika XLSMART memilih narasi “menyalip”, Telkomsel bisa saja memilih narasi yang berbeda yakni reliability, coverage, capacity, dan ketenangan pikiran pelanggan.
Ini bukan berarti salah satu strategi lebih baik. Keduanya berbicara kepada kebutuhan yang berbeda.
Bagi challenger, kemenangan speed test adalah momentum untuk membangun consideration dan merebut pelanggan. Bagi incumbent, konsistensi pengalaman pelanggan dalam skala besar adalah aset yang jauh lebih sulit dibangun dan jauh lebih mahal untuk dipertahankan.
Pada akhirnya, perang iklan 5G bukan hanya tentang siapa yang memiliki materi kreatif paling berani.
Ia adalah pertarungan untuk mengubah investasi menjadi pengalaman, pengalaman menjadi persepsi, dan persepsi menjadi loyalitas pelanggan.
XLSMART telah mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dari Ookla: bukti eksternal bahwa performa jaringannya berada di posisi yang sangat kompetitif. Tantangan berikutnya adalah mengubah bukti tersebut menjadi pengalaman yang konsisten di semakin banyak lokasi dan semakin banyak situasi penggunaan.
Telkomsel, di sisi lain, memiliki pekerjaan yang berbeda. Dengan spektrum terbesar pasca lelang 2026 dan basis infrastruktur yang matang, tantangannya adalah memastikan keunggulan kapasitas dan skala tersebut benar-benar terasa ketika trafik semakin padat dan kebutuhan digital semakin kompleks. Peta persaingan pasca-lelang sendiri menunjukkan bahwa keunggulan spektrum belum otomatis menjadi keunggulan layanan; yang menentukan adalah kemampuan mengubah spektrum menjadi kualitas dan pengalaman pelanggan.
Bagi konsumen, perang ini justru menguntungkan. Semakin agresif operator berkompetisi, semakin banyak alasan bagi konsumen untuk membandingkan. Jangan membeli hanya karena sebuah operator memegang trofi. Jangan pula memilih hanya karena sebuah merek memiliki jumlah BTS atau spektrum terbesar.
Gunakan ukuran yang paling sederhana yakni bagaimana koneksi bekerja di rumah, tempat kerja, dan rute perjalanan sehari-hari. Iklan boleh saja kreatif di media sosial, tetapi kualitas hanya teruji di layar ponsel kita sendiri.
@IndoTelko