JAKARTA (IndoTelko) - Pemerintah Indonesia mendorong penguatan ekosistem kecerdasan artifisial (AI) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, industri teknologi, dan pemerintah. Salah satu langkah terbaru diwujudkan melalui peluncuran NVAITC Joint Center UGMIndosat Ooredoo HutchisonNVIDIA di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan pusat AI berbasis universitas tersebut menjadi langkah konkret untuk membangun kedaulatan digital Indonesia. Menurutnya, kedaulatan AI bukan berarti menutup diri dari teknologi global, tetapi memperkuat kemampuan nasional dalam riset, talenta, komputasi, dan inovasi.
“Kedaulatan AI harus dibangun dengan memperkuat kemampuan dalam negeri agar teknologi dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan ekonomi nasional,” ujar Meutya saat peluncuran pusat AI di Innovation and Creativity Center (GIK) UGM, Kamis (13/8).
Meutya menjelaskan perkembangan AI memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Pemerintah menilai pemanfaatan teknologi harus mampu meningkatkan produktivitas, menciptakan peluang kerja berkualitas, serta memperkuat daya saing nasional.
Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025 yang disampaikan dalam acara tersebut, nilai ekonomi digital Indonesia mencapai 99 miliar dolar AS pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi 340 miliar dolar AS pada 2030.
Untuk mempercepat transformasi digital, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengarahkan strategi melalui tiga agenda utama, yaitu Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga. Agenda tersebut mencakup perluasan konektivitas, penguatan infrastruktur digital, peningkatan produktivitas, serta perlindungan data dan keamanan sistem.
NVAITC Joint Center menjadi bagian dari inisiatif Indonesia AI Center of Excellence yang bertujuan mempercepat pengembangan riset, inovasi, dan talenta AI. Fasilitas ini menghubungkan akademisi, industri, mitra teknologi, serta pemerintah dalam membangun kemampuan AI nasional.
Salah satu fasilitas yang dikembangkan adalah GPU Merdeka yang memberikan akses komputasi berperforma tinggi bagi mahasiswa dan peneliti melalui konsep GPU-as-a-Service.
Selain infrastruktur, pengembangan sumber daya manusia juga menjadi fokus utama. Kemkomdigi bersama UGM mengembangkan Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) untuk mencetak AI Practitioner dan AI Specialist melalui pelatihan berbasis kasus nyata dengan dukungan akademisi serta praktisi industri.
Dalam pengembangannya, talenta AI Indonesia diarahkan untuk menciptakan solusi yang menjawab kebutuhan nasional. Beberapa proyek yang dikembangkan antara lain Tech4Disaster untuk mitigasi bencana, SmartAgri untuk sektor pertanian, serta e-Nose TB untuk membantu proses skrining tuberkulosis.
Meutya menegaskan pengembangan AI tetap harus berjalan seiring dengan penguatan keamanan data, tata kelola teknologi, dan kepercayaan masyarakat. Indonesia tetap membutuhkan kerja sama global, namun kolaborasi tersebut harus mampu memperkuat kapasitas nasional.
Menurutnya, keberhasilan pusat AI tidak hanya diukur dari keberadaan fasilitas teknologi, tetapi dari kemampuan melahirkan talenta unggul, riset terapan, inovasi, serta solusi digital yang digunakan masyarakat dan industri. “Let us build AI in Indonesia, for Indonesia,” ujar Meutya. (mas)